ARUMI GADIS PENAKLUK (5)
#TantanganGurusiana
#Hari ke-280
Selasa, 3 November 2020
Pagi yang cerah menyapa Arumi seiring kokok ayam jantan bersahutan membangunkannya dari tidur yang lelap. Bergegas dia keluar kamar untuk mencari Ambu karena perutnya terasa mulas. Didapatinya wanita separuh baya itu di dapur nampak sedang meniup bara api dari kayu bakar di perapian. Ambu meletakkan teko diatasnya untuk menjerang air.
“Selamat pagi Ambu, “ sapa Arumi ramah
“Ehh…. Neng Arumi sudah bangun, bagaimana bisa tidur gak, “ kata Ambu tersenyum.
“Bisa Ambu, emmhh kalau mau ke belakang untuk buang air besar sebelah mana ya ?” tanya Arumi sambil memegang perutnya yang terasa kian mulas.
“Ohhh, itu ke arah sungai. Ayoo Ambu antar, “ sahutnya
Dengan air muka meringis, Arumi akhirnya mengikuti Ambu berjalan di belakangnya. Tak berapa lama mereka sampai di sebuah sungai kecil yang airnya mengalir tidak begitu deras.
Arumi terlihat kikuk dan tak mengerti bagaimana caranya buang air besar di sungai. Namun, Ambu dengan sabar menunggunya hingga usai. Meski nampak malu-malu, akhirnya Arumi selesai juga menunaikan tugasnya.
Dalam perjalanan pulang menuju rumah, Arumi begitu menikmati suasana pagi di desa. Inilah kali pertama dia begitu merasakan belaian hangat sang mentari pagi yang dengan penuh kelembutan meresap dalam tubuh gadis mungil berusia 23 tahun itu. Dengan ceria, Arumi tak hentinya tersenyum pada orang yang berpapasan dengannya ketika berjalan di pematang sawah. Tak kalah gesit Ambu berjalan di depannya menyusuri hijaunya pepohonan. Sesekali Arumi melihat burung-burung kecil melintas di antara bulir padi yang mulai menguning,
Tak terasa kini mereka sampai di rumah. Bergegas Arumi membersihkan diri di bawah air pancuran yang mengalir dengan gemericik suara menentramkan jiwa. Dibasuhnya muka berkali-kali agar terasa segar. Usai mandi, Arumi menuju kamar untuk menyiapkan pakaian yang akan dikenakannya menuju ke Polindes.
“Ayo sini Arumi, sarapan dulu,” sapa Abah yang terlihat begitu menikmati singkong rebus dan segelas kopi pahit.
“Ya Abah, terima kasih, “ ucapnya seraya mengambil sepotong singkong rebus dan teh panas pahit.
“Sebentar lagi kita akan berangkat menuju Cidaun dengan jalan kaki karena memang tidak ada kendaraan untuk sampai ke sana, “ ucap Abah ramah.
“Ambu juga ikut ya Abah !” seru Ambu dari belakang
“Ya boleh, sahut Abah sambil menyeruput kopinya sampai habis.
“Ayo kita berangkat jika sudah siap, “ kata Abah sambil bangkit berdiri.
Kini Arumi bergegas mengambil tas yang berisi pakaian dan perlengkapan lain yang diperlukan. Sebelumnya dia mematut diri di cermin tua yang ada di kamar, dia sisir rambutnya yang ikal tergerai sebahu agar rapi. Meski dengan polesan bedak dan lipstick tipis, Arumi tetap cantik dengan hidung sedikit mancung dan alis seperti semut beriringan ditambah kulit putih bersih nan mulus. Siapapun yang melihatnya pasti akan jatuh cinta karena wajahnya yang begitu cantik bak bidadari yang baru turun dari khayangan. Setelah dirasa cukup, dia keluar kamar sambil membawa barang bawaannya.
Bagaimana perjalanan Arumi selanjutnya menuju Cidaun ? Ikuti kelanjutannya esok hari.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
Komentar
Ditunggu lanjutannya..salam literasi!
Terima kasih bu Anita sudah berkunjung
Kereeeen.... Saya terbawa suasana pagi di tempat Ambu abah
Mksh bu Susi, senang dapat apresiasi dari penulis top MGI
Cantiknya arumi bisa terbayang, kikuknya bab di sungai bikin tersenyum
Betul sekali bu Fifit
Baguuuus.....apik..Nunggu kelanjutannya...Salam kenal...dan salam literasi yaaa..:)
Salam kenal kembali bu Ike. Mksh sdh mampir