Siap Berpikir HOTS Melalui MNR
Siap Berpikir HOTS Melalui MNR
Tantangan hari ke-97
#TantanganGurusiana
Waktu luang dapat diisi dengan berbagai kegiatan. Bagi yang gemar Matematika, dapat mengisinya dengan belajar Matematika Nalaria Realistik (MNR). Seperti apakah belajar MNR itu?
MNR memang tidak seperti Matematika yang diajarkan pada umumnya sesuai dengan kurikulum yang ada. Matematika yang sering dijadikan sebagai ajang kompetisi ini lebih menekankan pada proses penalaran ketika mengerjakan soal-soal. Penalaran yang dimaksud adalah mengerjakan soal dengan menggunakan nalar atau cara berpikir yang logis. Soal-soal dalam MNR biasanya berkaitan dengan penyelesaian masalah sehari-hari.
Matematika Nalaria Realistik (MNR) merupakan suatu terobosan baru dalam pembelajaran Matematika. MNR lebih menekankan penggunaan nalar dalam memahami Matematika, sehingga pembelajaran ini berbeda dengan pembelajaran Matematika di sekolah. Dengan MNR, siswa diajarkan untuk menganalisis masalah, menarik simpulan, dan menyelesaikan masalah dengan berbagai metode pemecahan masalah yang berlogika. (**(censored)** tanggal 19 Juni 2015).
Soal-soal MNR sering kita jumpai pada saat anak-anak mengikuti Olympiade Sains dan Matematika. Kalau sekarang istilahnya Kompetisi Sains dan Matematika. Untuk mengerjakan soal-soal dalam kompetisi tersebut benar-benar membutuhkan proses berpikir tingkat tinggi. Berpikir tingkat tinggi sering disebut dengan istilah HOTS (Higher Order Thinking Skill). Kemampuan berpikir tingkat tinggi sangat dibutuhkan untuk menghadapi era abad ke-21.
Soal-soal HOTS tidak hanya mengandung ingatan dan pemahaman saja tetapi sudah mengacu pada tahap analisis. Kalau membahas tentang tingkatan-tingkatan berpikir anak, maka kita jadi teringat tentang Taksonomi Bloom yang membagi tingkatan berpikir pada ranah kognitif (pengetahuan) dalam 6 (enam) tahapan yaitu ingatan, pemahaman, penerapan, analisa, sintesa, dan evaluasi. Untuk menyelesaikan masalah sehari-hari dalam soal MNR memang tidak hanya mengandalkan ingatan saja. Kemampuan menganalisis juga sangat dibutuhkan agar dapat menentukan langkah-langkah dalam penyelesaian soal.
Kemampuan menganalisis dan menyimpulkan tidak lepas dari kemampuan literasi baca, tulis, dan hitung yang dimiliki anak. Semakin tinggi kemampuan literasinya, maka anak akan semakin mudah untuk memahami kalimat-kalimat yang tertuang dalam soal. Mengapa demikian? Ya, karena dalam soal-soal MNR yang mengandung HOTS tidak cukup hanya mengingat kembali (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite) saja. Akan tetapi sudah meliputi adanya kemampuan menganalisis masalah lalu menyimpulkannya.
Soal-soal MNR biasanya disajikan dengan kalimat yang agak panjang. Jawaban pun dilakukan melalui uraian. Oleh karena itu, agar dapat mengerjakan soal dengan mudah diperlukan kemampuan untuk memahaminya. Jika tiap-tiap kalimat dapat dipahami dengan baik, barulah menentukan langkah-langkah penyelesaian. Kemudian, dari penyelesaian itu dibuatlah simpulan.
Belajar MNR sebenarnya dapat dimulai dari kelas bawah pada jenjang Sekolah Dasar (SD). Tayangan belajar dari rumah lewat TVRI pada mata pelajaran Matematika yang diampu oleh Pak Ridwan sangat bermanfaat karena selalu diselipi soal-soal MNR. Soal-soal tersebut dapat membantu guru, orang tua maupun siswa dalam memahami bentuk-bentuk soal HOTS yang mengandung cara menalar secara realistik.
Meskipun durasinya cukup singkat, namun cara penyampaiannya sangat jelas. Dengan mengenakan kostum daerah yang ada di Indonesia, Pak Ridwan selalu mengatakan bahwa belajar Matematika bersamanya membuat Matematika lebih mudah. Memang kalau anak-anak telah memiliki kemampuan dasar literasi yang bagus, belajar MNR bukan hal yang dirasa sulit.
Ambil saja contoh soal sederhana. Ketika anak belajar perkalian dan pembagian bilangan cacah anak tidak hanya cukup menghitung satu kali proses berpikir saja. Dalam belajar MNR perkalian dan pembagian bilangan cacah, anak harus dapat memahami dan menyimpulkan terlebih dahulu tentang konsep perkalian dan pembagian. Perkalian adalah penjumlahan yang berulang. Sedangkan pembagian adalah pengurangan yang berulang. Setelah memahami konsep tersebut, barulah diberikan soal-soal MNR yang berkaitan dengan perkalian, pembagian, dan campuran antara keduanya.
Berikut ini adalah contoh soal MNR untuk kelas 1-3 yang disampaikan oleh Pak Ridwan beserta pembahasannya. Terdapat beberapa buah becak di pangkalan dengan jumlah roda 27 roda. Kemudian, ada 8 penumpang datang. Jika setiap becak dinaiki oleh 2 penumpang, maka ada berapa becakkah yang masih berada di pangkalan? Jika mengamati soal tersebut, mungkin ada yang berpendapat bahwa soal tersebut termasuk soal yang terlalu sulit dan panjang bagi anak-anak kelas bawah. Benarkah demikian?
Soal-soal MNR termasuk soal yang HOTS. Soal yang HOTS tidak selalu identik dengan soal yang sulit. Sulit dan tidaknya anak ketika mengerjakan soal HOTS dalam MNR sebenarnya tergantung dari seberapa tinggi kemampuan literasinya. Jika kemampuan literasinya bagus, maka anak akan mampu menganalisisnya dan menentukan langkah-langkah penyelesaian masalah dan mengambil simpulan dengan tepat.
Dengan berpikir HOTS soal tersebut di atas dapat diselesaikan dengan langkah-langkah sesuai bimbingan Pak Ridwan sebagai berikut. Pertama kita tulis banyaknya becak dibagi 3 karena masing-masing becak beroda 3 (27:3=9). Kemudian menghitung banyak becak yang digunakan dengan membagi banyak penumpang dengan 2 (1 becak hanya bisa memuat 2 orang). Hasil baginya adalah 8:2=4. Setelah menghitung banyak becak yang digunakan, maka untuk menghitung banyak becak yang masih berada di pangkalan berarti sama dengan menghitung selisihnya (9-4=5). Jadi simpulannya adalah banyak becak yang masih berada di pangkalan ada 5 becak.
Meskipun bilangan yang digunakan dalam mengerjakan soal kurang dari 30, namun dengan kalimat yang cukup panjang bagi anak-anak kelas bawah ternyata membutuhkan proses analisis yang jeli. Bagi anak-anak dengan kemampuan literasi tinggi tentu bukan hal yang sulit untuk menyelesaikannya. Sebaliknya, bagi yang kemampuan literasinya masih rendah mungkin akan mengalami kesulitan dan menganggap bahwa MNR itu sulit. Nah, dengan demikian kita jadi tahu ternyata soal MNR bukanlah soal yang sulit tetapi memang benar-benar soal yang HOTS. Salam literasi.
Kendal, 24-04-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
