Kotak Baca Mini Cara Lain Semarakkan Gerakan Literasi Sekolah
Kotak Baca Mini Cara Lain Semarakkan Gerakan Literasi Sekolah
Tantangan hari ke-111
#TantanganGurusiana 365 hari
Banyak hal yang dapat dilakukan untuk menyemarakkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Jika membahas tentang literasi, maka yang terlintas di benak kita tentu hal-hal yang berkaitan dengan buku-buku bacaan dan gedung perpustakaan. Bagaimana jika sebuah sekolah tidak memiliki gedung perpustakaan?
Sekolah sebagai lembaga formal untuk tempat belajar dan menuntut ilmu idealnya dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendidikan. Salah satunya adalah gedung perpustakaan beserta isi dan perlengkapannya. Namun, pada kenyataannya masih ada sekolah-sekolah yang belum memiliki gedung yang dapat digunakan sebagai sumber belajar bagi anak-anak. Apalagi sekolah yang berada di daerah pedesaan.
Tidak adanya gedung perpustakaan sekolah bisa jadi karena lahan atau area yang tidak mencukupi untuk mendirikannya. Jika hal ini yang terjadi, maka perlu ada alternatif lain untuk menarik minat baca bagi anak-anak. Selain pengadaan pojok baca di tiap-tiap kelas, sekolah juga dapat menyediakan kotak baca mini pada sudut halaman sekolah atau tempat yang strategis sebagai kotak baca mini literasi.
Dengan ukuran yang minimalis, kotak tersebut dapat dibuat dari bahan kayu atau seng dengan diberi atap sebagai pelindung. Di dalamnya bisa dibuat rak-rak untuk menempatkan buku-buku bacaan. Bentuknya bisa menyerupai almari atau kotak buku. Desain pembuatannya dapat melibatkan peran serta wali murid atau komite sekolah. Pengadaan kotak yang unik tersebut dapat dibuat 2 (dua) jenis untuk kelas bawah dan kelas atas.
Penempatan kotak baca mini literasi di halaman sekolah bertujuan untuk memudahkan anak-anak mengambil buku bacaan pada saat istirahat atau waktu luang. Di samping itu, dengan penempatan kotak mini di arena terbuka akan memberikan kesan yang santai dan bebas untuk membaca bagi anak-anak. Pengambilan buku bacaan di dalam kotak mini literasi juga dapat untuk membiasakan anak-anak antre atau bergilir.
Satu anak cukup mengambil satu buku untuk dibaca kapan pun di sela-sela waktu luang. Tidak perlu ada pelayanan khusus karena anak-anak bisa mengambilnya sendiri secara mandiri. Mereka harus berlatih bertanggung jawab untuk menata dan mengembalikan lagi buku yang telah dibacanya.
Untuk mengisi kotak mini literasi, sekolah dapat bekerja sama dengan perpustakaan daerah setempat atau menjalin kerja sama dengan pihak-pihak yang peduli dengan geliat literasi. Bisa juga pihak sekolah mengalokasikan anggaran untuk memperbanyak buku-buku bacaan sesuai dengan kebutuhan. Akan lebih baik jika pengadaan buku-buku bacaan dibedakan untuk keperluan anak-anak kelas bawah dan kelas atas.
Kerja sama dengan penerbit buku dapat mempermudah untuk mendapatkan buku-buku bacaan yang sesuai dengan kebutuhan. Buku bacaan untuk anak-anak kelas bawah lebih tepat dengan buku-buku besar (big book). Buku tersebut berukuran besar dan tidak terlalu banyak halaman tetapi banyak gambarnya. Tulisan yang besar-besar dengan kalimat yang tidak terlalu panjang juga dapat memudahkan anak-anak kelas bawah untuk memahami isi bacaan.
Kualitas buku dan isi bacaan perlu diperhatikan dalam pengadaan buku bacaan. Dongeng, legenda atau kisah-kisah perjuangan seorang tokoh pahlawan atau orang-orang sukses sangat cocok untuk menjadi bahan bacaan anak. Demikian juga dengan buku-buku ensiklopedi dapat melengkapi isi kotak mini literasi.
Meskipun anak-anak dapat melayani sendiri dalam pengambilan buku bacaan di dalam kotak mini literasi, namun kontrol dan pengawasan tetap diperlukan. Di sinilah peran guru dan kepala sekolah perlu dijalankan sebagai tim Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Tim tersebut dapat melakukan perannya secara bergantian.
Tujuan pengawasan selain memberi motivasi kepada anak-anak, juga untuk menjaga agar buku-buku bacaan dapat digunakan sesuai dengan fungsinya. Himbauan agar buku tetap bersih, rapi, dan tidak rusak atau hilang juga perlu disampaikan dalam pengawasan. Dengan demikian, kotak baca mini literasi benar-benar dapat menjadi salah satu alternatif untuk menyemarakkan gerakan literasi di sekolah.
Kendal, **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
