Awalnya Terpaksa, Biasa Akhirnya Bisa
Awalnya Terpaksa, Biasa Akhirnya Bisa
Tantangan hari ke-144
#TantanganGurusiana 365 hari
#Lomba Menulis bulan Juni
Ala bisa karena biasa. Slogan seperti itu sudah sering kita dengar dan kita baca. Sebuah aktivitas baru, memang terasa asing bagi siapa pun yang belum pernah mengalaminya. Oleh karena itu, wajar saja kalau hal itu dianggapnya sebagai sesuatu yang sulit untuk dilakukan.
Awal Menulis
Menulis merupakan salah satu aktivitas yang dianggap sulit oleh sebagian orang. Begitu pula bagiku. Rasa hati ingin jadi penulis tetapi kemampuan untuk mengurai kata-kata menjadi kalimat padu yang bermakna sering terhenti di tengah jalan. Maka, mau tidak mau ya kepekso (terpaksa) harus berani mengikuti tantangan menulis tanpa jeda dan lomba.
Awal mengikuti tantangan menulis yang diselenggarakan oleh Media Guru Indonesia (MGI) sungguh terasa memberatkan dan mendebarkan. Maklum saja karena selama ini aku belum terbiasa menulis di blog atau di media sosial lainnya. Ternyata dalam tantangan tersebut justru ada kewajiban bagi setiap peserta untuk mengunggah tulisannya di blog Gurusiana dan membagikannya di face book group MGI maupun face book pribadi.
Tanpa malu-malu, kepekso (terpaksa) aku pun bertanya pada teman yang sudah biasa mengunggah tulisannya di blog Gurusiana. Alhamdulillah dengan ikhlas hati ia mau membantuku ketika ada kesulitan. Hari pertama, kedua, ketiga, dan keempat masih mengalami kendala. Setelah kucoba terus akhirnya pada hari kelima penulisan dan pengiriman tulisan dapat berjalan lancar.
Pilihan dan Manfaat
Aktivitas menulis terus berlanjut. Kesulitan untuk menghadirkan ide mulai terasa. Kadang hingga berjam-jam kutunggu ide tidak muncul juga. Solusinya? Ya, kujadikan saja foto-foto kegiatan praktik baik di sekolah sebagai bahan tulisan/artikel. Mulai saat itu, foto kegiatan menjadi barang penting dan berharga bagiku. Ia dapat menolongku untuk terus menulis dan menulis. Kuikuti tantangan menulis 30 hari, 60 hari, dan 90 hari. Tantangan tersebut benar-benar menguras pikiran dan energi.
Kupaksakan diri untuk menulis apa saja. Tujuanku hanya satu. Aku ingin berbagi kebaikan melalui tulisan. Praktik-praktik baik yang berkaitan dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), literasi, pembelajaran, dan penanaman karakter bangsa menjadi pilihan untuk menjadi sebuah tulisan.
Beragam rubrik ditawarkan dalam blog Gurusiana. Kuawali dengan menulis kolom. Jika waktu tak cukup untuk menulis artikel, aku terpaksa menulis puisi. Yang penting menulis agar tak sampai kena remidi. Maklum saja karena dalam tantangan ini apabila satu hari saja bolong tidak mengirim tulisan, maka penulis harus mengulangnya dari awal. Ngeri juga kan? Jadi meskipun lelah, letih, ngantuk, dan idenya macet terpaksa aku pun tetap menulis.
Selain kolom dan puisi, kucoba pula menulis reportase, pantun, pentigraf, dan cerita anak. Kutulis semua itu untuk menaklukkan sebuah tantangan. Meskipun berat, akhirnya lolos juga hingga piagam biru, perak, dan emas sebagai tanda penghargaan dapat kupegang. Bahkan 2 (dua) artikel dengan tema sudahkah kita merdeka belajar dan satu derap seribu giat guru penggerak menjawab juga masuk dalam daftar pemenang lomba menulis bulan Maret dan April 2020.
Di balik serunya mengikuti tantangan, ternyata banyak juga manfaatnya. Selain menumbuhkan kebiasaan menulis dan membaca, teman pun menjadi bertambah banyak. Yang lebih penting lagi, pengetahuan, pengalaman, dan wawasan tentang tulis menulis menjadi berkembang. Rasa percaya diri untuk membagikan tulisan di media sosial pun semakin mantap.
Tulisan yang dibagikan dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengembangkan budaya literasi baik dalam lingkungan keluarga maupun sekolah. Sasarannya adalah para guru, siswa, dan orang tua. Secara tidak langsung kegiatan membaca bersama tetap dapat dilakukan.
Berawal dari kepekso (terpaksa) menulis, lama-kelamaan berubah menjadi suatu kebiasaan. Pada akhirnya bisa menjadi sebuah aktivitas yang menyenangkan. Meski tulisanku belumlah sehebat tulisan teman-teman, setidaknya aku dapat menorehkan sebuah kenangan untuk masa yang akan datang. Semoga langkah ini dapat diikuti oleh teman-teman guru di lingkungan kerjaku dan juga anak-anak didikku. Semangat berliterasi.
Kendal, 10-06-2020
Penulis bernama Robingah, S.Pd.SD yang lahir di Banjarnegara, 21 Januari 1970. Sehari-hari bertugas sebagai Kepala Sekolah di SDN Sukomangli, Kec.Patean, Kab.Kendal, Jawa Tengah. Alamat emailnya **(censored)** dan HP/WA yang dapat dihubungi **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
