Robingah, S.Pd.SD

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Pendampingan Belajar Lewat TVRI
Salah satu tayangan belajar di rumah lewat TVRI.

Pendampingan Belajar Lewat TVRI

Pendampingan Belajar Lewat TVRI

Tantangan hari ke-91

#TantanganGurusiana

Pandemi Covid-19 masih harus diwaspadai. Stay at home (tetap tinggal di rumah) dan physical distancing (jaga jarak) merupakan upaya yang harus dilakukan untuk memutus penularan mata rantai penularannya. Sementara, anak-anak sekolah tetap harus belajar walau di rumah.

Berbagai masalah mulai muncul. Keluh kesah pun dialami di sana sini. Keterbatasan jaringan dan kehabisan kuota menjadi perbincangan para orang tua dan siswa. Masih beruntung bagi siswa yang telah memiliki smartfrend sebagai media untuk pembelajaran dalam jaringan (daring). Bagaimana dengan siswa yang tak mendapatkan semuanya?

Menyikapi permasalahan pembelajaran akibat adanya pandemi Covid-19 ini, Mendikbud Nadiem Makarim meluncurkan berbagai kebijakan. Satu diantaranya adalah program belajar di rumah lewat TVRI. Tujuannya tak lain adalah untuk membantu para siswa yang mengalami kesulitan akses jaringan termasuk kuota maupun kendala geografi. Program yang dimulai Senin, 13 April 2020 tersebut perlu disambut gembira oleh berbagai kalangan. Baik orang tua, guru, siswa maupun kalangan masyarakat pada umumnya.

Durasi 3 (tiga) jam untuk semua jenjang pendidikan dari Paud/TK, SD, SMP, dan SMA ini ditayangkan mulai pukul 08.00 WIB hingga 11.00 WIB. Bagi siswa-siswi Sekolah Dasar (SD) khususnya, program belajar di rumah lewat TVRI tetap membutuhkan pendampingan dari orang tua dan guru. Meski hanya 30 menit waktu tayangan, namun materi yang disajikan cukup bervariasi.

Sajian untuk siswa-siswi SD dijadwalkan 2 sesi yang terbagi untuk kelas bawah (kelas1-3) dan kelas atas (kelas 4-6). Ketika pembelajaran berlangsung, fokus perhatian harus benar-benar diupayakan. Di sinilah peran orang tua dan guru sangat diperlukan dalam pendampingan. Orang tua mendampingi dari rumah dan guru mendampingi dari jarak jauh. Jadi, antara orang tua dan guru harus sama-sama berperan aktif dalam pendampingan ketika pembelajaran lewat TVRI sedang berlangsung.

Sistem belajar yang dikemas dengan berbagai contoh melalui animasi memang sangat menarik. Namun, di sisi lain tetap saja masih membutuhkan pendampingan dari orang tua atau guru. Penyampaian/komunikasi yang masih bersifat satu arah menjadikan siswa berperan sebagai pendengar saja sebelum mengerjakan tugas atau PR.

Ketika ada hal yang belum jelas, siswa tidak dapat menanyakan secara langsung kepada narasumber yang sedang memfasilitasi pembelajaran. Jika orang tua atau guru tidak aktif mengikutinya, maka dimungkinkan permasalahan yang dialami siswa tidak akan segera terselesaikan. Bagaimana pun juga, kemampuan masing-masing siswa dalam memahami materi pembelajaran lewat TVRI tetap berbeda-beda. Ada yang cepat dan merasa mudah untuk mengikutinya tetapi ada juga yang lamban sehingga mengalami kesulitan.

Setiap sesi pembelajaran diselipkan tugas untuk dikerjakan. Untuk kelas bawah, soal yang diberikan ada 3 (tiga) macam. Soal-soal tersebut semuanya mengacu pada soal HOTS (High Order Thinking Skill). Soal-soal HOTS menuntut siswa untuk berpikir tingkat tinggi. Siswa tidak hanya menghafal saja. Lebih dari itu, siswa juga harus dapat menyelesaikan masalah secara runtut sesuai dengan kontek yang disajikan.

Untuk mengerjakan soal dapat dilakukan dengan pendampingan dari orang tua atau guru. Melalui pesan lewat gawai, siswa dan guru dapat berkomunikasi untuk membahas bersama. Itu sebabnya keaktifan di antara mereka harus saling menyambung. Peran guru sebagai fasilitator pembelajaran tetap harus dijalankan.

Pendampingan belajar di rumah lewat TVRI sebenarnya sangat menguntungkan. Guru tidak harus terbebani dengan berbagai persiapan pembelajaran. Materi dan media telah disiapkan melalui layar televisi. Guru tinggal memantau dan memfasilitasi ketika ada hal yang masih belum jelas bagi siswa. Kemudian mengoreksi jawaban siswa dari soal-soal yang telah dikerjakannya.

Keuntungan belajar di rumah lewat TVRI juga dapat dirasakan oleh orang tua. Melalui pendampingan saat pembelajaran dapat menciptakan suasana kehangatan dalam keluarga. Di samping itu, orang tua juga dapat mencontohkan secara langsung bagaimana cara menonton televisi yang benar. Tidak terlalu dekat dan tidak menonton sambil tiduran juga merupakan cara untuk menjaga kesehatan mata. Begitu juga dengan volume yang terlalu keras dapat mengganggu kesehatan telinga dan mengganggu kenyamanan tetangga.

Ada kelebihan tentu saja ada kekurangan. Pembelajaran lewat televisi juga tidak lepas dari kekurangan. Namun, semua itu perlu dipahami bersama bahwa pembelajaran dalam situasi tanpa tatap muka memang memiliki keterbatasan-keterbatasan. Kurangnya interaksi dan komunikasi dua arah antara siswa dengan siswa lain atau siswa dengan narasumber dapat diatasi melalui tindak lanjut bersama guru atau orang tua sebagai fasilitator.

Pencapaian target kurikulum dalam pembelajaran lewat TVRI memang sulit diukur secara kuantitatif. Hal ini disebabkan karena adanya keterbatasan waktu yang tersedia. Oleh karena itu, bagaimana kreativitas guru dalam memfasilitasi pembelajaran jarak jauh akan sangat berpengaruh pula pada kualitas pembelajaran yang diharapkan. Semoga hadirnya program belajar lewat TVRI dapat meningkatkan kreativitas para guru, orang tua, dan siswa. Salam literasi.

Kendal, 18-04-2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post