Robingah, S.Pd.SD

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bermodal Foto Muncullah Cerita
Foto bersama di akhir Diklat

Bermodal Foto Muncullah Cerita

Bermodal Foto Muncullah Cerita

Tantangan hari ke-19

#TantanganGurusiana

Menulis tanpa didukung foto atau gambar rasanya memang seperti ada yang kurang meski hal itu bukanlah syarat wajib untuk sebuah artikel. Foto atau gambar setidaknya dapat mewakili isi dari sebuah tulisan. Namun, foto yang dimaksud adalah foto yang jelas dan sesuai dengan intisari bacaan.

Awalnya aku tak begitu peduli dengan foto-foto. Apalagi dengan foto diri sendiri. Rasanya tidak begitu percaya diri ketika melihatnya. Bukan karena tak mensyukuri nikmat yang Allah berikan akan tetapi rasanya memang malas saja untuk difoto. Tak ada paksaan bagi seseorang untuk menyukai atau tidak menyukai foto.

Seiring perkembangan zaman yang semakin maju dalam menawarkan berbagai kemudahan ternyata kini sebuah foto menjadi sesuatu yang sangat penting bagi banyak orang. Foto dapat digunakan untuk berbagai kepentingan. Yang jelas foto merupakan bukti nyata suatu keadaan atau kejadian. Adanya foto akan memudahkan kita untuk mengingat suatu keadaan atau peristiwa untuk diceritakan. Begitu pula dalam menangkap suatu informasi atau berita akan terasa lebih mudah jika disertai foto. Sekali lagi bukan berarti tanpa foto suatu informasi, berita atau tulisan itu tak menarik untuk diikuti.

Ada seseorang yang menjadikan foto sebagai benda yang sangat berharga karena nilai gunanya. Sebaliknya ada juga seseorang yang tak peduli dengan foto karena baginya dianggap tidak ada pengaruhnya dalam kehidupan. Orang yang mempunyai hobi berfoto tidak mengherankan jika dalam situasi apa saja diambil fotonya sebagai dokumen dalam bentuk gambar. Apalagi dengan kamera yang bagus, kegiatan mengambil foto tentu sangat menyenangkan.

Kegiatan mengambil foto sekarang tidak hanya dilakukan oleh fotografer saja dan objek yang difoto pun tidak terbatas pada para artis dan foto model saja. Dengan media Hand Phone (HP), kini siapa saja dapat dengan mudah mengambil foto baik foto diri sendiri maupun foto suatu objek dan peristiwa. Istilah selfie (mengambil foto sendiri) tak asing lagi di kalangan kaum muda atau pun kaum yang pernah muda. Tiada hari tanpa foto kini rupanya sudah menjadi rahasia umum.

Di samping untuk menyimpan sebuah kenangan, foto juga dapat dijadikan sebagai media pembelajaran. Peristiwa-peristiwa sejarah akan mudah dipahami melalui foto.Penjelasan suatu materi pelajaran juga akan lebih mudah dipahami apabila disertai gambar/foto.

Berbekal sebuah foto, seorang anak bisa belajar membaca, bercerita atau menulis tentang suatu hal dan peristiwa yang telah berlangsung. Foto yang jelas dapat dideskripsikan menjadi banyak kata untuk dirangkai menjadi kalimat-kalimat bermakna. Ketika anak-anak belum pandai membaca, sebuah foto dapat digunakan untuk belajar membaca dengan istilah membaca gambar. Demikian juga dengan bercerita. Bermodal sebuah foto seseorang bisa bercerita tentang suatu peristiwa. Dalam pembelajaran juga dapat dijadikan sebagai media untuk mempermudah anak belajar berbicara atau bercerita. Digabung dengan teknik pertanyaan ADIK SIMBA (A=Apa, Di=Di mana, K=Kapan, Si=Siapa, M=Mengapa, dan Ba=Berapa/Bagaimana) anak-anak akan dengan mudah menemukan jawaban-jawaban sesuai gambar/foto untuk dirangkai menjadi sebuah cerita. Setelah anak-anak bisa bercerita berdasar gambar/foto maka langkah selanjutnya foto dapat digunakan untuk belajar menulis cerita dalam paragraf-paragraf yang padu.

Pengambilan foto perlu memperhatikan ukuran, jarak, posisi, dan cahaya agar gambar yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan. Posisi pengambilan foto dapat dilakukan dari arah depan, belakang, samping, atas atau bawah. Jika kita ingin menampilkan foto hanya separoh/setengah badan dari kepala sampai pinggang dengan jarak yang dekat maka kita bisa melakukannya secara close up. Sedangkan foto yang diambil untuk menggugah rasa simpati dari seseorang dikenal dengan istilah human interest. Pengaturan cahaya juga tak boleh diabaikan jika ingin mendapatkan gambar yang bagus. Foto yang blur pada bagian tertentu terkadang diperlukan. Akan tetapi hanya terbatas untuk pengambilan gambar yang bersifat menjaga etika terhadap seseorang yang difoto. Jadi ada kalanya foto bluur itu perlu.

Menyadari pentingnya sebuah foto, maka tak perlu ragu lagi jika setiap kejadian penting diabadikan dalam foto. Menjamurnya group-group WhatsApp kini sangat memungkinkan untuk saling bergantian mengambil foto dengan berbagai alasan dan gaya dalam berfoto. "Ayo, sekarang gaya bebas!" Kalimat tersebut sudah tak asing lagi di telinga kita. Seolah kalimat tersebut menjadi syarat foto bersama ketika anggota masing-masing group saling bertemu dan berkumpul di suatu tempat kegiatan. Mereka tampak bahagia dengan senyumnya meski tak lagi muda namun semangatnya masih membara. Amati saja foto yang mendukung tulisan ini. Mereka adalah deretan pemuda-pemudi pada zamannya yang sekarang telah terlewatkan masanya. Mereka tampilkan gaya ceria dengan seragam kaos baru yang berwarna biru. Bermodal foto kita bisa kembali memunculkan sebuah cerita dengan mengingat, mengenang, dan merindu untuk kembali bertemu.

Kendal, **(censored)**

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post