Gadis Pemetik Teh (1390)
Gadis Pemetik Teh
Karya Rismalasari
Di punggung bukit berselendang kabut,
Gadis pemetik teh berjalan dalam keheningan pagi,
Daun hijau menggoda awan biru yang melayang rendah,
Seolah langit ingin mencium harum bumi yang suci.
Tangan-tangannya lirih seperti doa yang tak bersuara,
Memetik lembut helai demi helai kesabaran,
Aroma tanah mengaharu biru—
Menyelinap ke dada, menenangkan luka-luka yang diam.
Matanya teduh, serupa rasi bintang tenggelam,
Menyimpan rindu yang tak pernah disampaikan angin,
Senyumnya adalah riak danau yang baru disentuh cahaya,
Tenang, tapi dalam—sampai langit pun ikut bersyahdu.
Di Pangalengan, waktu berjalan seperti bait syair tua,
Mengalir perlahan di sela ladang hijau yang basah,
Dan gadis pemetik teh menyenandungkan irama
Menjadi puisi yang tak pernah selesai ditulis oleh alam.
( Pangalengan, November 2024)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
