Akhir Perjalanan Sekolah Penggerak (1191)
Akhir Perjalanan Sekolah Penggerak
Oleh Rismalasari
Pergantian pemimpin dalam sebuah kementerian kerap membawa angin segar sekaligus perubahan arah kebijakan. Hal inilah yang terjadi ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang baru resmi menjabat, menggantikan pemimpin sebelumnya yang meluncurkan berbagai inisiatif reformasi, termasuk Program Sekolah Penggerak (PSP).
Program Sekolah Penggerak adalah salah satu program unggulan yang diluncurkan dengan tujuan meningkatkan kualitas pembelajaran dan kepemimpinan sekolah secara holistik. PSP memberikan pelatihan intensif kepada kepala sekolah dan guru, pendampingan, serta dukungan untuk transformasi budaya sekolah. Banyak sekolah yang tergabung dalam program ini merasakan manfaat besar, dari peningkatan kualitas pembelajaran, pelibatan orang tua, hingga perubahan iklim sekolah yang lebih positif.
Namun, dengan bergantinya menteri, arah kebijakan pun berubah. PSP tak lagi menjadi prioritas dan secara bertahap dihentikan. Tak sedikit pihak yang menyayangkan keputusan ini, terutama mereka yang telah terlibat langsung dalam proses transformasi sekolahnya. Padahal, PSP baru berjalan beberapa tahun dan belum mencapai skala nasional yang menyeluruh.
PSP Kok Dihentikan?
Menghentikan PSP secara tiba-tiba tanpa adanya transisi kebijakan yang jelas bisa menimbulkan kebingungan dan ketidakpastian di tingkat sekolah. Sekolah yang sudah bertransformasi melalui PSP bisa kehilangan arah karena tidak lagi mendapatkan dukungan, pelatihan, maupun pendampingan yang semula menjadi ciri khas program ini. Bahkan, dikhawatirkan perubahan yang telah terjadi akan kembali mundur.
Di sisi lain, keputusan ini mungkin didasarkan pada evaluasi internal atau perubahan fokus yang dianggap lebih relevan oleh pemimpin baru. Bisa jadi kementerian ingin menyederhanakan program, mengintegrasikannya ke dalam kebijakan yang lebih luas, atau bahkan memprioritaskan pendekatan yang berbeda terhadap reformasi pendidikan.
Dampak bagi Sekolah Penggerak
Dampaknya tentu tidak sepele. Bagi sekolah-sekolah yang sudah menjadi bagian dari PSP, muncul pertanyaan besar: ke mana arah perubahan yang sudah dimulai? Tanpa dukungan lanjutan, transformasi yang telah berjalan bisa kehilangan daya dorong. Guru-guru yang sebelumnya semangat karena merasa didampingi dan diapresiasi, bisa kembali pada rutinitas lama.
Lebih jauh lagi, penghentian PSP dapat melemahkan kepercayaan publik terhadap konsistensi kebijakan pendidikan. Ketika program berganti seiring pergantian pejabat, maka muncul kesan bahwa pendidikan nasional hanya menjadi ajang coba-coba, bukan pembangunan jangka panjang yang berkelanjutan.
Penutup
Perubahan dalam dunia pendidikan memang tak terelakkan, namun perubahan sebaiknya tidak mengorbankan upaya yang sudah membawa hasil positif. Alih-alih menghentikan, seharusnya program seperti Sekolah Penggerak dievaluasi, disempurnakan, dan disinergikan dengan kebijakan baru agar transformasi pendidikan tetap berjalan. Karena pada akhirnya, yang paling dirugikan bukan hanya sekolah atau guru, tetapi para siswa yang sejatinya menjadi pusat dari seluruh proses pendidikan.

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
