Melati Terakhir (1387)
Melati Terakhir
Karya Rismalasari
Pada senja yang hampir jatuh di pelukan malam,
Kita berdiri tanpa kata, hanya diam yang berbicara.
Kau ulurkan setangkai melat sederhana namun dalam,
menyimpan kisah yang pernah kita rawat bersama.
Harumnya pelan menyusup ke ruang kenangan,
Mengingatkan langkah kecil di jalan yang pernah sama.
Ada tawa yang dulu hangat, kini jadi gema perlahan,
Mengalir lembut, lalu pecah menjadi sepi tanpa suara.
Tak ada air mata yang harus kau titipkan pada angin,
Karena setiap pertemuan memang mengajarkan pergi.
Kita hanya dua hati yang pernah saling melengkapi
Lalu belajar melepaskan tanpa harus saling menyakiti.
Maka biarlah melati itu menjadi saksi terakhir
Bahwa cinta tak selalu harus memiliki
Kita bukan gagal, hanya selesai pada waktu yang berbeda,
Dari harumnya kita belajar mendewasakan jiwa.
( Bandung, 25 Oktober 2025)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
