Buitenzorg dalam Bincang Sastra DKKB (1266)
Buitenzorg dalam Bincang Sastra DKKB
Oleh Rismalasari
Pada tanggal 17 Juni 2025, Aula Perpustakaan Daerah Kabupaten Bogor menjadi saksi kemeriahan dan kekhidmatan sebuah perayaan sastra yang sarat makna. Dalam sebuah acara yang digagas oleh Dewan Kesenian Kabupaten Bogor (DKKB), buku antologi puisi bertajuk *Buitenzorg*—buah karya bersama para penulis nasional—menjadi pusat perhatian dalam sebuah sesi bedah buku dan bincang sastra yang menggugah.
Acara ini bukan sekadar peluncuran buku, tetapi juga momentum penting dalam menggali lebih dalam esensi Bogor—kota hujan yang penuh sejarah, budaya, dan keindahan alam—melalui medium puisi. Dua narasumber ternama hadir dalam sesi bincang sastra: Prof. Dr. Males Sutiasumarga, seorang akademisi sastra yang juga kritikus terkemuka, dan Sahir Ramses Simanjuntak, penyair sekaligus editor utama buku *Buitenzorg*. Keduanya membedah karya ini dengan perspektif yang tajam dan menggugah, membuat para hadirin—yang terdiri dari sastrawan lokal, pelajar, mahasiswa, hingga komunitas seni—terbius oleh keindahan dan kedalaman makna setiap larik puisi.
Buitenzorg: Sebuah Persembahan untuk Kota yang Dikenang
*Buitenzorg*, yang dalam bahasa Belanda berarti "tanpa kekhawatiran", bukan hanya nama lama Bogor, tetapi juga simbol dari kenangan, keteduhan, dan kedamaian. Buku ini merupakan kumpulan puisi dari berbagai penulis yang menggambarkan Bogor dalam berbagai wajah: dari megahnya Kebun Raya, sejarah Istana Bogor, hujan yang selalu datang mendadak, hingga denyut kehidupan masyarakatnya yang sederhana namun hangat.
Prof. Dr. Males Sutiasumarga menjelaskan bahwa antologi ini memadukan puisi-puisi dengan gaya yang beragam: mulai dari liris romantik, simbolik, hingga naratif. Hal ini menjadikan *Buitenzorg* tidak monoton, melainkan kaya warna dan nuansa, sebagaimana wajah Bogor sendiri.
Mengupas Unsur Intrinsik: Estetika dan Daya Pikat Puisi
Dalam sesi analisis, unsur intrinsik puisi dalam buku ini dikupas mendalam. Mulai dari tema—yang berporos pada kecintaan terhadap kota dan refleksi kehidupan di Bogor—hingga gaya bahasa yang puitis, penuh majas metafora, personifikasi, dan simbolisme.
Sahir Ramses mengungkapkan, *"Puisi dalam buku ini tidak hanya mendeskripsikan Bogor, tetapi juga menghidupkan kembali kenangan kolektif tentang kota ini."* Dalam salah satu puisi misalnya, hujan digambarkan bukan hanya sebagai fenomena alam, tetapi sebagai "doa langit yang tak pernah usai", menghadirkan perasaan rindu dan tenteram.
Struktur puisi yang padat, pilihan diksi yang kuat, dan alur emosi yang dibangun secara berlapis juga menjadi kekuatan tersendiri. Pembaca tidak hanya diajak membaca, tetapi turut merasakan dan merenung.
Unsur Ekstrinsik: Budaya, Sejarah, dan Cinta Kota
Dari sisi ekstrinsik, *Buitenzorg* dipengaruhi oleh kekayaan sejarah dan budaya Bogor. Narasumber menjelaskan bahwa karya-karya dalam buku ini tak lepas dari latar belakang penulis yang memiliki kedekatan emosional dengan kota Bogor, baik sebagai tempat tinggal, tempat kenangan, maupun sumber inspirasi.
Nilai-nilai budaya Sunda, jejak kolonial Belanda, hingga fenomena sosial kekinian—seperti urbanisasi dan pelestarian lingkungan—menjadi latar yang membentuk jiwa puisi-puisi tersebut. Keterlibatan banyak penulis dari berbagai daerah juga menambah perspektif segar dan menjadikan Bogor sebagai kota yang dipandang dari banyak sudut.
Puncak Acara: Parade Puisi yang Menggetarkan Jiwa
Selepas sesi diskusi yang padat dan mencerahkan, acara ditutup dengan parade puisi dari para peserta dan undangan. Satu per satu mereka naik ke panggung, membacakan puisi yang terinspirasi dari *Buitenzorg* atau karya mereka sendiri yang bertemakan Bogor. Lantunan puisi yang dibawakan dengan penuh penghayatan menggema di aula, membalut ruang dengan atmosfer yang magis dan emosional.
Tepuk tangan meriah mengiringi setiap penampilan, tanda bahwa apresiasi terhadap sastra masih hidup dan bergelora di kalangan masyarakat. Bahkan, beberapa peserta muda dari komunitas literasi Kabupaten Bogor turut unjuk gigi, membuktikan bahwa semangat mencipta dan mencinta kota bisa ditularkan melalui kata.
Menjaga Warisan Lewat Sastra
Bedah buku *Buitenzorg* bukan hanya soal puisi. Ia adalah cermin cinta yang dalam terhadap kota, terhadap budaya, terhadap sejarah, dan terhadap bahasa. Lewat karya sastra, Bogor tak hanya dikenang, tetapi juga dihidupkan kembali dalam tiap bait, setiap kata, dan getar suara yang membacanya.
Acara ini menjadi bukti bahwa sastra bukan milik segelintir orang, melainkan jembatan rasa yang menyatukan kita sebagai warga dan pencinta tempat yang kita sebut rumah seni.
Sastra telah, dan akan selalu, menjadi medium ampuh untuk merayakan dan menjaga warisan budaya. DKKB melalui acara ini telah menunjukkan bahwa mencintai kota bisa dilakukan dengan cara yang paling sederhana, namun paling abadi: melalui puisi.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
