Mari Mengenal ABK ADHD (1336)
Mengenal Anak dengan ADHD di Kelas Inklusif
Oleh Rismalasari
Di tengah semangat pendidikan inklusif yang semakin berkembang, guru ditantang untuk memahami keberagaman peserta didik di kelasnya. Salah satunya adalah anak dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), yaitu kondisi yang ditandai dengan kesulitan memusatkan perhatian, dorongan untuk bergerak atau berbicara secara berlebihan, serta kecenderungan bertindak impulsif. ADHD bukanlah penyakit menular, melainkan gangguan perkembangan neurobiologis yang memengaruhi cara anak berpikir, merasakan, dan berperilaku.
Mengenal Gejala Anak dengan ADHDAnak dengan ADHD sering kali menunjukkan perilaku yang khas, meski berbeda pada tiap individu. Beberapa ciri yang biasanya terlihat, antara lain:
Sulit fokus dalam waktu lama pada satu aktivitas, terutama jika kegiatan terasa monoton.
Mudah teralihkan oleh suara, benda, atau gerakan di sekitar.
Aktif berlebihan: tidak bisa duduk tenang, sering mengetuk-ngetuk meja, atau berlari di kelas tanpa alasan jelas.
Impulsif: berbicara tanpa berpikir panjang, memotong pembicaraan teman atau guru, dan sulit menunggu giliran.
Rentan lupa terhadap instruksi atau tugas yang baru saja diberikan.
Penting dicatat, ADHD bukan sekadar "anak nakal" atau "kurang disiplin". Anak dengan ADHD memiliki potensi besar, hanya saja membutuhkan pendekatan khusus agar bisa berkembang optimal.
Menangani Anak dengan ADHD di Kelas InklusifDalam kerangka Kurikulum Merdeka yang menekankan pada diferensiasi pembelajaran, guru dapat menerapkan beberapa strategi praktis berikut:
Atur Lingkungan Belajar yang Mendukung Tempatkan anak di posisi yang minim distraksi, misalnya dekat guru atau jauh dari jendela. Gunakan aturan kelas yang sederhana dan konsisten.
Gunakan Instruksi yang Jelas dan Singkat Sampaikan arahan dengan kalimat pendek, berikan contoh konkret, dan ulangi bila perlu. Anak ADHD lebih mudah memahami instruksi visual dibanding hanya lisan.
Beri Aktivitas yang Variatif Pembelajaran tidak hanya dengan ceramah, tetapi dikombinasikan dengan permainan edukatif, diskusi kelompok kecil, atau tugas motorik sederhana yang membuat anak tetap terlibat.
Berikan Waktu Istirahat Singkat Anak dengan ADHD membutuhkan kesempatan untuk melepaskan energi. Guru bisa memberi waktu jeda singkat seperti peregangan atau berjalan sebentar sebelum melanjutkan aktivitas belajar.
Apresiasi Perilaku Positif Pujian sederhana ketika anak berhasil menyelesaikan tugas atau mengikuti aturan akan meningkatkan motivasi mereka.
Kolaborasi dengan Orang Tua dan Ahli Guru perlu bekerja sama dengan orang tua, konselor sekolah, atau psikolog untuk memantau perkembangan anak dan menentukan strategi yang tepat. Contoh Realisasi di Kelas
Bayangkan sebuah pelajaran Matematika di kelas. Guru sedang mengajarkan perkalian. Di kelas ada seorang anak dengan ADHD bernama Andi.
Saat guru menuliskan soal di papan tulis, Andi tampak mengetuk-ngetuk meja dan melirik keluar jendela.
Guru mendekatinya, lalu berkata dengan lembut: “Andi, ayo coba kerjakan soal nomor satu. Kamu boleh pakai kertas warna ini untuk hitunganmu.” Instruksi singkat ditambah media visual membuat Andi kembali fokus.
Agar Andi tidak cepat bosan, guru membagi kelas menjadi kelompok kecil untuk permainan “Lomba Perkalian”. Setiap kelompok menuliskan hasil perkalian di papan mini, lalu berlomba menunjukkan jawaban. Andi mendapat giliran menulis angka di papan. Aktivitas motorik ini membuatnya lebih terlibat.
Setelah 10 menit, guru memberi waktu jeda singkat. Semua siswa diminta berdiri, melakukan peregangan, lalu melanjutkan aktivitas berikutnya. Jeda ini membantu Andi menyalurkan energinya tanpa mengganggu suasana belajar.
Ketika Andi berhasil menyelesaikan soal dengan benar, guru memberi pujian: “Hebat, Andi! Jawabanmu tepat sekali.” Senyum dan tepuk tangan kecil dari teman-temannya menambah motivasinya.
Dengan pendekatan ini, Andi tidak hanya belajar matematika, tetapi juga merasa dihargai, diterima, dan mampu berkontribusi di kelas.
Penutup
Mengenal anak dengan ADHD adalah langkah awal untuk menciptakan suasana kelas inklusif yang ramah dan adil. Dengan kesabaran, strategi pembelajaran yang tepat, serta kolaborasi antara guru, orang tua, dan masyarakat, anak ADHD dapat berkembang sesuai potensinya. Inilah wujud nyata dari pendidikan inklusif: memberikan ruang bagi setiap anak untuk belajar, tumbuh, dan berprestasi tanpa terkecuali.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
