Robingah, S.Pd.SD

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Tak Malu Mengonsumsi Daun Lontop
Daun lontop di kebun belakang rumah.

Tak Malu Mengonsumsi Daun Lontop

Tak Malu Mengonsumsi Daun Lontop

Tantangan hari ke-65

#TantanganGurusiana

 

Teringat olehku tentang masa kecil hidup bersama nenek. Makan seadanya. Lauk dan sayur juga seadanya. Sekarang justru sering membuatku kangen dengan menu-menu ala desa yang biasa disajikan olehnya.

 

Sayur daun lontop sering disajikan dengan sedikit paduan singkong tak asing lagi bagiku. Menu itulah yang sering disajikan oleh nenek saat makan siang tiba. Aku tak pernah menolak dan selalu menyantapnya tanpa banyak protes ini dan itu. 

 

Nenekku memang lebih suka menyajikan sayur hasil tanaman sendiri yang sangat murah harganya. Tak terpikir seberapa banyak kandungan nilai gizi dan manfaatnya tetapi sayur masakan nenek selalu terasa nikmat untuk menemani nasi putih di piringku.

 

Sayur daun lontop adalah sayur yang sering disajikan sebagai pelengkap sajian menu di kala itu. Menurut pandangan orang-orang di desaku saat itu, daun lontop identik dengan sayurnya orang-orang tak punya. Kuakui memang nenekku hidup dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Beruntung masih mempunyai sedikit tanah sawah dan kebun yang dapat ditanami padi, kelapa, buah, dan beberapa tanaman sayur. 

 

Daun lontop itu tak lain adalah daun ubi jalar. Orang-orang di desaku biasa menyebutnya daun lontop. Bentuknya yang menjari dengan warna hijau subur sangat menarik ketika baru dipetik dari sawah. Biasanya nenek menanamnya di pematang sawah di sela-sela tanaman padi.

 

Sebenarnya tak hanya itu yang ditanam nenek. Ada pula kangkung, kecipir, kacang panjang, timun, oyong, dan talas juga sering ditanam secara bergantian. Sedang di kebun ada juga tanaman pisang dan nangka yang juga dapat dibuat sayur. Maksudnya jantung pisang dan nangka yang masih muda dapat dimasak sebagai sayuran. 

 

Pemanfaatan lahan untuk menanam berbagai jenis sayuran ternyata sangat bermanfaat untuk membantu menopang kebutuhan sayuran keluarga. Sekarang aku mencoba mengikuti jejak nenek untuk menanam ubi rambat berdaun lontop bersama suami. Walau kebun di samping rumahku tak begitu luas, namun senang rasanya ketika mata memandang tampaklah hijaunya daun lontop.

 

Sering kupetik daun lontop sebagai sajian sayur bening, oseng-oseng, grombyang, dan kluban. Sederhana tapi mengundang selera makan. Apalagi setelah kubaca dari berbagai  sumber ternyata daun lontop banyak sekali manfaatnya. Selain mengandung vitamin, protein, dan mineral, daun lontop juga dapat dijadikan sebagai obat berbagai penyakit. Misalkan saja asam urat, bisul, rabun, dan penyakit lainnya.

 

Walau saat itu ada anggapan dari sebagian orang bahwa sayur daun lontop adalah sayurnya orang tak berada, namun kini daun lontop justru banyak diminati orang. Ada yang beralasan karena enak rasanya, mudah dan cepat mengolahnya, murah harganya, juga bermanfaat sebagai obat.

 

Kini daun lontop tak lagi menjadi pembeda status keluarga berada atau tak berada. Yang jelas dari segi ekonomi memang dapat membantu keluarga. Tak perlu ada rasa malu atau takut untuk mengonsumsi daun tanaman yang merambat ini. Jika tak ingin membelinya maka kita bisa menanam nya sebagai pelengkap warung hidup keluarga.

 

Kendal, 23-03-2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post