Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Navigasi Web
Inilah Cerita Hati Adirai (Season 2)   Orang Tua Hebatku
Amelia Anggina, siswi kelas 9-3 SMP Budisatrya Medan, penulis cerita Orang Tua Hebatku. (Sumber : Amelia)

Inilah Cerita Hati Adirai (Season 2) Orang Tua Hebatku

Inilah Cerita Hati Adirai (Season 2 ) : Orang Tua Hebatku

Tak mudah menjadi orang tua yang sibuk bekerja namun tetap memiliki waktu yang cukup untuk anak-anaknya. Tak sedikit anak-anak yang broken home karena kesibukan orang tua dengan pekerjaannya. Namun, Amelia Anggina siswi kelas 9-3 SMP Budisatrya Medan, berkisah lain. Betapa keluarganya selalu bahagia , saling menghormati dan menyayangi, meski ayah dan ibu tetap sibuk dengan pekerjaannya. Cerita-cerita kecil seperti ini, bagi penulis mampu membangkitkan gairah literasi siswa. Berangkat dari pengalaman-pengalaman keseharian yang kemudian dituliskan, bukan tidak mungkin sebagai batu loncatan untuk menciptakan karya besar. Tinggal bagaimana guru menyemai benih literasi ini dan lingkungan sekolah sebagai lahan yang subur untuk tumbuh kembangnya. Satu lagi, tak peduli ada atau tidak apresiasi semangat literasi harus bersemi di dalam hati.

ORANG TUA HEBATKU

Oleh Amelia Anggina

Amelia Anggina, namaku. Aku anak ke-2 dari 5 bersaudara. Aku adalah siswi kelas IX-3 SMP, di Yayasan Perguruan Budisatrya Medan.

Orang tua memiliki peran penting dalam kehidupan. Terutama bagi seorang anak untuk tumbuh kembangnya, begitu juga denganku. Ayahku adalah seorang perantauan dan ibuku seorang pegawai negeri.

Meskipun waktu mereka bisa terbilang sedikit untuk berkumpul dengan keluarga, tapi kami tidak pernah kehilangan peran mereka sebagai orang tua. Ayah dan ibuku selalu berusaha untuk meluangkan waktu agar tetap bisa akrab dan dekat kepada anak-anaknya. Meskipun Itu hanya bersenda gurau. Bercerita masalah pendidikan ataupun berbagi pengalaman masing-masing.

Ayah dan ibuku selalu mengajarkan kami untuk saling menyayangi dan menghormati. Mereka juga selalu mengajarkan untuk selalu berbagi kepada sesama. Pastinya, ayah dan ibu tak pernah lupa mengingatkan kami dalam menjalankan kewajiban sebagai umat Islam.

Aku juga memiliki seorang bunda yang menjadi pengganti orang tua. Di saat ayah dan ibuku sedang bekerja, bunda adalah orangtua sekaligus sahabatku. Bunda tempatku bertukar cerita atau hanya sekadar bercanda.

Aku suka mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah. Walaupun terkadang sulit bagiku untuk memahami pelajaran yang diberikan guruku. Namun, itu tak menjadi alasan bagiku untuk meraih impianku. Aku bercita-cita menjadi dosen di sebuah universitas ternama.

Terkadang aku iri dengan temanku yang hanya modal contekan, selalu bisa mendapatkan nilai tinggi. Lalu kenapa aku yang sudah berusaha tapi terkadang tetap saja mendapatkan nilai rendah? Begitu hatiku berkata. Namun dengan nasihat ibu dan bundaku, akhirnya aku tak lagi berkecil hati. Mereka selalu bilang padaku: “Untuk apa nilai tinggi jika tak mengerti. Berapapun nilai yang kita peroleh, yang terpenting itu adalah hasil usaha kita sendiri.”

Ketika aku merasa malas belajar, aku selalu mengingat mimpiku dan perjuangan orangtuaku yang dengan susah payah mencari uang agar anak-anaknya bisa hidup layak dan tetap bersekolah. Dengan begitu, alhamdulillah semakin hari nilaiku juga semakin membaik. Walaupun tak sebagus nilai teman-temanku yang pintar. Aku selalu puas dengan nilaiku, walau tak jarang pula aku merasa sedih ketika nilaiku rendah.

Dibalik itu semua, ada orangtua hebat yang selalu mendukung anak-anaknya dalam meraih cita-cita yang ingin digapai. Ibuku selalu memberi support ketika aku tak yakin dengan kemampuanku. Misalnya ketika aku mengeluh takut jika cita-citaku takkan tercapai, ibuku selalu bilang: “Kalau kakak mau pasti bisa. Kalau tak dicoba, yaa.. gak bakalan tau hasilnya, Kak." Ibu selalu begitu menyemangati kami. Banyak nasihat dan kata-kata semangat dari ibu yang kusimpan dan akan selalu menemani dalam setiap langkah dan perjuanganku.

Bagiku, mereka adalah orang tua hebatku. Semoga Allah selalu memberikan mereka kesehatan sehingga nantinya bisa menyaksikan kesuksesanku. Aku tak akan pernah melupakan jerih payah ayah, ibu dan juga bunda. Percayalah, suatu saat nanti aku akan membahagikan mereka. Aamiin.

#edisigerakanliterasisekolah#

#edisimembacamenambahilmumenulismengikatilmu#

Langit Biru di Sekolahku, SMP Budisatrya Medan, Awal Nopember 2022

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Kereeen cerpennya, Bunda. Salam literasi

02 Nov
Balas

Alhamdulillah. Terima kasih untuk kunjungan dan apresiasinya..., Pak Guru. Semoga sehat, bahagia dan sukses selalu. Barakallah.

02 Nov



search

New Post