Di Antara Ladang dan Luka (1376)
Di Antara Ladang dan Luka
Karya: Rismalasari
Aku membaca ladang dalam sajak Rendra,
hamparan jagung bukan sekadar hijau daun,
tapi jerit petani yang ditelan angin hampa,
di tanah subur, kemiskinan tumbuh tanpa ampun.
Kata-kata Rendra menusuk seperti mata cangkul,
membalik kenyataan yang sering disembunyikan,
bahwa di balik tumpukan emas hijau yang menggunung,
ada perut lapar menatap langit tanpa jawaban.
Namun sajaknya bersih—jernih seperti embun pagi,
tak menghakimi, hanya memantulkan nurani,
mengingatkan kita: negeri ini terlalu kaya,
untuk membiarkan rakyatnya hidup dalam sepi.
Aku menunduk di ujung ladang jagung,
menghirup wangi bumi yang pernah dijanjikan,
di antara keindahan dan getir kehidupan,
Rendra menanam kesadaran dalam keabadian.
( Bogor, 5 oktober 2025)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
