Robingah, S.Pd.SD

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
 Mentari Bersinar Kembali (2)
Sumber gambar: pngpik.com

Mentari Bersinar Kembali (2)

Mentari Bersinar Kembali (2)

Tantangan hari ke-204

#TantanganGurusiana 365 hari

Sejak duduk di bangku sekolah hingga kuliah di PGSD, Mentari memang tergolong cerdas, kreatif, dan suka bekerja keras. Berbagai kegiatan di luar sekolah ia ikuti dengan penuh semangat dan bersungguh-sungguh sehingga ketika terjun menjadi seorang guru ia tidak hanya mampu mengajar saja tetapi juga mempunyai keterampilan lain yang dapat ia tularkan pada anak didiknya. Meski demikian, ia tetap bersikap rendah hati dan tak pernah menonjolkan kemampuannya tersebut.

Pagi hari Mentari mengajar dan sore hari ia gunakan waktunya untuk mengisi kegiatan ekstrakurikuler yang menjadi tanggung jawabnya. Ia ajak anak-anak untuk belajar menari dan bermain drama. Sering pula ia ajak kedua anak perempuannya secara bergantian untuk ikut menemaninya dalam kegiatan sore itu. Ia lakukan hal ini sebagai bentuk tanggung jawabnya pula sebagai seorang ibu yang harus tetap bisa membagi waktunya untuk bersama anak sendiri di tengah kesibukan tugasnya. Mentari ingin agar kedua tugasnya sebagai ibu dan sebagai guru dapat berjalan dengan seimbang.

Selain membimbing kegiatan ekstrakurikuler seni tari dan drama, Mentari juga sangat cekatan dalam menyiapkan anak didiknya untuk menghadapi Kompetisi Matematika Nalaria Realistik (KMNR) yang selalu diikutinya setiap tahun. Itu sebabnya, Pak Samsu memberikan tugas padanya sebagai guru kelas lima. Maklum saja karena kelas lima itu identik dengan kelas lomba dan Mentari layak untuk menjadi pendampingnya.

Mentari memang sangat dipercaya oleh Pak Samsu untuk membimbing berbagai lomba karena kemampuannya. Semua tugas dilakukannya dengan ikhlas dan senang hati. Ia sangat bertanggung jawab ketika memberikan bimbingan pada anak didiknya. Tidak mengherankan jika piala sering didapatkan oleh anak didiknya ketika maju lomba.

Mentari biasa berkolaborasi dengan guru yang lainnya terutama dengan Pak Burhan. Satu sama lain saling mengisi dan menginspirasi. Ide-ide kedua insan ini seolah bak gayung bersambut. Jika yang satu beride, maka yang satunya lagi mendukung. Mereka sama-sama berkomitmen untuk menjadi guru yang profesional sekali pun mereka bertugas di pelosok desa. Pak Burhan dan Mentari menjadi semakin akrab.

Rupanya keakraban antara Pak Burhan dan Mentari menimbulkan ketidaksukaan bagi Bu Naning pada Mentari. Bu Naning itu guru senior yang telah lama bertugas menjadi guru kelas enam. Bu Naning yang hingga usianya lebih dari cukup itu memang belum berkeluarga. Secara diam-diam ia sering menunjukkan sikap ingin mencari perhatian pada Pak Burhan. Akan tetapi sikap Pak Burhan biasa saja. Ia sudah menganggap semua teman guru di sekolahnya itu seperti saudara.

Kedekatan Pak Burhan dengan Mentari terjadi karena keduanya memang sering berdiskusi dalam hal membimbing lomba atau membicarakan tentang inovasi pembelajaran. Pak Burhan pandai mengoperasikan komputer sehingga Mentari sering juga meminta bantuannya untuk mendampingi membuat berbagai media power point atau lainnya dengan berbagai variasi. Mentari ingin anak-anak didiknya dapat memahami pelajaran dengan mudah dan senang. Mengetahui hal ini, Bu Naning merasa semakin tidak dipedulikan oleh Pak Burhan.

Kesalahpahaman pun mulai terjadi antara Bu Naning dan Bu Tari. Bu Tari tak lain adalah panggilan singkat Mentari. Sering tanpa sebab yang jelas, Bu Naning tak mau berbicara sedikit pun pada Mentari. Bahkan suatu ketika, Mentari sangat terpukul dan merasa sangat dipermalukan. Saat itu Pak Samsu tidak hadir di sekolah karena harus mengikuti rapat kepala sekolah di gedung PKG (Pusat Kegiatan Guru).

Bu Naning berkata dengan sangat halus di hadapan teman-temannya. "Bapak dan ibu, inilah guru teladan kita yang selalu dipercaya oleh Pak Burhan dan Pak Samsu sehingga datang terlambat pun tak akan ada yang menegurnya," kata Bu Naning tanpa basa-basi. Mendengar kata-kata Bu Naning tersebut, merahlah pipi Mentari karena merasa sangat malu dan sangat sedikit tersinggung.

Bu Naning tidak tahu apa yang telah terjadi pada Mentari ketika dalam perjalanannya ke sekolah tadi. Mentari terjerembab ke selokan karena harus menghindari truk yang berpapasan di tikungan. Tanpa membunyikan klaksonnya, tiba-tiba sebuah truk pengangkut hasil bumi penduduk muncul dari arah berlawanan. Beruntung laju truk tak begitu cepat. Untuk menghindari tabrakan, Mentari berusaha untuk menghindar. Tidak tahunya, bruuuuuk....Mentari dan sepeda motornya ambruk ke selokan.

Mentari tampak panik karena tak dapat mengendalikan sepeda motornya. Truk tetap melaju karena sang sopir tidak tahu apa yang telah terjadi pada Mentari. Beruntung baju yang dikenakannya tidak tampak kotor karena tanah di selokan tertutup dedaunan karet yang telah mengering. Rasa sakit di kakinya ia tahan agar tidak diketahui oleh anak-anak dan teman guru lainnya. Dengan susah payah Mentari bangkit dan mencoba mengangkat sepeda motornya sendiri. Maklumlah, meski jalanan di tengah perkebunan karet itu aman, namun tak banyak orang yang melintasinya.

Sebenarnya Mentari ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya, tapi ia enggan melakukannya karena Bu Naning sudah tampak tidak menyukainya. "Percuma saja saya bercerita," kata Mentari dalam hati. Ia hanya meminta maaf sambil merasakan sakit di kakinya. Dari sorot matanya, Pak Burhan menangkap ada sesuatu yang disimpan oleh BuTari. Pak Burhan ingin melakukan sesuatu tetapi diurungkannya.

Di sela-sela jam istirahat Bu Tari duduk bersama anak-anak di gazebo yang terletak dekat pohon mangga di pojok halaman sekolah. Ia tampak membolak-balikkan halaman demi halaman buku bacaan. Ia ingin mengalihkan kesedihannya yang disebabkan oleh kata-kata Bu Naning sekaligus kesedihannya harus berpisah dengan Pak Burhan.

Tanpa sepengetahuannya, tiba-tiba Pak Burhan mengagetkan Bu Tari. "Rupanya asyik sekali ya, sedang baca apa Bu Tari?" tanya Pak Burhan membuat Bu Tari merasa gugup dan seolah detak jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Sambil menutup buku, Bu Tari segera menjawab pertanyaan Pak Burhan. "Ini saya sedang baca buku Orang-Orang Proyek, Pak," jawab Bu Tari sedikit gugup dan langsung disahut oleh Pak Burhan.

"Kasihan Wati, ya Bu. Harapan Wati tak segera dibalas oleh..." Belum selesai Pak Burhan bicara, Bu Tari segera memberi kode untuk tidak melanjutkannya. Rupanya Pak Burhan juga telah membaca buku yang sama.

"Maaf jangan dilanjutkan ya Pak. Nanti kedengaran anak-anak lho!" seloroh Mentari yang sebenarnya juga sedang merasakan hal yang sama dengan tokoh Wati dalam buku karya Ahmad Tohari itu. Selain "Orang-Orang Proyek" Bu Tari juga telah membaca karya Ahmad Tohari lainnya semisal "Bekisar Merah." Bu Tari sangat tertarik dengan tokoh Lasi yang wajahnya mirip dengan perempuan dari negeri matahari terbit.

Pak Burhan pun menuruti saja kata-kata Bu Tari. Ia tak berani melanjutkan percakapannya. Keduanya saling terdiam dengan tatap mata yang sama-sama merasakan ada sesuatu yang dipendamnya.

Bel tanda masuk berbunyi. Anak-anak segera mencuci tangan pakai sabun sebelum masuk ke dalam kelas. Pak Burhan dan Bu Tari pun segera masuk ke dalam kelas untuk melanjutkan pelajaran. Hari ini adalah hari terakhir kebersamaan di antara Pak Burhan dan Bu Tari mengajar karena besok akan diadakan perpisahan.

Dalam diam, Bu Tari hanya menyimpan satu kata yang tak mungkin diucapkannya. Betapa besar harapan Mentari, namun ia begitu menyadari kalau dirinya tak boleh membiarkan perasaan yang tak biasa itu terus bermain di lubuk hatinya. Ia harus menjaga kepribadiannya sebagai seorang wanita Jawa.

Pak Burhan telah memiliki keluarga yang lebih berhak untuk mendapatkan perhatiannya. Mentari pun masih harus berjuang menjadi penerang bagi anak-anak didiknya. Meski harapan dan sinarnya tertutup awan, Mentari harus tetap merelakan perpisahan dengan Pak Burhan. Ia harus tetap berjuang dengan sisa-sisa motivasi yang pernah ia dapatkan darinya. Pelajaran selesai dan anak-anak pun dibubarkan dengan diakhiri doa dan salam.

Bu Tari mengambil secarik kertas lalu menuliskan sesuatu dengan tulisan tangan yang sangat indah. "Selamat jalan Pak Burhan. Selamat menunaikan tugas di tempat yang baru. Doaku selalu menyertaimu. Meski kita tak akan bersama lagi dalam tugas tapi kuyakin esok mentari akan bersinar kembali untuk menerangiku dan menerangimu dalam mengambil peluang-peluang demi kemajuan anak-anak didik kita" Tanpa terasa, air mata mengalir membasahi kedua pipi Mentari setelah selesai menuliskan kata-kata perpisahan tersebut.

Kendal, **(censored)**

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post