Robingah, S.Pd.SD

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
 Takir dan Penthul Kemerdekaan
Sumber gambar: cahokya.blogspot.com

Takir dan Penthul Kemerdekaan

Takir dan Penthul Kemerdekaan

Tantangan hari ke-213

#TantanganGurusiana 365 hari

17 Agustus merupakan tanggal yang sangat bersejarah bagi seluruh bangsa Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke rakyat bergembira ria menyambut dirgahayu Republik Indonesia. Namun, peringatan HUT kemerdekaan RI yang ke-75 tahun ini benar-benar terasa beda dari biasanya.

Dalam menyambut hari yang penuh arti ini, biasanya berbagai ajang lomba digelar. Kemudian pada puncaknya diadakan panggung gembira serta pembagian berbagai hadiah. Tua atau muda akan datang berbondong-bondong meramaikan acara. Momen tersebut benar-benar bisa menjadi sarana hiburan yang nyata.

Tahun ini tak lagi terdengar teriak anak-anak dalam arena balap karung, makan kerupuk, panjat pinang, dan berbagai lomba menarik lainnya. Lomba-lomba bagi warga masyarakat pun tampak lengang. Biasanya ada lomba menghias tumpeng, bersih lingkungan, dan penataan gang-gang menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Semangat berlomba tampak di wajah-wajah mereka. Pengecatan pagar dan pemasangan umbul-umbul dengan aneka warna menambah semaraknya suasana. Pertunjukkan rakyat pun ditampilkan meski harus mengeluarkan biaya. Ebeg atau jaran kepang biasanya menjadi tanggapan khas pilihan di desa tempat kelahiranku (Danaraja, Banjarnegara).

Teringat di kala itu. Sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) beberapa puluh tahun yang lalu. Tanggal 17 Agustus merupakan tanggal yang sangat dinanti-nantikan. Pada tanggal tersebut semua siswa disuruh berangkat ke sekolah dengan pakaian seragam sambil membawa klebet (bendera) merah putih berukuran kecil yang panjangnya kurang lebih 15 cm dan lebar 10 cm. Klebet direkatkan pada sebilah bambu kecil dengan panjang sekitar 50 cm.

Senang sekali rasanya waktu itu. Apalagi ditambah dengan membawa takir (nasi bungkus). Takir dengan bungkus daun pisang dilengkapi dengan lauk masing-masing yang dirahasiakan. Sampai di sekolah, takir dikumpulkan oleh kakak kelas dan dimasukkan dalam wadah namanya tumbu. Tumbu itu wadah besar yang terbuat dari anyaman bambu.

Anak-anak dibariskan mengular. Dengan dipimpin oleh pak guru dan bu guru barisan diarak ke jalan menyusuri kampung. Sambil melambai-lambaikan klebet (bendera) merah putih di tangan, anak-anak berjalan dengan menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Lagu Hari Merdeka, Bendera Merah Putih, Dari Sabang sampai Merauke, Garuda Pancasila, Sorak-Sorak Bergembira dan lagu-lagu perjuangan lainnya secara bergantian dinyanyikan dengan penuh semangat dan kegembiraan.

Pawai keliling kampung dengan jalan kaki benar-benar menjadikan suasana 17 Agustus di kala itu menorehkan kenangan yang tak terlupakan. Apalagi setiap pawai selalu ada iringan penari ebeg dan penthulnya. Ebeg dan penthul sebagai group kesenian daerah di desaku ikut meramaikan dalam barisan terdepan. Penthul beraksi dengan tampilan yang lucu dan menggemaskan. Sepanjang perjalanan ia melakukan gerak diiringi tabuhan gamelan seadanya. Ia berjoget sepanjang jalan dengan kostum dan riasan wajah bersembunyi di balik topeng.

Usai berkeliling kampung, anak-anak kembali ke sekolah lagi. Nah, inilah saat yang paling ditunggu-tunggu. Pembagian takir secara acak dimulai. Anak-anak berharap akan mendapat takir dengan lauk yang enak. Takir yang dibawa sendiri dari rumah telah bercampur dengan takir-takir yang lain.

"Horeeee...aku dapat takir dengan lauk mie, kering tempe, dan ayam goreng!" Seperti itulah ucapan rasa gembiranya jika kebetulan ada anak yang beruntung mendapat lauk ayam goreng. Maklumlah, di kala itu belum marak penjualan daging-daging ayam broiler sehingga makan dengan lauk daging ayam masih merupakan hal yang terasa sangat menyenangkan.

Lauk-pauk pada takir ada bermacam-macam tergantung kemampuan orang tua yang membuatkan. Ada yang lauk sayur dan tempe. Ada pula yang membawa takir dengan lauk telur atau ikan air tawar seperti mujair atau nila. Senangnya tak terkira ketika takir telah diterima. Anak-anak makan bersama tanpa ada yang merasa bersedih meski takir yang didapatnya berlauk tak sama dengan yang dibawanya sendiri. Indahnya kebersamaan begitu terasa. Itulah kenangan masa lalu yang masih tersimpan dalam ingatan dan kini hadir kembali menghias angan.

Walau hanya sebatas makan takir dengan hiburan ebeg dan penthulnya, ternyata mampu menghadirkan suasana gembira di hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia kala itu. Sekali merdeka tetap merdeka.

Kendal, 18-08-2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post