Robingah, S.Pd.SD

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bika Hitungku Tak Bisa Dimakan

Bika Hitungku Tak Bisa Dimakan

Bika Hitungku Tak Bisa Dimakan

Tantangan hari ke-9

#tantangangurusiana

Bentuknya bulat, berwarna-warni, dan dapat ditusuk. Itulah bika hitung yang ada di kelasku. Memang bukan sembarang bika karena bika di kelasku tak dapat dimakan seperti layaknya kudapan yang biasa terhidang dalam suatu pertemuan/rapat. Bika yang tersaji di kelasku tidak berasa.

Bika itu akronim dari biji karet. Bagi masyarakat Jawa Tengah biji karet disebutnya klenthang. Klenthang dapat dibuat sebagai alat peraga untuk belajar berhitung dan membaca bilangan sesuai dengan nilai tempat dalam Matematika. Itu sebabnya alat peraga tersebut diberi nama Bika Hitung. Bika Hitung dibuat dari biji karet yang diberi warna agar menarik perhatian siswa. Selain itu, bika yang ditata dalam tusukan lidi membuat tampilan terasa dekat dengan dunia anak yang suka dengan jajanan yang ditusuk seperti bakso goreng, sosis bakar, sempolan, cilok atau jajanan lain yang biasanya ditusuk dengan lidi.

Pembuatan bika hitung menjadi alasan untuk memanfaatkan alam sekitar sebagai sumber belajar. Prinsipnya mudah, murah, relevan, dan efektif. Pemanfaatan bika sebagai alat peraga bagi sekolah yang berlokasi di sekitar perkebunan karet sangatlah memungkinkan karena untuk mendapatkan biji-biji karet tersebut cukuplah mudah. Ketika musim kemarau tiba, biji-biji karet banyak bertebaran di bawah pohon karet. Bentuknya yang seperti telur puyuh dengan warna coklat bercorak hitam khas menjadikan biji karet sangat mudah untuk dikenal.

Bika hitung dapat dibuat oleh guru, siswa atau orang tua. Caranya sederhana saja. Kumpulkan biji karet secukupnya. Bersihkan dari kotoran yang melekat. Jangan lupa buang bagian dalam biji dengan membuat lubang pada kedua ujungnya. Siapkan lidi, tanah liat/plastisin, perekat, cat warna-warni, gelas plastik minuman bekas, dan kardus bekas. Setelah semua bahan tersedia lalu biji karet dicat. Boleh semua boleh sebagian saja. Warna cat disesuaikan dengan kesukaan anak-anak agar lebih menarik perhatian. Kemudian langkah berikutnya adalah menyiapkan tanah liat atau plastisin untuk mengisi gelas plastik bekas. Setelah terisi penuh lalu tancapkan lidi/kawat pada plastisin/tanah liat yang ada di dalam gelas plastik. Akan lebih bagus jika posisi gelas dibalik. Rekatkan gelas pada kardus. Untuk menunjukkan tempat satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan diperlukan 4 gelas. Jika hanya sampai ratusan maka cukup 3 gelas. Buat rangkaian tusukan untuk menunjukkan satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan dengan warna yang berbeda untuk memudahkan anak dalam memahami satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan. Langkah selanjutnya yaitu menutup sebagian gelas plastik dengan kardus sebagai pemanis tampilan. Jangan lupa beri perekat agar lebih kuat. Sederhana kan proses pembuatannya.

Nah, untuk menggunakannya guru tinggal memfasilitasi siswa untuk menghitung bika sesuai dengan bilangan yang disebutkan. Misalnya guru menyebutkan bilangan 125 maka siswa tinggal mengambil bika 5 butir untuk ditusukkan pada lidi di tempat satuan, 2 butir di tempat puluhan, dan 1 butir di tempat ribuan. Tiap-tiap tempat berisi bika berbeda warna. Sedang tiap satu tempat berisi bika dengan warna yang sama. Setelah siswa memahami cara penggunaannya maka siswa bisa melakukan bersama kelompok dalam belajar berhitung dan membaca bilangan serta menunjukkan nilai tempat. Salah satu anak memasukkan bika pada masing-masing tempat tusukan sesuai dengan keinginannya. Siswa yang lain menyebutkan nama bilangan setelah menghitung banyak bika pada masing-masing tempat. Secara bergantian siswa menunjuk bika pada satu tempat tusukan dan siswa lain menyebutkan nilai tempatnya. Walau bikaku tak bisa dimakan, namun bikaku bisa untuk belajar Matematika dengan MIKiR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi). Asyiiiiik dan menyenangkan.

Kendal, 27 Januari 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post