Nasib Bani dalam Masa Pandemi
Nasib Bani dalam Masa Pandemi
Tantangan hari ke-199
#TantanganGurusiana 365 hari
Bani memang bertubuh kecil dan kerempeng. Hampir tiap hari ia menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Sebenarnya ia merasa sedih dan malu ketika teman-teman Bani mengejeknya. Namun, perasaan itu ia pendam saja. Bani memang selalu diajari oleh ibunya agar tidak memiliki sikap pemarah atau pendendam. Dalam hati, Bani membenarkan kata-kata ibu yang selalu diingatnya. Kata ibu, "Orang yang suka mengolok-olok atau mengejek itu belum tentu lebih baik daripada orang yang diolok-olok." Oleh karena itu, Bani pun hanya diam dan tersenyum saja ketika ada teman yang mengejeknya.
Bani sangat menyadari akan kekurangan dirinya. Orang tuanya bukanlah orang kaya. Setiap hari Bani harus rela mengorbankan waktunya untuk membantu ibu. Ia tidak bisa bermain seperti teman-temannya. Apalagi Bani juga tidak mempunyai gawai sehingga ia tidak bisa bergabung dengan teman-temannya belajar daring atau bermain free fire.
Ayah Bani telah meninggal dunia ketika adik ragilnya masih berusia satu tahun. Kini Bani baru saja naik kelas lima Sekolah Dasar (SD). Kegiatan pembelajaran yang seharusnya diikuti secara dalam jaringan (daring) di masa pandemi covid-19 ini tidak dapat ia ikuti seperti teman-temannya. Beruntung Bu Heni guru Bani sangat bijak dan dapat memahami kondisi Bani.
Dua adik Bani masing-masing bernama Feri dan Dodi. Mereka masih duduk di kelas tiga dan kelas satu. Jarak usia mereka adalah dua tahun. Begitu juga dengan jarak usia Bani dengan adik pertamanya. Sebagai anak sulung, Bani sangat menyayangi adik-adiknya.
Setiap hari ibunya hanya bisa bekerja sebagai penyadap karet milik pabrik di dekat rumahnya. Pagi-pagi sekali ibunya berangkat kerja. Bani harus bangun pagi-pagi juga agar dapat membantu ibunya memasak atau membersihkan rumah. Sepeninggal ayahnya, Bani tidak ingin melihat ibu dan dua adiknya bersedih. Oleh karena itu, ia selalu berusaha untuk meringankan beban ibunya. Ia rela menjaga dua adiknya ketika ibunya pergi bekerja.
Meski sebagai anak laki-laki, ia tak merasa malu membantu ibunya di dapur. Kadang ia juga mau membuatkan mie rebus atau menggoreng telur untuk adik-adiknya. Bani ingin menjadi contoh yang baik bagi kedua adiknya.
Bani lebih suka mengalah demi adik-adiknya. Suatu ketika, mereka akan sarapan pagi bersama. Kebetulan ibunya menggoreng empat butir telur yang diambilnya dari kandang ayam miliknya. Tiba-tiba Dodi menangis karena ingin mendapatkan dua bagian. Dodi memang masih sangat kekanak-kanakan sehingga ia ingin segala kemauannya dituruti. Melihat adiknya menangis, Bani pun merasa bimbang. Di satu sisi ia juga ingin makan dengan lauk telur tetapi di sisi lain adiknya merasa kurang karena mendapat satu bagian saja.
Bani berpikir sebentar, "Aduh, gemana ini ya?" Karena tidak tega melihat adiknya menangis, maka telur bagiannya rela ia berikan pada Dodi. Ia juga memberanikan diri mengambil telur dadar bagian ibunya yang belum sempat dimakan. Namun, Bani berjanji setelah selesai makan ia akan menggantikan telur dadar itu dengan menggorengkannya lagi untuk ibu. Telur ayam di kandang kebetulan masih tersisa dua butir. Bani ingin mengambilnya satu butir saja. Biasanya ibu Bani pulang dari menyadap karet menjelang matahari tingginya sepenggalah.
Selesai makan bersama, Bani membereskan meja makan lalu mencuci piring-piring yang telah digunakannya untuk makan tadi. Selesai mencuci piring, ia mengambil telur di kandang terus menggorengnya untuk ibu. Bani tidak merasa keberatan. Apalagi selama belajar di rumah, bu gurunya selalu mengingatkan tentang kebiasaan-kebiasaan baik yang harus dilakukan oleh murid-muridnya. Bani merasa senang mendapatkan seorang guru yang penyabar seperti Bu Heni.
Bu Heni sangat memahami kondisi Bani dan keluarganya. Berhubung Bani tidak mempunyai gawai untuk belajar daring, maka setiap seminggu sekali Bani juga harus rela datang ke sekolah sendiri untuk meminta rangkuman materi dan tugas dari gurunya. Ia juga rela untuk mengambilkan tugas adik-adiknya sekaligus. Di rumah, selain harus belajar sendiri, Bani juga harus membimbing adik-adiknya belajar dan mengerjakan tugas. (Bersambung)
Kendal, **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
