Praktik Menanam Empon-Empon sambil MIKiR.
Praktik Menanam Empon-Empon sambil MIKiR
Tantangan hari ke-88
#TantanganGurusiana
Aktivitas belajar di rumah benar-benar membutuhkan kerja sama yang baik antara guru dan orang tua. Selama masa pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir, pendidikan kecakapan hidup (life skill) bagi anak-anak sangat tepat untuk dilakukan. Salah satunya adalah memberikan pengalaman secara langsung melalui praktik menanam tanaman obat (empon-empon) di kebun.
Kebun sebagai tempat menanam berbagai tanaman dapat dijadikan sebagai sumber belajar bagi anak-anak SD. Lingkungan yang dekat dengan rumah memudahkan anak untuk menjangkaunya. Di kebun anak bisa melakukan pengamatan maupun praktik secara langsung.
Praktik langsung dapat berupa kegiatan menanam, merawat, atau memetik hasil dari tanaman. Bagi anak-anak pada jenjang Sekolah Dasar, kegiatan tersebut perlu mendapat pendampingan dari orang tua. Orang tua dapat menggantikan peran guru sebagai fasilitator.
Meski harus tetap di rumah, namun belajar tetap dapat dilakukan. Guru memandu materi atau tugas secara daring (dalam jaringan) dan orang tua mendampingi pembelajarannya. Kini, tanggung jawab pendidikan tampak nyata melibatkan unsur guru dan orang tua.
Ketika anak harus melakukan praktik pembelajaran di kebun, orang tua dapat memfasilitasi penyiapan alat dan kegiatan. Antara anak dan orang tua dapat MIKiR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi, Refleksi) bersama. Yang penting ada panduan dari pihak guru, orang tua tidak akan merasa kesulitan untuk melaksanakannya.
Misalkan saja pada saat anak harus praktik menanam salah satu jenis tanaman obat. Anak diberi kebebasan untuk memilih tanaman obat yang ada di lingkungannya. Bisa jahe, kunyit, kencur atau sirih. Proses pembelajaran dapat dilakukan sebagai berikut.
Orang tua menyiapkan alat dan bibit tanaman yang dipilih. Berikan penjelasan dan contoh tentang cara menggunakan alat dan cara menanam yang benar. Lalu, anak diberi kesempatan melakukan sendiri untuk praktik menanam (Mengalami). Saat menanam, anak dan orang tua bisa saling berinteraksi dengan bertanya jawab tentang bagaimana cara menggali tanah, seberapa ukurannya, dan cara menanamnya (Interaksi). Selesai praktik menanam, anak bisa menceritakan kembali secara lisan atau tertulis kepada guru maupun orang tua (Komunikasi). Bentuk komunikasi dapat juga dilakukan melalui gambar visual.
Komunikasi secara lisan dapat dilakukan melalui rekaman suara, video call atau teleconference. Ketika komunikasi lisan berlangsung, anak-anak yang lain dapat juga menanggapinya melalui rekam suara dalam group WA atau video call. Jika hal ini dapat dilakukan tentunya pembelajaran dalam jaringan akan menarik dan dapat memunculkan keberanian anak-anak untuk berkomunikasi (lisan). Pada saat anak-anak berkomunikasi, orang tua dari masing-masing anak dapat menjadi pendengar atau pengamat. Tentu saja untuk melakukan hal yang demikian perlu ada komunikasi dan kesepakatan dengan semua pihak baik orang tua, guru maupun anak-anak.
Akhir pembelajaran dilakukan refleksi untuk menemukan kebermaknaan dalam pembelajaran yang telah berlangsung. Anak-anak bisa dibiasakan untuk menyampaikan pendapatnya atau perasaannya ketika sedang melakukan praktik. Bagaimana kesan yang ia dapatkan selama praktik menanam dapat juga disampaikan dengan bahasa sendiri. Di samping itu, anak juga dibiasakan untuk saling menerima dan memberi saran (take and give) selama mengerjakan tugas demi perbaikan. Jadi, tugas yang diberikan oleh guru tidak hanya sekedar tugas saja tanpa ada aktivitas MIKiR secara lengkap.
Dengan demikian, pembelajaran dengan model MIKiR tidak hanya dapat dilakukan di sekolah saja melalui tatap muka. Melalui pembelajaran dalam jaringan, MIKiR justru dapat dilakukan dengan melibatkan peran orang tua. Sebagai bahan pengayaan, anak bisa diajak berselancar dengan orang tua untuk mencari tambahan pengetahuan tentang tanaman yang telah dipilihnya dari sumber buku bacaan atau internet. Semoga bermanfaat.
Kendal, 15-04-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
