Surga di Atas Awan dan Dilema Larangan Studi Tour (1156)
Surga di Atas Awan dan Dilema Larangan Studi Tour
Oleh Rismalasari
Siapa yang tak kenal Dieng? Dataran tinggi nan memesona ini terletak di perbatasan Wonosobo dan Banjarnegara, Jawa Tengah. Dengan julukan "Negeri di Atas Awan," Dieng menawarkan panorama alam yang luar biasa: kawah aktif, candi-candi bersejarah, hingga fenomena unik seperti embun es di musim kemarau. Tak heran jika kawasan ini menjadi salah satu destinasi wisata favorit, terutama bagi rombongan studi tur sekolah yang ingin belajar sambil berwisata.
Selama bertahun-tahun, sektor pariwisata telah menjadi denyut nadi perekonomian warga Dieng. Homestay, warung makan, jasa pemandu wisata, hingga penjual suvenir menggantungkan penghasilan dari kunjungan wisatawan, terutama saat musim liburan dan musim studi tur sekolah. Kehadiran rombongan pelajar dalam jumlah besar membawa berkah tersendiri. Mereka tidak hanya berkeliling situs-situs bersejarah, tetapi juga menikmati kuliner lokal, membeli hasil kerajinan warga, hingga menginap di penginapan-penginapan sederhana milik penduduk.
Namun, sejak munculnya edaran larangan studi tur oleh sejumlah dinas pendidikan di berbagai daerah, angin segar pariwisata Dieng terasa mulai berbalik arah. Dengan alasan keamanan, efektivitas belajar, hingga kekhawatiran pemborosan biaya, banyak sekolah yang membatalkan agenda studi tur mereka. Bagi warga lokal, kondisi ini tentu menjadi pukulan telak. Penurunan jumlah wisatawan secara signifikan berimbas pada menurunnya pendapatan warga yang menggantungkan hidup dari sektor pariwisata.
Bayangkan saja, dalam satu bulan pada musim liburan, Dieng bisa kedatangan puluhan bus rombongan pelajar. Mereka bukan hanya memberikan pemasukan bagi pengusaha homestay, tetapi juga bagi petani yang memasok sayuran untuk warung makan, hingga pemuda setempat yang bekerja paruh waktu sebagai pemandu wisata. Larangan studi tur otomatis memangkas rantai ekonomi ini, membuat roda penghasilan warga tersendat.
Di sisi lain, larangan studi tur sejatinya bisa menjadi momen refleksi. Pemerintah daerah bersama pelaku wisata bisa mencari solusi agar wisata edukasi di Dieng tetap berjalan dengan konsep yang lebih aman, terjangkau, dan tentu saja edukatif. Mungkin ini saatnya menawarkan paket-paket wisata khusus sekolah dengan standar keselamatan lebih tinggi, harga yang transparan, serta kegiatan belajar yang benar-benar bermakna.
Karena sejatinya, Dieng bukan sekadar destinasi wisata, melainkan juga ruang belajar alami tentang sejarah, geologi, budaya, dan ekologi. Jika dikelola dengan bijak, studi tur ke Dieng bisa menjadi pengalaman pendidikan luar kelas yang tak tergantikan, sekaligus menjaga denyut ekonomi warga lokal tetap hidup.
Jangan sampai larangan studi tur justru mematikan semangat warga Dieng yang selama ini menjaga dan merawat surga kecil ini untuk kita nikmati bersama.

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
