Istiqomah

Saya Widyaiswara di PPPPTK PKn dan IPS Malang. Menulis dan mengedit adalah pekerjaan yang saya sukai. Dari hobi bisa jadi sumber penghasilan dan meningkatkan ko...

Selengkapnya
Navigasi Web
Jangan Jadi Bu Nita
Serba-serbi Pembelajaran Daring

Jangan Jadi Bu Nita

Ngakak. Itulah respon saya pagi ini saat membaca postingan di grup OJS Didaktika Dikdas. Seperti biasa, bila ada yang memoting sesuatu yang menarik, unik, lucu, atau heboh, pastilah saya membaginya pada grup lain. Tentu setelah menyaringnya terlebih dulu. Saring before sharing.

Beberapa detik setelah saya share di grup sebuah grup guru penulis, Mbak Mugi pun kirim emoticon ketawa. "Kocak!: Begitu komentar singkatnya.

Tak lama, Mbak Rifqi pun menyusul.

"Bagus, Fahmi! Keren!"

Hahaha. Asem juga nih jadi guyonan pagi-pagi. Tap tunggu dulu. Ada yang menarik nih. Salah satu anggota grup, saya tidak sebut namanya, karena akan terkait dengan nama instansi.

"True story! Pernah kejadian di sekolah saya." Komentar jelas menarik.

"Wah, kok bisa?"

Begitulah akhirnya kami terlibat diskusi singkat. Meme di atas, bisa jadi muncul mewakili kegundahan anak didik yang mulai gelisah dan lelah mengikuti pembelajaran daring. Guyuran tugas demi tugas yang diberikan para guru, bila abai memperhitungkan beban psikologi anak, justru akan membuat anak lelah secara psikhis. Ketika mereka sudah jenuh, bukan hanya malas belajar, hasil belajar pun bisa jeblok. Tak hanya pada ranah kognitif, bisa jadi ranah sikap pun bisa hancur. Karena lelah dan jenuh, mereka dapat saja mengambil jalan pintas. Mengerjakan ngasal atau ... kopi paste pekerjaan temannya. Praktis dan efektif.

Meme berisi anekdot singkat di atas juga dengan telak menyadarkan kita, para pendidik untuk hati-hati dalam mengelola grup media sosial sebagai salah satu media komunikasi dalam pembelajaran daring. Untuk alasan keamanan, ada baiknya hanya guru atau wali kelas yang jadi adminnya. Dengan demikian, dia dapat mengontrol grup tersebut lebih bijak. Kelolalah grup WA seperti halnya ruang kelas dan lingkungan sekolah. Ada saatnya anak-anak harus serius dengan kegiatan pembelajaran, ada saatnya pula mereka dapat bercanda seperti saat istirahat sekolah. Tandai postingan-postingan yang terkait pembelajaran. Dengan demikian, guru yang berperan sebagai admin atau wali kelas dapat mengontrol beban tugas siswanya. Biarkan anak-anak bercanda, saling curhat, saling bercerita tentang aktivitasnya di masa pandemi ini. Biarkan kerinduan mereka pada teman-temannya tersalurkan. Sesekali larutlah dalam candaan mereka. Pasti grup medsos Anda bakal seru. Hidup. Dan bikin anak kerasan dan bahagia bersama di dalamnya.

Tentu masih banyak trik hebat yang dapat kita lakukan untuk menciptakan grup mediasosial yang sehat dan bermanfaat buat anak didik kita. Kalau tidak, jangan nyesal kalau tiba-tiba Anda mengalami nasib seperti Bu Nita? Sedikit beruntung bila mereka hanya membuat 'grup tandingan'. Sebuah grup kelas bayangan yang sengaja dibuat para siswa (Hahaha, bisa jadi grup pelatihan guru atau grup kelas mahasiswa). Sebuah grup yang dibuat tak hanya untuk mendiskusikan penyelesaian tugas-tugas, tetapi juga ajang untuk menghibah guru atau dosen, atau trainer.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Betul, Bu.

04 Feb
Balas

Betul Bu setuju. Grup media sosial perlu juga membahas masalah penanaman karakter ya.

18:07
Balas

lagi viral. admin seharusnya wali kelas. perlu juga penanaman etika & budi pekerti pd siswa.

04 Feb
Balas



search

New Post