Bersamamu dalam Hujan
*Bersamamu dalam Hujan*
Tantangan hari ke-26
#TantanganGurusiana
Perjalanan pulang dari sekolah tak semulus hari-hari biasanya. Musim hujan kali ini memang curahnya cukup tinggi. Hujan deras hampir terjadi setiap hari di sekitar tempat tugasku.
*Berteduh diantara Pepohonan Karet*
Awan pekat tampak menyelimuti langit yang tak bertepi. Tanda hujan akan segera turun. Tugas menghadiri suatu rapat bersama telah usai. Aku pun segera bergegas untuk pulang. Hari ini aku tidak mengendarai sepeda motor sendiri sehingga tak membawa mantel sebagai alat pelindung tubuh dari kucuran air hujan. Biasanya mantel selalu tergantung di bagian depan sepeda motor.
Dengan hati sedikit khawatir, segera kunaik untuk membonceng sepeda motor seorang teman seprofesi denganku. Kebetulan teman yang bertubuh sedang itu juga akan melakukan perjalanan pulang searah denganku. Tanpa pikir panjang kududuk di jok sepeda motor dengan mantap. Sepeda motor melaju dengan kencang karena si pengemudi juga sama-sama tidak membawa mantel.
Titik-titik air hujan mulai turun. Perlahan tapi pasti lama-lama deras juga air turun ke bumi. Kami berdua sempat bingung karena perjalanan sudah memasuki area perkebunan karet yang cukup lebat. Dua orang satu profesi kehujanan di tengah perkebunan karet yang sepi. Tak bisa dibayangkan apa yang kan terjadi jika perjalanan yang masih jauh harus menerobos hujan deras tanpa pelindung tubuh. Akhirnya kami berdua pun sepakat untuk berteduh. Kebetulan ada satu gardu di tepi jalan diantara rimbunnya pepohonan karet. Sepi sekali. Kami turun bersama dari sepeda motor menuju gardu yang letaknya sedikit tinggi. Ternyata di dalam gardu telah ada dua orang lelaki sedang duduk di pojok gardu yang berukuran cukup untuk enam orang juga sedang berteduh sambil menghisap rokok.
Baju dan rokku telah basah terkena percikan hujan. Dingin rasanya. Akan tetapi apa boleh buat. Aku pikir lebih baik menunggu bersama beberapa saat sampai hujan reda di gardu. Aku tak ingin tas berisi buku dan dokumen lain basah terkena guyuran air hujan.
Tempat duduk di dalam gardu tak mencukupi untuk memuat banyak orang. Apalagi di dalamnya juga terdapat bak hingga memenuhi separuh bagian dalam gardu. Ternyata bak tersebut berfungsi untuk menampung latek (getah karet) hasil sadapan para penyadap di pagi hari.
*Tetap Tenang dan Nyaman*
Guntur berkali-kali menggelegar. Rasa panik semakin membuat hati berdebar. Seorang perempuan berada di tengah perkebunan karet dalam suasana sepi dan hujan lebat disertai petir yang menyambar berkali-kali menjadikan pengalaman yang benar-benar mendebarkan.
Meski rasa takut menyelinap di dada, namun aku tetap tenang dan berdiri sambil berharap agar hujan segera reda. Kuambil handphone di dalam tas untuk kumatikan karena aku tahu jika tidak kumatikan akan membahayakan. Kemudian kudekati temanku sambil kukatakan sesuatu. Ia menuruti kemauanku untuk melakukan hal yang sama yaitu mematikan handphone. Hatiku merasa nyaman karena handphone sama-sama telah dimatikan.
Meski hujan begitu deras tak segera reda, aku tetap bersyukur karena masih ada tempat untuk berteduh dalam perjalananku. Tanpa sengaja kulihat ada papan bercat hijau di sebelah gardu bertuliskan Gerakan Sayang Produksi. Aku pun bertanda tanya dalam hati. Apa maksudnya ya? Aku berpikir sejenak. Hijau memang tandanya subur. Mungkin maksud kalimat tersebut untuk mengajak kita agar menyayangi tanaman karet sebagai tanaman yang mampu memproduksi getah karet untuk berbagai keperluan. Entahlah, benar atau salah aku tak akan memperpanjang masalah itu. Yang jelas aku ingin segera pulang.
Hujan mulai reda. Perjalanan pulang pun berlanjut. Sepanjang perjalanan, sengaja kubonceng dengan posisi duduk di jok dengan tenang dan kudekap tas punggung untuk mengurangi dinginnya badan. Tas sengaja tidak kugendong di punggung. Ternyata belum sampai ke rumah, hujan turun lagi. Sudah terlanjur basah akhirnya aku berdua tetap menerobos hujan. Untung ada plastik besar yang cukup untuk membungkus tas. Yang penting buku dan dokumen di dalamnya aman. Terima kasih suamiku kau adalah teman seprofesiku yang telah menemaniku dalam hujan di perjalanan. Bersamamu hatiku terasa nyaman walau guntur menggelegar.
Kendal, 13-02-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
