Robingah, S.Pd.SD

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Kentong Berbunyi Aksi Literasi Dimulai
Kentong sedang dibunyikan pertanda aksi literasi dimulai.

Kentong Berbunyi Aksi Literasi Dimulai

Kentong Berbunyi Aksi Literasi Dimulai

Tantangan hari ke-100

#TantanganGurusiana

Sebelum ada listrik, kentong memang menjadi alat komunikasi yang umum digunakan oleh masyarakat pedesaan di daerah Jawa Tengah. Berbagai tanda pada banyaknya pukulan mempunyai arti yang berbeda-beda. Ketika ada kematian, pencurian atau kebakaran, kentong biasanya dibunyikan agar orang-orang mengetahuinya. Masihkah kentong menarik untuk digunakan pada saat ini?

Kentong kebanyakan dibuat dari bambu yang dilubangi bagian tengahnya. Ada juga yang dibuat dari kayu gelondongan. Meski listrik sudah dapat mewakili untuk membunyikan bel atau sirine, namun kentong bisa saja digunakan sebagai sarana komunikasi yang menarik perhatian. Bunyi khas yang dihasilkan dari pukulan dengan sebilah bambu atau kayu dapat memberikan tanda atau kode tertentu untuk melakukan sesuatu.

Seperti halnya yang sudah biasa dilakukan oleh salah satu sekolah di daerah pedesaan ini. Kentong dimanfaatkan sebagai alat komunikasi yang unik pada saat hari literasi. Hari literasi adalah hari yang khusus digunakan untuk kegiatan literasi (baca dan tulis). Hari literasi dilaksanakan setiap satu minggu satu kali. Hari literasi yang telah disepakati oleh pihak sekolah dan wali murid diisi dengan kegiatan membaca bersama, bercerita, dan menulis. Anak-anak membaca di halaman sekolah sambil duduk lesehan di atas tikar. Waktunya cukup 1 jam saja di pagi hari (tiap Selasa).

Kegiatan yang dipandu oleh guru-guru dalam sebuah tim merupakan salah satu bagian dari pelaksanaan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Pada hari literasi, seluruh warga sekolah melakukan kegiatan yang sama yaitu membaca buku bacaan atau buku cerita di halaman sekolah. Tak terkecuali para penjual jajan atau siapa pun yang sedang berada di dalam lingkungan sekolah tersebut.

Kegiatan diawali dengan pemukulan kentong oleh tim GLS. Begitu kentong dibunyikan, anak-anak pun segera berhamburan menata diri sambil membawa sebuah buku cerita atau buku bacaan non pelajaran. Kemudian duduk bersama di atas tikar untuk membaca. Waktu untuk membaca cukup 15 menit saja. Kentong sengaja dibungkus dengan kain yang dihias asesoris warna emas agar lebih menarik perhatian.

Selain kegiatan membaca bersama, pada hari literasi ada juga kegiatan layanan pada klinik membaca. Klinik membaca hanyalah istilah untuk memudahkan memberi nama kegiatan. Klinik membaca adalah tempat tersendiri untuk melayani anak-anak yang masih lamban membaca. Pelayanan dilakukan dengan mendampingi membaca buku. Petugasnya adalah tim GLS atau kakak kelas yang telah memiliki kemampuan membaca yang bagus.

Selesai membaca, kentong dibunyikan lagi oleh tim GLS. Bunyi kentong kedua menandakan agar anak-anak berkumpul membentuk kelompok. Tiap kelompok masing-masing terdiri atas 4-5 anak. Begitu kelompok terbentuk, lalu dilanjutkan dengan kegiatan menceritakan kembali isi bacaan di hadapan teman secara bergantian. Mereka tampak bersemangat dalam menceritakan isi bacaan dengan bahasa sendiri.

Kurang lebih selama 30 menit anak-anak saling bergantian untuk mendengarkan atau menceritakan apa yang telah dibacanya. Sesekali, guru dalam tim GLS juga bercerita di depan anak-anak dengan pelantang. Anak-anak mendengarkan sambil duduk bersama. Selama kegiatan berlangsung, ada juga yang bertugas untuk mendokumentasikan kegiatan.

Sebelum masuk ke dalam kelas, kentong dibunyikan untuk yang ketiga kalinya. Hal itu menandakan bahwa kegiatan literasi beralih ke dalam kelas masing-masing. Nah, di kelas anak-anak menuliskan intisari cerita atau bacaan yang telah dibacanya. Kegiatan menulis dilakukan pada buku jurnal baca masing-masing. Buku jurnal terdiri atas kolom-kolom yang berisi hari/tanggal, judul buku, nama pengarang, halaman yang dibaca, intisari bacaan, dan keterangan.

Bagi anak-anak kelas rendah, kegiatan mengisi jurnal baca dipandu oleh guru kelasnya. Sedangkan kelas atas menuliskannya secara mandiri. Jika sudah selesai barulah dikumpulkan lagi untuk disimpan di pojok baca.

Pembiasaan membaca dan menulis pada hari literasi ternyata cukup efektif untuk menanamkan rasa senang membaca bagi anak-anak. Asalkan kegiatan dilaksanakan secara rutin maka minat dan kegemaran membaca dapat ditumbuhkembangkan tanpa harus dipaksa. Dengan demikian Gerakan Literasi Sekolah (GLS) lama kelamaan akan dapat menjadi suatu budaya. Semoga saja corona segera sirna sehingga tak lagi menghambat kegiatan membaca bersama. Salam literasi.

Kendal, 27-04-2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post