Edukasi dalam Bermain Pasar-pasaran
Edukasi dalam Bermain Pasar-pasaran
Tantangan hari ke-140
#TantanganGurusiana 365 hari
Dunia anak identik dengan dunia bermain. Kebebasan dan keceriaan selalu terpancar pada wajah-wajah polos mereka saat sedang bermain. Tidak mengherankan jika waktu luang bagi anak-anak banyak digunakan untuk bermain.
Bermain tidak selalu berakibat negatif. Meskipun pada kenyataannya memang kadang-kadang ada juga permainan yang mengakibatkan anak-anak menjadi lupa makan, minum, shalat, mandi, dan belajar. Bahkan ada pula yang dapat mengakibatkan lupa waktu tidur. Di sinilah peran orang tua untuk mengingatkannya agar waktu bermain tidak sampai melupakan aktivitas lainnya.
Lain anak laki-laki, lain pula dengan anak perempuan. Anak perempuan biasanya suka bermain pasar-pasaran. Entah mengapa dari dulu hingga sekarang bermain pasar-pasaran masih saja digemari oleh mereka. Bersama teman-teman, mereka biasa melakukannya di sekitar rumah atau di kebun dengan mendirikan gubug. Kebanyakan gubug dibuat dari bambu atau batang pohon singkong beratap daun pisang.
Selain berbagai benda yang ada di sekitar rumah, benda-benda yang ada di dapur biasanya menjadi sasaran utama untuk bermain pasar-pasaran. Ada pisau, talenan, sendok, piring, gelas, dan baskom sering digunakan untuk memainkan peran dalam bermain pasar-pasaran. Tampak asyik sekali akting mereka. Ada yang menjadi penjual dan ada pula yang menjadi pembeli. Ada yang menjadi orang tua dan ada juga yang berperan menjadi anaknya.
Uang yang mereka gunakan biasanya adalah uang mainan. Kadang juga menggunakan daun teh-tehan sebagai uangnya atau sobekan daun pisang yang dibentuk menyerupai kepingan uang. Lucu sekali rasanya melihat anak-anak berperan tanpa sutradara. Akting-akting mereka benar-benar spontan apa adanya ketika sedang berbicara satu sama lain. Dialog yang sederhana seolah-olah mereka sedang benar-benar melakukan sebuah transaksi.
Ketika kita mengamati aktivitas anak-anak yang sedang bermain pasar-pasaran, sebenarnya kita juga bisa memanfaatkan momen tersebut sebagai ajang edukasi tanpa terasa. Sebagai orang tua, sesekali kita dapat ikut terlibat dalam permainan yang mengasyikkan itu. Kita dapat mengambil peran sebagai pembeli sambil menanamkan berbagai karakter yang perlu dimiliki oleh mereka sejak kecil.
Sopan santun berbicara sebagai penjual dan pembeli dapat dipraktikkan langsung bersama anak-anak. Tidak hanya itu, kita juga dapat membiasakan anak-anak untuk berlatih tanggung jawab membersihkan kembali alat-alat maupun tempat yang telah digunakan untuk bermain. Biasa mencuci tangan pakai air bersih dan sabun setelah bermain, biasa mengucapkan terima kasih, dan biasa memberi atau menerima sesuatu dengan tangan kanan adalah contoh hal-hal penting yang dapat dibiasakan melalui kegiatan bermain pasar-pasaran.
Kotor dan berantakan itu biasa dalam bermain pasar-pasaran. Oleh karena itu, sebagai orang tua kita perlu bersikap bijak. Kebersihan dan kerapian memang harus selalu ditanamkan. Akan tetapi, kita tidak perlu terlalu ketat untuk membatasi kebebasan anak dalam bermain. Justru dengan bermain pasar-pasaran, anak bisa diajak untuk berlatih hidup bersih. Misalkan saja kita arahkan agar anak menyiapkan sapu, serbet, tempat sampah, dan air bersih di dekat tempat bermain.
Ketika sedang bermain, anak-anak bisa belajar menata benda-benda yang ada dengan rapi. Biarkan mereka menatanya sesuai imajinasi yang dimilikinya. Dengan begitu, kreativitas anak dapat muncul dengan sendirinya. Mereka akan tampak merasa lebih senang jika orang tua tidak terlalu banyak mengekangnya. Meski demikian, selaku orang tua kita juga tidak boleh membiarkan begitu saja agar anak-anak terhindar dari bahaya.
Sebenarnya, banyak hal yang dapat kita selipkan pada anak-anak, ketika mereka sedang bermain pasar-pasaran. Sambil bermain, anak-anak bisa sambil belajar tentang etika dan estetika. Bermain pasar-pasaran tidak harus dilakukan di kebun. Jika ingin lebih nyaman, bisa juga dilakukan di teras rumah sehingga orang tua juga mudah untuk mengawasinya. Salam literasi.
Kendal, **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
