Robingah, S.Pd.SD

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Guru Penggerak Mengajar dengan MIKiR
Suasana pembelajaran dengan MIKiR.

Guru Penggerak Mengajar dengan MIKiR

Guru Penggerak Mengajar dengan MIKiR

Tantangan hari ke-76

#TantanganGurusiana

#Lomba menulis bulan April

Mengapa harus ada guru penggerak? Pertanyaan tersebut cukup menggelitik bagi saya. Idealnya, semua guru memang harus bisa menjadi guru penggerak. Guru penggerak identik dengan motor yang mampu memberikan dorongan dan melakukan suatu gerakan demi kemajuan.

Guru Penggerak

Sebenarnya asalkan ada niat dan kemauan, semua guru bisa menjadi guru penggerak. Sejak diluncurkannya istilah guru penggerak oleh Mas Menteri Nadiem Makarim, kini semangat para guru untuk menjadi guru penggerak semakin tampak. Berbagai gerakan dan perubahan muncul di tengah perjalanan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar.

Kehadiran guru penggerak sangat diharapkan untuk melahirkan anak-anak bangsa yang siap menghadapi era milenial. Guru penggerak dapat diartikan sebagai guru yang mau mendorong atau menggerakkan sesuatu dalam tugasnya untuk menuju hal yang lebih baik dan lebih maju. Berbagai tantangan tentu saja akan muncul ketika seorang guru berani melakukan suatu gerakan menuju pembaruan. Selain harus memiliki kreativitas yang tinggi, guru juga harus mampu menghadapi sikap pro dan kontra yang datang dari berbagai pihak. Di sinilah komitmen guru penggerak akan teruji.

Sebagai guru penggerak, tentu saja tidak akan merasa takut dalam menghadapi tantangan demi tantangan. Justru adanya tantangan itu akan dijadikan sebagai penggerak. Penggerak adalah objek yang menggugah tekad untuk meningkatkan kemampuan dalam menghadapi masalah dan dapat dijadikan sebagai dorongan untuk bekerja lebih giat lagi (KBBI, 2007). Jadi, adanya tantangan bukan untuk dihindari. Namun, sebaliknya tantangan itu akan dihadapi dengan semangat yang tinggi dalam bertindak dan berkarya nyata.

Karya guru penggerak dapat berkaitan dengan kreativitas untuk meningkatkan kemampuan dirinya sendiri maupun kemampuan anak didiknya. Adanya slogan "Guru Mulia karena Karya" perlu dijadikan sebagai pedoman oleh para guru penggerak. Sekecil apa pun karya yang dihasilkan, yang penting dapat bermanfaat untuk kemajuan pendidikan akan lebih baik daripada hanya berangan-angan saja.

Pembelajaran MIKiR

Tugas pokok dan fungsi (tupoksi) guru antara lain adalah merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajaran. Mengingat tupoksi tersebut, maka berbagai hal dapat dilakukan oleh guru penggerak terkait dengan peningkatan kualitas pembelajaran. Misalkan saja, guru merencanakan pembelajaran dalam bentuk skenario pembelajaran, melaksanakan pembelajaran dengan MIKiR, dan mengevaluasi pembelajaran dengan soal-soal yang HOTS (Higher Order Thinking Skills).

Berdasarkan pengalaman bersama para Fasilitator Daerah (Fasda) program PINTAR Tanoto Foundation (TF), untuk meningkatkan kualitas pendidikan salah satunya adalah menerapkan model pembelajaran MIKiR. MIKiR merupakan singkatan dari Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi. Model pembelajaran ini lebih menitikberatkan pada keaktifan anak.

Sebagai guru penggerak, tentu saja akan merasa puas jika dapat memfasilitasi proses pembelajaran yang lain daripada yang lain. Melalui pembelajaran MIKiR, anak-anak tidak hanya duduk, diam, dan mendengarkan saja. Lebih dari itu, anak-anak juga diajak belajar dengan mengalami secara langsung dalam proses pembelajaran.

Anak terlibat dalam mengamati dan melakukan percobaan baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Kemudian satu sama lain saling berinteraksi dengan bertukar gagasan. Guru dan anak bertanya jawab dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat PIT (Produktif, Imajinatif, dan Terbuka).

Kualitas pertanyaan akan berpengaruh pada kualitas berpikir anak untuk menemukan jawabannya. Melalui pertanyaan yang bersifat PIT inilah, guru penggerak akan dapat menciptakan perubahan tentang pola berpikir yang produktif, imajinatif, dan terbuka. Pertanyaan produktif mendorong siswa untuk melakukan kegiatan terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan. Sedangkan pertanyaan imajinatif akan memberikan kesempatan kepada anak untuk berimajinasi sesuai dengan apa yang diketahuinya melalui gambar atau objek langsung. Kemudian, melalui pertanyaan terbuka guru penggerak dapat membiasakan anak-anak untuk menemukan lebih dari satu jawaban atas suatu pertanyaan.

Untuk mempresentasikan hasil kerjanya, anak-anak mengomunikasikan kepada teman lain. Komunikasi dapat dilakukan secara lisan atau dalam bentuk kunjung kerja. Akhir pembelajaran dilakukan refleksi untuk memunculkan sikap mau menerima kritik dan saran demi memperbaiki diri dalam hal gagasan, hasil karya atau sikapnya selama proses pembelajaran. Sekian.

Kendal, **(censored)**

Penulis artikel ini bernama Robingah, S.Pd.SD yang lahir di Banjarnegara pada tanggal 21 Januari 1970. Sekarang bertugas sebagai Kepala Sekolah SDN Sukomangli, Kec.Patean, Kab.Kendal, Jawa Tengah. Nomor e-mail yang dimiliki adalah **(censored)**. Sedangkan nomor HP/WA yang dapat dihubungi yaitu **(censored)**

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post