Hantu Putih di Samping Rumah
Hantu Putih di Samping Rumah
Tantangan hari ke-137
#TantanganGurusiana 365 hari
Malam itu Rendi sangat terkejut. Sambil melempar kulit pisang, mata Rendi terbelalak cukup lebar. Tak sengaja lemparan itu mengenahi bagian atas bayangan putih yang dilihatnya menggantung pada tiang jemuran yang terletak di samping rumah. Semakin kencanglah bayangan itu bergerak ke sana ke mari. Rendi semakin takut karena ada juga bayangan menjulur ke bawah cukup panjang.
"Ayah, Ayah, tolong Rendi. Itu ada hantu tanpa kaki, Ayah." Begitu keras teriakan Rendi sambil berlari memanggil ayahnya. Pintu rumah pun tak sempat ia tutup. Ayah Rendi sangat terkejut mendengar teriakan Rendi. Tak jadi diminumnya segelas kopi yang sudah berada di tangan kanan. Pisang rebus yang tadi dipanennya dari kebun juga gagal dinikmati.
Siang tadi ayah Rendi memang baru memanen pisang kapok yang sudah matang sebagian di pohonnya. Ibu Rendi pun segera merebus pisang yang sudah matang untuk dinikmati bersama sehabis Magrib. Tanpa menunggu yang lain, sehabis sholat Maghrib Rendi tak sabar segera mengambilnya untuk dimakan. Dua buah pisang rebus habis dimakannya. Lalu kulit pisang akan segera dibuang ke tempat sampah yang berada di samping rumah.
Tanpa diduga, begitu membuka pintu Rendi melihat sesosok makhluk aneh sedang menggantung di tiang jemuran. Ia sangat kaget dan seketika itu pula badannya menggigil tanda ketakutan. Untung teriakan Rendi segera direspon oleh Ayah.
Rendi ingin berlindung dalam pelukan ayahnya. Ayah memeluk Rendi dengan erat. Rendi pun segera membenamkan wajahnya dalam pelukan Ayah. "Ayah, Rendi takuuut."
Ayah Rendi tidak habis pikir. Kenapa Rendi benar-benar ketakutan seperti itu. Padahal sehari-harinya justru ia sendiri yang suka menakut-nakuti Hani adiknya yang dua tahun lebih muda darinya. Hani baru kelas 4 Sekolah Dasar (SD). Suatu ketika, Hani sedang belajar di kamarnya. Tiba-tiba Rendi datang dengan kepala ditutup kain sarung sambil mengeluarkan suara mirip hantu untuk menakut-nakuti Hani.
Tentu saja Hani kaget dan menjerit sejadi-jadinya. Bersamaan dengan itu, tertawalah Rendi terbahak-bahak melihat adiknya ketakutan. Lalu, terjadilah kejar-kejaran di antara keduanya. Akhirnya keributan pun tak dapat dielakkan. Begitu ketahuan ayah, barulah Rendi berhenti menggoda adiknya.
Sekarang baru tahu rasa rupanya. Rendi ketakutan luar biasa karena melihat hantu di dekat rumahnya. Meski begitu, ayah Rendi tak langsung mempercayainya. Selama ini belum pernah ada hantu di sekitar rumah. Apalagi waktunya belum begitu malam. Belum ada pukul delapan.
Rendi tetap merengek ketakutan. Hani dan ibunya hanya terbengong-bengong melihat ketakutan Rendi. Mendengar pengakuan Rendi, wajah kedua perempuan ayu itu pun berubah pucat ikut ketakutan. Bahkan, kaki Hani juga serasa susah untuk digerakkan. Tanpa disadarinya badan Hani menggigil dan bulu kuduknya terasa semakin tebal.
Ayah Rendi segera menenangkan suasana. Disuruhnya mereka untuk membaca doa bersama agar tidak ada makhluk apa pun yang akan mencelakainya. Usai berdoa bersama, ayah Rendi segera mengambil lampu center yang tersimpan di lemari tengah. "Ayah, jangan tinggalkan kami." Rengek Rendi karena khawatir kalau ayah akan meninggalkannya.
Setelah lampu center dipegang dan dinyalakan, segeralah ayah Rendi menyelidiki sekeliling tempat jemuran. Barangkali hantu yang dilihat Rendi belum pergi. Lampu menyala dengan terang. Lalu disorotkan pada tiang jemuran."Astagfirullahhaladziiim", sebut ayah Rendi sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Ibu, Rendi, Hani ke sini semuanya". Sambil berpandangan mata bak orang keheranan, ketiganya kompak menjawab ya pada ayah. Mereka mengikuti arah panggilan ayah Rendi sambil berpegangan tangan satu sama lain dengan erat.
"Coba kalian lihat dengan cermat hantunya!" Haaa...antara kaget dan geli, mereka bertiga malah tertawa terpingkal-pingkal sambil memukul badan ayah. O...rupanya benda yang dikira hantu itu hanyalah caping putih dan sarung yang digantung pada tiang jemuran. Keadaan pun berubah menjadi riuh karena mereka tertawa bersama tak henti-hentinya. Ayah Rendi memang sangat menyukai warna putih sehingga caping pun dicat putih.
Caping bergerak-gerak ketika tertiup angin.Tadi siang ayah Rendi lupa membawa masuk kembali capingnya. Ayah Rendi siang itu memang telah membersihkan kebun. Kemudian menebang pohon pisang.
Maklum, ayah Rendi setiap kali berada di kebun memang selalu memakai caping. Ketika hendak menebang pohon pisang, caping diletakkannya di atas jemuran. Kebetulan sebelum membersihkan kebun, sarungnya juga digantung pada tiang jemuran di bawah caping.
Rendi sangat malu pada adiknya. Menyadari hal tersebut, maka ia pun berjanji tidak akan menakut-nakuti adiknya lagi dengan sarung. Ia sendiri ternyata takut dengan sarung. Hahaha....
Kendal, **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
