Cerita Malam itu
Cerita Malam itu
Tantangan hari ke-138
#TantanganGurusiana 365 hari
Malam itu. Sunyi, sepi, dan sendiri mengintai kelam. Rupanya rembulan masih belum mau menampakkan wajahnya untuk memantulkan sinar sang surya. Tampak dari jendela kaca dan ventilasi di kamar, langit begitu muram. Kerlip bintang-bintang pun tiada. Mereka bersembunyi entah ke mana.
Sesekali kudengar lalu lalang laju kendaraan yang melintas di jalan raya dekat rumah. Ada yang menderu pertanda muatan begitu berat untuk melewati jalan yang sedikit menanjak dan berliku. Ada pula yang tampak pelan menjaga kecepatan demi sebuah keselamatan melintasi turunan.
Malam itu. Sayup-sayup terdengar irama binatang malam memecah kesunyian. Suhu udara pun semakin dingin menyusup di badan. Seisi rumah telah merebahkan diri di tempat masing-masing. Mereka semua tertidur lelap untuk melepas lelah seharian. Kesibukan demi kesibukan telah mereka lakukan.
Malam itu. Aku terjaga dari sepenggal mimpi yang belum mencapai ketuntasan. Duduk termenung di atas tempat tidur. Teringat olehku seorang pejuang keluarga yang begitu rela membanting tulang untuk bekerja lembur seolah tak kenal waktu. Hingga larut malam biasanya pesanan dikerjakan. Hal itu dilakukannya demi mengantarkan cita-cita semua anaknya agak kelak menjadi orang-orang yang berilmu dan berguna.
Pak Suradi namanya. Tukang kayu yang begitu rajin dan giat bekerja. Selalu ada saja perabot rumah tangga yang dibuatnya. Sebelumnya, tenaga muda yang beliau miliki banyak dihabiskan untuk berkecimpung dalam membangun gedung-gedung Inpres di desanya. Garapan di tangannya tampak bagus dan nyata.
Beliau selalu berhati-hati dan teliti dalam setiap langkah kerjanya. Sedikit saja ukuran kayu melenceng dari yang seharusnya, segeralah diulang agar hasil sesuai dengan harapan. Detail-detail kerangka pun selalu diperhatikan. Berbagai model perabot rumah tangga sering diciptakan. Tak menghitung waktu, pekerjaan diselesaikan hingga peluh bercucuran membasahi tubuh sedangnya.
Tenaganya begitu kuat meski terbiasa dengan makan seadanya dan tak pernah berlebihan. Teh pahit menjadi minuman khas yang setia menjadi teman di kala kehausan. Kaos oblong dan celana kolor pendek selalu menempel di badan saat bekerja. Sesekali dihisapnya tembakau dalam lintingan untuk melepas penat sebelum kerja dilanjutkan.
Pekerjaan membangun gedung Inpres selesai. Tak ada jeda menahan waktu untuk terus bekerja. Beralih dengan berbagai perabot rumah tangga jadilah kesibukan berikutnya. Berbagai pesanan datang dari para tetangga dan kolega. Meja, kursi, dipan, dan lemari kayu biasa menjadi barang pesanan.
Siang malam dihabiskan waktunya agar pesanan dapat selesai tanpa mendatangkan kecewa pelanggan. Bekerja lembur hingga larut malam beliau lakukan dengan suka rela. Maklumlah, membesarkan 6 (enam) anak yang harus bersekolah semua tentu membutuhkan banyak biaya. Sehingga waktu malam pun tak disia-siakannya demi menunaikan tanggung jawab sebagai seorang kepala keluarga.
Thak, thek, thak, thek bunyi palu sering mengganggu ketenangan tidur tetangga. Namun, apalah daya. Bayaran sebagai seorang tukang kayu yang diterima tak sebanding dengan kebutuhan keluarga. Namun begitu, Pak Suradi menyadari dan tak pernah mengeluh akan pendidikan Sekolah Rakyat (SR) yang dienyamnya tetapi tidak sampai tamat. Itu sebabnya, beliau bertekad agar keenam anaknya tak mengalami nasib seperti dirinya.
Pak Suradi yang beristri Yu Rinah si penjual tepung beras tak pernah takut dengan lelah dalam bekerja. Lembur malam dianggapnya sebagai perjuangan nyata. Demi anak-anaknya agar tak sampai hidup sengsara, maka ketika malam tiba diambillah waktu istirahat cukup sebentar saja. Sisa malamnya digunakan untuk lembur dan lembur kerja. Tak lupa segelas jamu seduh rutin diminum agar kesehatan tetap terjaga.
Sungguh merupakan sebuah pelajaran hidup yang benar-benar berharga. Seorang tukang kayu tak berijazah selembar pun rela mengubah nasibnya dengan membanting tulang siang dan malam tanpa keluhan. Semua dilakukannya dengan hati lapang dan gembira. Lalu, pantaskah jika kita berkeluh kesah dengan segudang tugas yang harus diselesaikan di atas meja?
Sudah sewajarnya kalau setiap manusia ingin hidup sejahtera. Hidup berkecukupan dengan kerja yang ringan. Akan tetapi, mungkinkah kita bisa menuju pada hidup sejahtera tanpa ada sebuah perjuangan dan kerja keras?
Bila kita mendengar dan melihat orang lain berpenghasilan dan bergaji besar tentu merupakan hal yang menggiurkan. Namun, apa yang akan kita lakukan ketika melihat masih banyak orang yang berpenghasilan jauh dari yang kita dapatkan? Bersyukur merupakan sikap dan tindakan bijak untuk diambil sebagai sarana dalam cermin kehidupan.
Pak Suradi hanyalah sekedar contoh seorang pribadi yang tak suka berdiam diri dengan keluh kesah yang tiada guna. Kerja keras penuh kesibukan dijalaninya dengan ikhlas dan sabar. Ada keyakinan dalam hidupnya. Sebuah perjuangan tentu akan menuai keberhasilan.
Kendal, **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
