Robingah, S.Pd.SD

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Kue Pecahan Media Belajar Manipulatif
Kue pecahan yang dibuat dari busa bekas.

Kue Pecahan Media Belajar Manipulatif

Kue Pecahan Media Belajar Manipulatif

Tantangan hari ke-95

#Tantangan Gurusiana

Matematika oleh sebagian besar siswa sering dianggap sebagai materi pelajaran yang sulit. Apalagi semakin tinggi tingkatan kelasnya materi pun semakin menguras otak untuk berpikir. Jika memang demikian, bagaimana cara mengatasinya?

Tahapan Belajar Matematika

Kita masih ingat kan, teori belajar Matematika dari Jerome Bruner? Ada tiga tahapan pembelajaran yang perlu diperhatikan oleh guru agar Matematika tidak terasa sulit. Bruner seperti yang disampaikan oleh Muhsetyo,dkk (2008:1.12) menyebutkan ada tiga tingkatan yang perlu diperhatikan dalam mengakomodasikan keadaan peserta didik, yaitu (a) enaktive (manipulasi objek langsung), (b) iconic (manipulasi objek tidak langsung), dan (c) symbolic (manipulasi simbol).

Tahap yang pertama (enaktive) menekankan pada pengenalan Matematika melalui benda-benda konkret (nyata). Misalkan saja menggunakan kelereng, permen, buah-buahan atau benda-benda nyata di sekitar siswa. Sedang iconic sama halnya dengan menggunakan benda-benda tiruan yang dimanipulasi mirip dengan aslinya.

Biasanya benda-benda manipulatif penampilannya berupa model. Misalkan saja model kue dari busa yang dimodifikasi menyerupai kue yang sesungguhnya. Atau bisa juga benda-benda tiruan lain seperti model jam dinding, model bangun datar, dan model bangun ruang.

Pada tahap yang ketiga berupa simbolic. Simbolic berarti bersifat simbol. Maksudnya, pembelajaran Matematika tidak menggunakan benda konkret atau benda tiruan lagi tetapi sudah menggunakan simbol. Hal ini dilakukan apabila pemahaman secara enactive dan iconic telah terlampaui.

Ketiga tahapan pembelajaran yang dikenalkan oleh Bruner tersebut pada jenjang Sekolah Dasar dapat dilakukan di kelas bawah maupun kelas atas. Tahap-tahap tersebut tentunya dilakukan untuk memudahkan pemahaman siswa. Jika ketiga tahapan dilakukan sesuai dengan materinya maka sangat dimungkinkan pembelajaran Matematika menjadi terasa lebih mudah dan lebih menyenangkan.

Kue Pecahan

Misalkan saja untuk mengajarkan pecahan. Guru dapat memfasilitasi pembelajaran menggunakan kue pecahan. Apa itu kue pecahan? Kue pecahan bukan kue yang sebenarnya. Kue tersebut bisa dibuat dari busa, plastisin atau potongan2 kayu bekas. Model kue bisa dibentuk sesuai dengan selera. Agar lebih menarik, maka perlu diberi warna seolah-olah persis seperti kue aslinya.

Kue yang dipotong-potong sesuai kebutuhan dapat digunakan untuk membantu siswa dalam belajar tentang konsep dasar pecahan. Pengenalan pembilang dan penyebut dapat dilakukan dengan cara anak mengalami sendiri. Satu kue dipotong menjadi beberapa bagian. Anak bisa memotongnya sendiri atau menyusun potongan-potongan membentuk kue.

Ketika anak mengambil satu atau beberapa potong kue dari kue yang utuh, hal itu dapat dianalogikan sebagai pembilang. Sedangkan jumlah seluruh potongan dalam kue dianalogikan sebagai penyebut. Misalkan kue dipotong menjadi 4 bagian. Siswa mengambilnya 1 potong. Maka kue yang diambil menunjukkan pembilang dan 4 potongan kue sebelum diambil menunjukkan penyebut. Nah, dengan begitu, anak berarti dapat menemukan sendiri makna dari pecahan 1/4 (satu per empat).

Kemudian pada operasi hitung pecahan sederhana atau mencari pecahan senama juga dapat menggunakan kue pecahan. Semakin sering menggunakan benda manipulatif dalam pembelajaran, siswa akan semakin paham. Dalam hal ini, kreatifitas guru sangat diperlukan. Belajar Matematika menggunakan media manipulatif, selain mempermudah pemahaman siswa juga dapat memunculkan ide-ide kreatif.

Media manipulatif tidak hanya bisa dibuat oleh guru saja. Siswa pun dapat dilibatkan untuk mengalami (membuat) sendiri model kuenya. Apabila pembuatan dilakukan di rumah, orang tua dapat dilibatkan untuk ikut mendampingi atau membantu. Jika merasa penasaran, ayo bisa dicoba bersama. Betapa senangnya apabila kita bisa berbagi.

Kendal, 22-04-2020

Sumber Referensi: Muhsetyo, dkk (2008), Pembelajaran Matematika SD, Jakarta: Universitas Terbuka.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post