Robingah, S.Pd.SD

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
 Semangat Berliterasi demi Anak Negeri
Kegiatan anak-anak pada hari literasi.

Semangat Berliterasi demi Anak Negeri

Semangat Berliterasi demi Anak Negeri

Tantangan hari ke-205

#TantanganGurusiana 365 hari

#lombaagustus2020

Kemampuan berliterasi sangat dibutuhkan untuk menghadapi kehidupan di era abad ke-21. Sebagai generasi penerus bangsa, anak-anak negeri perlu dibekali kemampuan dalam mengolah informasi dan pengetahuan. Kemampuan tersebut sangat berkaitan dengan literasi baca dan tulis.

Pentingnya Literasi Baca dan Tulis

Seiring perkembangan zaman, bangsa yang besar tak hanya diukur sebagai bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya saja. Namun, bangsa yang besar juga merupakan bangsa yang memiliki generasi literat. Generasi yang literat identik dengan generasi yang berkualitas. Untuk menciptakan generasi yang literat, maka sangatlah tepat jika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mencanangkan adanya Gerakan Literasi Nasional (GLN). Gerakan ini diluncurkan pada tahun 2016 sebagai implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Ada enam kemampuan literasi yaitu literasi baca dan tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta literasi budaya dan kewargaan. Kemampuan yang banyak berkaitan dengan bahasa ini perlu ditanamkan dan dikembangkan sejak dini melalui pendidikan dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Kemampuan literasi yang dimiliki oleh generasi literat akan sangat membantu dalam mempertahankan hidupnya di era yang semakin canggih. Di samping itu juga dapat menjadi bekal untuk mencapai kehidupan yang berkualitas. Hidup yang berkualitas dapat tercermin dari kecakapan individu dalam berpikir kritis untuk menyelesaikan masalah, berkreasi, berkomunikasi, dan berkolaborasi. Kecakapan-kecakapan tersebut dapat dimiliki apabila kemampuan literasinya tinggi. Tanpa memiliki kemampuan literasi yang tinggi maka kehidupan seseorang bagaikan melintas di jalan tanpa mengetahui arti sebuah rambu-rambu.

Dari keenam jenis literasi tersebut, baca dan tulis merupakan kemampuan literasi yang sangat penting untuk dikembangkan terlebih dahulu sebelum literasi-literasi lainnya. Hal ini cukup beralasan karena literasi baca dan tulis akan menjadi dasar untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan yang dibutuhkan. Dengan menguasai kemampuan literasi baca dan tulis, diharapkan kemampuan literasi yang lainnya akan menjadi mudah untuk dimiliki.

Semangat Berliterasi

Sekolah merupakan lembaga yang tepat untuk mengembangkan gerakan literasi. Berbagai kegiatan dapat dilakukan untuk menciptakan generasi yang literat. Untuk mewujudkan hal tersebut, selain membutuhkan sarana dan prasarana, juga membutuhkan adanya semangat dan kerja sama yang baik dengan berbagai pihak.

Semangat berliterasi perlu dimiliki oleh seluruh warga sekolah. Guru dan kepala sekolah harus dapat menjadi contoh bagi anak didiknya dalam mengembangkan budaya literasi terutama baca dan tulis. Berdasarkan pengalaman, gerakan literasi di sekolah yang penulis pimpin dapat diwujudkan dengan tindakan yang nyata. Meski terdapat berbagai kendala dan keterbatasan tetapi semangat berliterasi tidak menyurutkan niat untuk menumbuhkembangkan minat baca dan tulis demi anak-anak didik di sekolah tersebut.

Banyak kegiatan yang telah dilakukan di tengah keterbatasan yang ada. Tujuannya tak lain adalah untuk membekali anak-anak agar dapat menjadi generasi yang literat. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain: pembentukan tim Gerakan Literasi Sekolah (GLS), pembiasaan membaca buku bacaan sebelum pelajaran dimulai, mengisi jurnal membaca, gerakan Saku Sanak (Satu Buku Satu Anak), membaca bersama orang tua, penetapan hari literasi dan layanan klinik baca.

Selain itu, ada juga perjanjian kerja sama dengan Perpustakaan Daerah (Perpusda) setempat dan pihak lain yang peduli dengan gerakan literasi, pembuatan kotak baca mini literasi dan gazebo baca, parenting literasi, pelatihan menulis buku, bazar buku bacaan, dan pengiriman bahan bacaan anak secara berkala melalui Whatsapp Group paguyuban kelas. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan bersama seluruh warga sekolah, komite/wali murid, pengawas, dan pemangku kepentingan lainnya.

Semangat literasi tidak cukup hanya digaungkan saja tanpa tindakan nyata. Pembentukan generasi literat membutuhkan sebuah proses dan perjuangan secara berkesinambungan. Kendala bagi sekolah yang belum memiliki gedung perpustakaan sendiri bukanlah alasan untuk malas melakukan suatu gerakan atau aksi dalam berliterasi. Dengan adanya berbagai keterbatasan yang dimiliki, justru menjadi pemacu bagi kepala sekolah untuk menciptakan pembaruan dan kreativitas sesuai dengan kemampuan dan daya dukung yang ada.

Kendal,**(censored)**

Penulis artikel ini bernama Robingah, S.Pd.SD yang lahir di Banjarnegara pada tanggal 21 Januari 1970. Sekarang bertugas sebagai Kepala Sekolah di SDN Sukomangli, Kec.Patean, Kab.Kendal, Jawa Tengah. Alamat email aktif **(censored)** dan no WA yang dapat dihubungi yaitu **(censored)**

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post