Segelas Kopi Menjawab Kritikan
Segelas Kopi Menjawab Kritikan
Tantangan hari ke-119
#TantanganGurusiana 365 hari
Apakah Anda penggemar minuman kopi? Secara umum minuman kopi banyak disukai oleh kaum Adam. Entahlah, benar atau salah pada kenyataannya juga banyak kaum Hawa yang suka minum kopi.
Minum kopi memang terasa sangat nikmat. Apalagi jika disajikan masih panas dengan asap yang mengepul dengan aroma khasnya. Benar-benar bisa menambah semangat untuk bekerja.
Segelas kopi hitam dengan campuran gula pasir sesuai selera mampu menemani seseorang untuk lembur menyelesaikan suatu pekerjaan. Di dalamnya terkandung zat kafein yang memicu penikmatnya agar betah menahan kantuk. Sehingga minum segelas kopi sangat cocok bagi mereka yang biasa lembur menyelesaikan pekerjaan tanpa ngantuk.
Membahas tentang segelas kopi, saya jadi senyum-senyum sendiri. Karena di dalam kopi ternyata ada kritik yang membangun dan membuat saya justru merasa senang. Jadi, sangat berbeda dengan kritikan seorang pengamat pendidikan yang sedang ramai menjadi bahan perbincangan.
Saya seorang guru. Saya merasa suka dan senang ketika ada sebuah kritikan. Asalkan kritikan itu bersifat membangun dan yang mengkritik juga mau memberikan solusi agar saya menjadi lebih baik. Bukankah dalam setiap penulisan kata pengantar karya guru selalu ada kalimat, "kritik dan saran yang bersifat membangun selalu saya harapkan." Itu artinya seorang guru jelas-jelas mau menerima kritikan dalam tanda kutip.
Taruhlah kritik di dalam peti emas. Kalimat tersebut saya ingat betul sebagai nasihat dari guru saya dulu saat masih duduk di bangku SMP. Hingga kini nasihat itu selalu saya ingat. Anggaplah bahwa sebuah kritikan itu sama halnya dengan sebuah cambuk.
Kritikan tidak selalu bersifat negatif. Tiap-tiap orang mempunyai cara tersendiri dalam menghadapi sebuah kritikan. Jika kritikan itu bersifat membangun, maka alangkah baiknya untuk diterima. Sebaliknya, jika kritikan itu tidak sesuai dengan kondisi nyata dan tidak masuk akal maka tak perlu kita menanggapinya dengan emosi yang berlebihan.
Bekerja sebagai guru, bukanlah hal yang dapat dikritisi begitu saja. Guru memang bukan dewa dan bukan pula makhluk yang sempurna. Guru juga mempunyai hati dan rasa seperti para profesional lainnya. Bekerja dengan gaji yang setara sesuai tanggung jawabnya merupakan harapan yang wajar. Guru bekerja juga ada kode etiknya.
Memajukan pendidikan anak bangsa bukan hanya tanggung jawab guru semata. Pendidikan itu tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan negara. Guru sebagai salah seorang abdi negara selalu berusaha untuk mencari terobosan-terobosan demi kemajuan anak didiknya.
Melalui berbagai kegiatan dalam wadah Kelompok Kerja Guru (KKG) maupun Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) para guru terus belajar bersama. Tidak hanya itu, berbagai seminar dan pelatihan juga diikutinya. Bahkan dengan biaya sendiri tidak sedikit yang rela untuk melakukannya. Semua itu dilakukan demi memajukan kualitas diri dalam menjalankan profesinya.
Segelas kopi yang saya buat menjadi gambar potret merupakan salah satu bagian untuk meningkatkan kemajuan. Di dalamnya ada sebuah kritikan yang mampu mengubah haluan. Selain harus menguasai keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran, ada baiknya seorang guru juga mempunyai keterampilan dalam pengambilan potret atau gambar.
Potret atau gambar dapat digunakan sebagai salah satu media pembelajaran di dalam kelas. Objek-objek yang tidak bisa dihadirkan secara langsung dapat diwakili oleh sebuah potret. Kualitas potret yang bagus dapat berpengaruh pada minat belajar anak. Selain dapat menarik perhatian, potret juga dapat untuk membantu mempermudah pemahaman anak didik terhadap materi pelajaran.
Itu sebabnya, di sela-sela waktu luang saya gunakan kesempatan untuk belajar memotret untuk mendapatkan hasil yang menarik perhatian. Belajar memotret secara daring (online) dan biaya mandiri tidak mengapa. Yang penting ada kemajuan untuk memajukan pembelajaran.
Pada hari ketiga mengikuti pelatihan memotret secara daring, kebetulan temanya adalah kopi. Dalam pendampingan, dengan senang hati saya terima kritik dan saran. Semua itu dilakukan demi perbaikan. Jadi, siapa bilang kalau guru tak mau menerima kritikan?
Kendal, 16-05-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
