Merdeka Belajar Ciptakan Kreativitas Pembelajaran
*Merdeka Belajar Ciptakan Kreativitas Pembelajaran*
Tantangan hari ke-52
#TantanganGurusiana
#Lomba Menulis Buku Mediaguru
Merdeka belajar yang dicetuskan oleh Menteri Nadiem Makarim sempat membuat penulis bertanda tanya. Bukankah merdeka itu berarti bebas tanpa tekanan? Ya, ketika seorang siswa melakukan aktivitas pembelajaran memang akan terasa lebih nyaman jika dilakukan dalam kondisi yang merdeka.
*Belajar dan Pembelajaran*
Belajar dan pembelajaran merupakan dua kata yang berbeda namun memiliki arti yang saling berkaitan. Seperti yang dikemukakan oleh para ahli bahwa muara dari belajar sejatinya adalah terjadinya perubahan tingkah laku dari yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu. Sedangkan menurut Komalasari (2013:3) pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu sistem atau proses membelajarkan subjek didik/pembelajar yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dievaluasi secara sistematik agar subjek didik/pembelajar dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
Pencapaian tujuan tersebut di atas tentunya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Selain faktor sarana dan prasarana pendidikan, faktor personal juga dapat mempengaruhinya. Adapun personal yang dimaksud adalah guru, siswa, kepala sekolah, dan warga masyarakat termasuk wali muridnya.
Siswa sebagai masukan (input) dalam proses pembelajaran perlu diberi kebebasan dalam mengikuti proses pembelajaran. Tentu saja bukan berarti bebas tanpa aturan. Namun, bebas yang dimaksud adalah siswa mempunyai kesempatan untuk berkreasi dalam memunculkan potensi dirinya ketika sedang belajar dan dapat mengomunikasikan hasil belajarnya dalam kelas.
*Kreativitas Pembelajaran*
Merdeka belajar tidak hanya memberikan kesempatan berkreasi pada siswa saja. Guru pun perlu memiliki kebebasan dalam mengelola pembelajaran. Untuk itu, agar pembelajaran lebih menyenangkan guru tidak harus terikat oleh cara-cara pembelajaran yang konvensional.
Melalui proses pembelajaran MIKiR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi) seperti yang diterapkan oleh sekolah-sekolah mitra Tanoto Foundation (TF) ternyata sangat terasa adanya iklim merdeka belajar. Baik siswa maupun guru sama-sama dapat melakukan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Kreativitas pembelajaran yang diciptakan oleh guru dapat dimulai dari cara menyusun skenario pembelajaran yang tidak harus terikat oleh seluruh komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Begitu pula dalam menyusun lembar kerja yang menitikberatkan pada keaktifan siswa secara kolaboratif dalam kelompoknya. Kebebasan mengomunikasikan hasil kerja siswa dapat dilakukan melalui teknik lisan atau kunjung kerja. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan umpan balik atau feed back. Sebelum pembelajaran berakhir, guru dan siswa melakukan refleksi untuk mengetahui tingkat pemahaman dan tingkat kebermanfaatan materi yang telah dipelajari.
Bentuk implementasi dari merdeka belajar dapat pula dilakukan dengan penataan tempat duduk siswa sesuai dengan materi yang diajarkan. Jadi, siswa dapat duduk dengan penataan meja dan kursi secara bervariasi dan tidak harus selalu berderet menghadap ke depan papan tulis. Yang penting dalam penataan tersebut tetap memperhatikan prinsip MIA (Mobilitas, Interaksi, Akses) sehingga memudahkan siswa dan guru untuk saling berinteraksi baik dengan media pembelajaran maupun dengan siswa lainnya (sesuai hasil pelatihan modul-1 program PINTAR Tanoto Foundation). Pemajangan hasil kerja siswa juga menjadi salah satu hal penting yang perlu dilakukan secara kreatif agar siswa memiliki kebebasan unjuk kreasi dalam kelas. Hasil kerja yang dipajang penuh kreativitas akan menjadikan kelas kreatif dan siswa juga akan merasa mendapatkan penghargaan selama proses pembelajaran.
Keterlibatan kepala sekolah yang efektif dapat diwujudkan dengan memberikan kesempatan kepada pejabat setempat atau pihak-pihak dari luar sekolah yang peduli terhadap pendidikan untuk menjadi narasumber dalam pembelajaran materi tertentu. Demikian juga dengan wali muridnya. Mereka yang memiliki keahlian khusus dapat dilibatkan dalam penciptaan kelas kreatif maupun pembuatan media pembelajaran berbasis lingkungan sekitar yang diperlukan oleh pihak sekolah. Dengan demikian, pada akhirnya merdeka belajar memang dapat menciptakan kreativitas pembelajaran.
Begitulah implementasi dari merdeka belajar yang dapat penulis sampaikan berdasarkan pengalaman yang telah dilakukan di sekolah tempat penulis bertugas.
Penulis dalam lomba menulis buku Mediaguru ini bernama Robingah, S.Pd.SD. Lahir di Banjarnegara, 21 Januari 1970. Sekarang bertugas sebagai Kepala Sekolah di SDN Sukomangli, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Sebelumnya, ia pernah menjadi kepala sekolah mitra program PINTAR Tanoto Foundation pada tahun 2018-2019. Nomor e-mail yang dimiliki adalah **(censored)** dan nomor HP/WA yang dapat dihubungi yaitu **(censored)**
Kendal, 10-03-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
