Nasib Bani dalam Masa Pandemi (2)
Nasib Bani dalam Masa Pandemi (2)
Tantangan hari ke-200
#TantanganGurusiana 365 hari
Selesai mencuci piring dan menggoreng telur untuk ibu, Bani segera mengambil tasnya yang ada di kamar. Ia segera mempersiapkan diri untuk belajar. Dibiarkannya dua adiknya bermain bola di samping rumah. Hitung-hitung mereka berolah raga sekaligus tidak mengganggu konsentrasinya untuk belajar dan mengerjakan tugas.
Bani menasihati kedua adiknya agar mereka tidak bermain jauh-jauh. Feri dan Dodi menuruti saja kata-kata kakaknya. Pagi menjelang siang itu Bani belajar sendiri. Dibacanya buku paket yang ia pinjam dari sekolah dengan lancar. Ia tidak lupa pula membaca rangkuman materi dari Bu Heni. Kali ini, Bani tidak merasa kesulitan untuk memahami materi pelajarannya. Tugas pun dapat dikerjakan dengan lancar.
Setelah selesai mengerjakan tugas, Bani segera memanggil kedua adiknya untuk berhenti bermain bola. Bani sudah siap membantunya belajar. Rupanya Dodi masih senang bermain bola sehingga ia tidak segera menghentikan permainannya. Dengan sabar Bani menunggunya tetapi Dodi malah ingin terus bermain bola. Ketika Feri menghentikan permainannya, Dodi menangis sambil merengek-rengek agar Feri menunda belajarnya.
Bani berusaha membujuk Dodi untuk berhenti dan segera mencuci tangan dan kakinya sebelum belajar. Dodi memang sangat manja. Ia mau berhenti bermain bola asalkan Kak Bani mau menggendongnya. Bani pun mau melakukannya. "Tidak apa-apa kakak menggendongmu Dik, yang penting kamu mau belajar," bujuk Bani pada Dodi.
Dodi tersenyum ceria. Ia pun segera mencuci tangan dan kakinya setelah bermain bola. Kedua adik Bani memang sudah mandi sejak pagi hari. Feri sudah masuk ke rumah lebih dulu. Setelah kedua adiknya siap belajar, Bani pun siap menjadi gurunya di rumah. Bani memang tergolong anak yang cerdas. Sebelum ada pandemi covid-19, waktu di kelas empat ia kerap mendapatkan nilai 90 atau100 dalam setiap ulangan hariannya. Di kelasnya ia memang terkenal sebagai anak paling pintar tetapi ia tidak pernah sombong. Ia justru sering membantu teman-temannya yang kesulitan.
Feri dan Dodi belajar bersama didampingi Bani. Belum selesai Bani mendampingi belajar adiknya, tiba-tiba terdengar suara orang terjatuh. Ditengoknya segera sumber suara tersebut. "Ibu, kenapa Ibu bisa terjatuh seperti ini?" tanya Bani setengah berteriak karena kaget. Ibunya hanya tersenyum pada Bani tanpa jawaban. Ternyata, sumber suara tadi tak lain adalah suara ibu yang terjatuh ketika mau melangkahkan kakinya masuk ke rumah.
Ibu Bani memang pulang lebih awal dari biasanya. Selain latex yang ia pikul cukup berat, sejak kemarin memang Ibu Bani sudah merasakan kepalanya sedikit pusing. Badannya terasa seperti panas dingin, perutnya mual dan kepalanya bagai berputar-putar tujuh keliling. Rupanya Ibu Bani terkena masuk angin yang cukup berat.
Bani segera menolong Ibu dan mengambilkan segelas air minum. Dengan sigap Bani membuatkan teh manis hangat untuk Ibu. Ibu Bani memang terlalu capai bekerja. Sebelum berangkat ia tidak sempat sarapan dulu sehingga Bani tahu betapa beratnya tadi ketika Ibu harus memikul dua ember latex hasil sadapannya.
Feri dan Dodi tidak tahu kalau yang jatuh tadi adalah ibunya sehingga ketika ditinggal Bani menolong ibunya, kedua anak tersebut malah bergurau dan akhirnya Dodi menangis. Bani merasa sedikit kacau. Ia berusaha untuk menenangkan ibunya sambil memijit-mijit punggung dan kepalanya. Sementara Dodi menangis dengan keras dan Feri justru tertawa riang.
Mendengar Bani menangis, ibu menyuruh Bani untuk menenangkannya. Bani pun kembali ke ruang tengah tempat adiknya belajar. Sebenarnya Bani agak kesal pada kedua adiknya. Namun, Bani tetap berusaha untuk sabar. Ia tidak memarahi Feri atau Dodi. Ia ingin meniru sikap ibunya yang selalu sabar dalam menghadapi masalah. Bani melakukan segala aktivitasnya di rumah dengan ikhlas. Ia tidak mengeluhkan nasibnya yang harus membantu ibu dan kedua adiknya belajar menjadi guru di rumahnya selama masa pandemi covid-19. Meski tahu keadaan ekonomi ibunya hanya pas-pasan saja, namun Bani memiliki cita-cita yang sangat mulia. Kelak, ia ingin menjadi seorang guru. Semoga tercapai cita-citanya.
Kendal, **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
