Trianto Ibnu Badar at-Taubany

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mengenal Sata Kurawa, 100 Bersaudara - 14
Arya Citraksa salah satu Sata Kurawa kembaran Arya Citraksi

Mengenal Sata Kurawa, 100 Bersaudara - 14

14

CITRAKSA

******

CITRAKSA adalah kurawa yang begitu terkenal. Ia selalu mendampungi Prabu Duryudana dalam setiap pertemuan Bersama saudara kembarnya Citraksi. Citrksa adalah salah satu putra Prabu Drestarasta, raja negara Astinapura dengan Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dengan Dewi Gandini dari negara Gandaradesa.

Citraksa mempunyai saudara sebanyak 100 orang yang terditi dari 99 orang laki-laki dan seorang Wanita. Mereka disebut Sata Kurawa yang artinya 100 darah Kuru (sata = 100, kurawa = darah Kuru).

Di antara saudara-saudara Citraksa yang terkenal lainnya adalah Duryudana atau Suyudana raja negara Astinapura, Bogadatta atau Bogadenta raja negara Turilaya, Bomawikata, Wikataboma, Citraksi, Citraboma, Citrayuda, Carucitra, Dursasana Adipati Banjarjumut, Durmagati, Durmuka, Durgempo, Gardapati raja negara Bukasapta, Gardapura patih negara Bukasapta, Kartamarma raja negara Banyutinalang, Kartadenta, Surtayu, Surtayuda, Windandini raja negara Purantara, Anuwenda atau Naranurwenda mahapatih negara Purantara, Wresaya raja negara Glagahtinalang, dan Dewi Dursilawati satu-satunya Kurawa yang terlahir putri istri dari adipati Jayadrata atau Tirtanata dari kerajaan Sindu (Bonakeling) salah satu wilayah bagian dari kerajaan Astinapura.

Citraksa memiliki saudara kembar bernama Citraksi. Citraksa bicaranya gagap, terbata-bata (tergopoh-gopoh), diulang-ulang dan tidak jelas. Begitupun dengan tindak-tanduknya sehingga sering salah.

Citraksa sebagai murid Resi Drona, sangat terampil dalam seni keprajuritan, terutama dalam mempermainkan senjata panah dan lembing. Tetapi karena kecorobohannya, ketika memegang senjata sering salah dan terbalik.

Namun, meski memiliki keahlian yang tinggi, Citraksa juga dikenal memiliki sifat yang kontroversial. Ia sebagai sosok yang ladak, congkak, licik, mau menangnya sendiri, dan agak pengecut. Sifat yang tak ubahnya saudaranya yang bernama Durmagati yang juga berwatak gecul dan penakut.

Citraksa suka menyombongkan diri bahwa ia seorang Pangeran dan di samping itu ia suka pula memaki-maki. Memaki-maki sebenarnya bukan perbuatan yang tercela. Bagi setengah orang memaki-maki malahan kelihatan pantas dan kalau orang sudah terbiasa memaki maki, sukar rasanya untuk menghilangkan kebiasaan itu.

Citraksa adalah satu Kurawa yang turut serta dalam pengeroyokan Kresna pada saat menjadi duta Pandawa dalam melakukan komunikasi perdamian dengan Kurawa. Pengutusan Sri Kresna ini setelah para pandawa menjalani hukuman selama 12 tahun di hutan Kamiyaka, dan 1 tahun melakukan persembunyian pada suatu wilayah negara yang tidak diketahui oleh para Kurawa. Hukuman tersebut sebagai buah kekalahan Pandawa saat bermain dadu dengan Kurawa yang memang telah diatur oleh patih Sangkuni.

Perlakuan para Kurawa yang demikian terhadap seorang duta (utusan) membuat Sri Kresna marah sehingga mengubah dirinya (tiwikrama) menjadi Brahala Sewu yang berwujud Raksasa Hitam sebesar Gunung yang mengerikan. Brahala Sewu berwujud raksasa dengan seribu kepala, dua ribu tangan, dan dua ribu kaki sambil memegang berbagai macam senjata ditangannya. Para Kurawa pun lari tunggang-langgang ketakutan melihat sosok Sri Kresna setelah bertiwikrama.

Hubungan Citraksa sangat erat dengan saudara kembarnya Citraksi dan juga dengan Citrayuda, dua saudaranya yang juga terlibat dalam perang Bharatayuda.

Pada awal pertempuran, Citraksa dan beberapa saudaranya tampil sebagai komandan pasukan balatentara Kurawa. Namun, nasib tragis menimpa Citraksa ketika dia bersama dengan Citrayuda, Surtayu, Citrakundala, dan Dirgalasara. Mereka smua tewas dalam pertempuran melawan Arya Wratsangka, senapati perang Pandawa, yang merupakan putra Prabu Matswapati dari negara Wirata.

Kematian Citraksa dan saudara-saudaranya Kurawa menjadi salah satu momen tragis dalam Baratayudha, menggambarkan pahitnya perang dan harga yang harus dibayar atas ambisi dan konflik antar keluarga.

Kematian Citraksa dan saudara-saudaranya Kurawa menjadi sumber inspirasi dan refleksi tentang nilai-nilai keadilan, persaudaraan, dan perdamaian dalam menghadapi konflik dan pertempuran dalam kehidupan. Nilai-nilai siapa yang menanam maka ia juga yang harus menuai. Dan siapa yang hutang maka ia harus membayar, selain juga sumpah serapah para kesatria, ibu, dan juga istri. Sebuah gambaran tata kehidupan yang komplek.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Terimakasih admin

31 Aug
Balas

Luar biasa, sukses selalu untuk Bapak

31 Aug
Balas

Terimakasih apresiasinya Opa Sunin

01 Sep

Sllu menarik

31 Aug
Balas

Terimakasih apresiasinya Bunda

01 Sep

Aku tak jenuh dengan kisah klasik ini pak Trianto. Banyak hikmah yang bisa dipetik dari kisah ini

31 Aug
Balas

Terimakasih atas analisa dan apresiasinya pak Lukman

31 Aug

suka baca kisahnya, Bapak. Terima kasih telah mengulasnya. Salam sukses.

31 Aug
Balas

Terimakasih apresiasinya Bunda

01 Sep

Luar biasa Gus, saya tidak bisa berkomentar yang lebih dalam, karena artikelnya sangat bagus....Silent saja Gus ha-ha-ha

31 Aug
Balas

Silent dimana Gus. Kantongnya nggak cukup untuk membungkusnya ... hahaha

31 Aug



search

New Post