Tak Ada Pelantang, Botol Bekas pun Jadi
Tak Ada Pelantang, Botol Bekas pun Jadi
Tantangan hari ke-75
#TantanganGurusiana
Rasanya ingin tertawa saja ketika melihat si kecil berkreasi. Ia minta tolong untuk diambilkan botol bekas. E...tidak tahunya mau dijadikan pelantang.
Beberapa hari belajar di rumah memang menimbulkan rasa jenuh dan bosan. Bergurau dan bertegur sapa dengan guru dan teman jadilah kerinduan. Keluar rumah bukanlah hal yang aman untuk saat ini. Semua harus kompak mematuhi protokol keluar atau masuk ke rumah. Semua demi mencegah penularan virus covid-19 yang sangat berbahaya.
Pembelajaran yang biasanya dilakukan dengan tatap muka di sekolah, kini beralih menjadi pembelajaran dalam jaringan (daring). Sangat wajar jika kejenuhan perlu diselingi dengan berbagai kreativitas. Benda-benda yang ada di dalam rumah ternyata dapat dijadikan sebagai sarana untuk berkreasi. Salah satu contohnya adalah botol minuman plastik bekas.
Beberapa hari yang lalu, si kecilku yang masih duduk di kelas 3 (tiga) sekolah dasar memang ingin dibelikan alat pelantang suara. Aku menyanggupinya karena alat itu akan digunakan untuk berakting seolah-olah ia sebagai pencerita. Berhubung situasi mengharuskan kita untuk tetap berada di rumah (stay at home), maka membeli pelantang pun ditunda.
Tak ada pelantang, botol bekas pun jadi. Seperti itulah akhirnya. Sebuah botol plastik bekas minuman larutan penyegar yang kuletakkan di dekat televisi jadilah sasaran. Si kecil memintanya. Lalu kuambil dan kuberikan padanya. Segera dipeganglah bagai sebuah pelantang sungguhan.
Buku kumpulan dongeng Si Kancil telah berada ditangannya. Lalu mulailah si kecilku membaca buku cerita. Aku selaku orang tua menjadi pendengarnya. Dia pun berpesan agar aku tidak boleh mengantuk apalagi sampai tertidur saat mendengarkan ceritanya. Aku mengiyakan dan meyakinkan pintanya.
Kudengarkan baik-baik. Sesekali aku tersenyum geli melihat tingkah dan aktingnya. Botol dipegang dengan tangan kanan sambil didekatkan ke mulut. Sementara tangan kirinya memegang buku sambil sesekali menggunakannya untuk menjelaskan cerita.
Tak kusangka dan tak kuduga. Pada saat aku serius mendengarkan cerita, e...tiba-tiba ia bertanya padaku. "Ada pertanyaan?" Begitulah yang keluar dari mulut mungilnya yang sempat mengagetkanku. Cerdik juga ya pikirku.
Aku pun mengajukan pertanyaan seputar cerita yang sedang ia baca. Sambil menahan senyum kudengarkan jawaban darinya. Dengan gaya yang tampak sangat percaya diri, ia memegang pelantang botol plastik menguraikan jawaban yang tepat sesuai dengan isi buku bacaan.
Terima kasih tak lupa kuucapkan. Tak hanya jawaban yang memuaskan, tetapi keberanian mengungkap cerita dengan bahasa sendiri membuat suasana belajar terasa menyenangkan. Rasa jenuh dan bosan akhirnya tergantikan dengan tertawa bersama.
Diam-diam aku jadi berkata dalam hati. Ternyata anak-anak juga bisa berkreasi. Bermula dengan buku-buku bacaan yang menarik, gerakan literasi (baca) dapat ditumbuhkembangkan melalui kegiatan di rumah bersama orang tua. Salam literasi.
Kendal, **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
