Kan Kuikuti Jejakmu
Kan Kuikuti Jejakmu
Tantangan hari ke-121
#TantanganGurusiana
Tiada kusangka dan tiada kuduga. Awalnya aku merasa ragu dan sedikit malu. Aku hanyalah pendatang baru dalam komunitas di group Media Guru Indonesia (MGI) yang dipimpin oleh Pak CEO Mohammad Ihsan. Anggotanya yang begitu banyak hingga mencapai puluhan ribu membuatku serasa tak mampu berpacu untuk mengejar banyak ketertinggalan.
Memang benar, beberapa tahun yang lalu aku pernah mengikuti pelatihan Sagu Sabu dari Media Guru Indonesia (MGI) di kelas Banjarnegara Satu. Namun, setelah mengikuti pelatihan itu, aku tak pernah lagi menulis di blog Gurusiana milik MGI. Waktu itu, aku hanya sempat menulis satu artikel saja di blog yang merupakan tempat menulis bagi para Gurusianer yang kebanyakan adalah para guru dari berbagai jenjang.
Rasa kurang percaya dirilah yang membuatku enggan untuk menulis di Gurusiana. Meski dua buku telah berhasil kutulis dan diterbitkan, namun itu baru sebatas untuk bahan bacaan sendiri saja. Minat untuk menulis di blog Gurusiana pun tak begitu kupedulikan. Apa lagi membagikannya di face book. Sama sekali tak terpikirkan sebelumnya.
Setelah kurang lebih 4 tahun berselang, kucoba lagi buka-buka face book. O...ternyata ada group face book Media Guru Indonesia. Aku pun mencoba untuk bergabung di dalamnya. Beberapa tulisan kuperhatikan. Alhamdulillah ada satu nama penulis yang rasanya pernah kukenal.
Benar juga dugaanku. Penulis tersebut memang pernah kukenal namanya. Ia adalah teman sepelatihan dalam Sagu Sabu Banjarnegara. Aku dan dia memang belum pernah bertegur sapa. Maklum saja karena kami memang belum saling mengenal satu sama lain.
Meski begitu, tak apalah aku coba menyapanya via WA. Kebetulan nama dan nomornya ada dalam group WA Sagu Sabu Banjarnegara. Lalu kuberanikan diri untuk bertanya ini dan itu tentang Gurusiana. Tanpa keberatan ternyata ia bersedia untuk membantuku agar aku bisa kembali menulis di Gurusiana. Apalagi kubaca informasi, MGI akan mengadakan tantangan menulis tanpa jeda 30 hari, 60 hari, dan 90 hari.
Bermodal nekad, aku coba mengikutinya dengan menulis apa adanya saja. Sempat grogi juga saat mau upload tulisan. Bingung dan beberapa kali keliru itu yang terjadi. Namun, aku tak putus asa. Hari pertama, kedua, dan ketiga tampak kacau balau sekali unggahannya.
Biarlah gagal maning, gagal maning (lagi) aku tetap berusaha. Tanpa rasa malu, ketika ada kesulitan aku pun bertanya lagi padanya. Jawaban pun kudapat dengan lega. Aku terus menulis dan menulis. Tak peduli tulisanku ada yang membaca atau tidak, yang penting aku tetap menulis.
Menulis bagiku merupakan sarana untuk saling berbagi kebaikan. Apa lagi ada tantangan sehingga menulis tiap hari menjadi sebuah keharusan. Tak sia-sia usahaku karena piagam biru akhirnya dapat kuterima sebagai penghargaan atas keikutsertaanku dalam tantangan.
Kucoba lagi untuk lanjut dalam tantangan berikutnya. Alhamdulillah selain piagam biru, perak, dan emas dapat kupegang, dua artikelku juga masuk dalam daftar pemenang lomba menulis untuk dijadikan dalam buku antologi berjudul "Merdeka Belajar" dan "Satu Derap Seribu Giat Guru Penggerak Menjawab". Satu lagi artikelku juga ikut dalam buku antologi bersama 87 penulis dengan judul "Tasbih Senandung Rindu".
Aku lebih suka menulis jenis kolom. Menurutku, jenis tulisan ini tak begitu menguras pikiran karena bahannya berupa pengalaman nyata. Satu per satu pengalaman praktik baik di sekolah ternyata lumayan asyik untuk kutulis menjadi sebuah artikel sederhana. Beruntung aku menyimpan beberapa foto kegiatan yang ada di sekolahku. Nah, berbekal foto-foto itulah kucoba menulisnya sekaligus untuk mengikuti tantangan yang cukup menguji konsistensi.
Hampir satu bulan menulis di blog Gurusiana, rasanya aku masih belum percaya diri. Aku merasa belum mempunyai banyak teman. Lalu kucoba memberanikan diri menyapa seorang Gurusianer yang telah populer artikel-artikelnya. Aku berani menyapanya karena aku merasa senang ketika ada tulisanku yang keliru dan beliau sudi mengritikku sambil membetulkan. Sapaanku ternyata disambut dengan ikhlas hati.
Kemudian mulailah kuikuti jejaknya dan kutinggalkan pula jejak pada tulisan-tulisannya. Gayung bersambut. Tulisan-tulisanku juga terbaca olehnya dan selalu ada jejak yang ditinggalkannya. Kucoba menyapa tulisan teman lainnya dan meninggalkan jejak di sana. O...rupanya mereka juga melakukan hal yang sama pada tulisanku.
Kini, temanku menjadi bertambah banyak. Satu sama lain saling menginspirasi dan memotivasi. Banyak ragam tulisan mereka. Ada puisi, cerpen, opini, kolom, pantun, reportase, dan ulasan berita. Bahkan ada juga tulisan tentang kisah-kisah perjalanan dalam tugasnya. Tulisan-tulisan mereka diramu dalam kalimat-kalimat yang mengalir dengan deras bak air menuju ke muaranya.
Nah, di situlah aku banyak belajar dari mereka yang lebih dahulu mengisi hari-harinya di blog Gurusiana. Aku pun senang ketika mereka mengunggah buku-buku hasil karyanya. Semoga aku bisa mengikuti jejak-jejak mereka dalam berkarya.
Kendal, 18-05-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
