Langkah Kecil Menuju Gerbang Literasi Keluarga
Langkah Kecil Menuju Gerbang Literasi Keluarga
Oleh Robingah, S.Pd.SD
Tantangan hari ke-236
#TantanganGurusiana 365 hari
#lombaseptember2020
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang sangat strategis untuk mengembangkan budaya literasi. Istilah literasi erat kaitannya dengan kecakapan baca dan tulis. Selain itu, erat pula kaitannya dengan kecakapan numerasi, digital, finansial, sains, budaya dan kewarganegaraan. Kecakapan literasi dalam sebuah keluarga dapat dibentuk melalui berbagai langkah.
Langkah Kecil yang Nyata
Literasi keluarga sebagai bagian dari Gerakan Literasi Nasional (GLN) perlu dikembangkan sejak dini. Tujuannya tak lain adalah untuk membentuk keluarga literat yang berkualitas. Kualitas hidup sebuah keluarga dapat dilihat dan dirasakan dari kecakapan literasi yang dimiliki oleh masing-masing anggotanya. Kecakapan inilah yang dapat membantu memudahkan anggota keluarga dalam mengakses berbagai masalah baik pendidikan, kesehatan maupun masalah-masalah lainnya.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk membudayakan literasi keluarga yaitu melalui langkah kecil yang nyata. Kecil yang dimaksud di sini merupakan akronim dari Keluarga Cinta Literasi. Keluarga cinta literasi menunjukkan sebuah keluarga yang memiliki berbagai aktivitas yang tidak lepas dari kecakapan-kecakapan literasi.
Penanaman rasa cinta literasi dalam keluarga memerlukan adanya pembiasaan dan keteladanan dari orang tua. Sarana dan prasarana pendukung juga perlu diadakan. Tidak hanya terbatas pada buku-buku bacaan dan alat tulis saja, namun sarana dan prasarana literasi lainnya juga perlu disediakan.
Gerbang Literasi Keluarga
Banyak jalan menuju Roma, banyak jalan pula untuk mengembangkan literasi keluarga. Literasi keluarga dapat terwujud apabila ada gerakan pengembangan. Gerakan pengembangan ini dapat diakronimkan menjadi Gerbang. Gerbang literasi keluarga perlu dilakukan dan didukung oleh seluruh anggota keluarga. Oleh karena itu, komunikasi dan interaksi dalam keluarga harus berjalan lancar.
Secara holistik, gerakan pengembangan literasi keluarga dapat diimplementasikan dengan memadukan antara literasi yang satu dengan literasi yang lainnya. Di samping memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada, aktivitas sehari-hari juga dapat diarahkan pada aktivitas literasi.
Pengadaan buku-buku dan bahan bacaan keluarga menjadi prioritas utama dalam gerakan pengembangan literasi keluarga saya. Hal ini bukan berarti mengenyampingkan pengadaan sarana dan prasarana literasi lainnya seperti meja, kursi, almari, dan ruang untuk membaca. Ada pula alat-alat tulis baik digital maupun manual. Gawai, televisi, dan alat kesenian tersedia tidak hanya sebagai sarana hiburan saja tetapi juga digunakan sebagai sarana pengembangan literasi budaya dalam keluarga.
Selain pengadaan sarana dan prasarana, gerakan pengembangan literasi keluarga juga dilakukan melalui berbagai aktivitas. Beberapa di antaranya adalah pembiasaan membaca buku bacaan, penggunaan paletan (book mark) sebagai pembatas halaman pada buku yang telah dibaca, dan mengisi jurnal membaca atau menulis. Ada juga aktivitas-aktivitas lain yaitu pembiasaan menata kembali buku yang telah dibaca, menulis dan berbalas pesan pada secarik kertas atau gawai, bergantian mendengarkan cerita antara orang tua dan anak, dan mengikuti pelatihan atau lomba menulis.
Gerbang lain yang mencerminkan aktivitas literasi keluarga yaitu sering melibatkan anak dalam merencanakan kegiatan keluarga atau berbelanja. Sesekali anak juga diberi kesempatan untuk melakukan aktivitas permainan literasi. Misalnya bermain pasar-pasaran atau permainan dengan memanfaatkan huruf-huruf menjadi sebuah karya seni. Untuk mengembangkan literasi finansial, anak bersama orang tua melakukan gerakan menabung, beramal jariyah, dan menyisihkan anggaran untuk membeli buku bacaan.
Kemudian dalam gerbang literasi digital, orang tua sering mendampingi anak ketika menonton televisi dan mengontrol pemanfaatan gawai yang dimiliki anak untuk sarana komunikasi, belajar, mengakses informasi penting atau untuk bermain. Sebagai bagian dari literasi budaya dan kewarganegaraan, anak dibiasakan mengenal tata krama dan penggunaan bahasa daerah (basa krama) untuk berkomunikasi dengan orang tua atau orang lain. Anak juga diberi kesempatan untuk menonton atau memainkan sendiri alat kesenian daerah yang telah dikenal dan dimilikinya.
Pembiasaan dan keteladanan dalam keluarga cinta literasi terasa lebih efektif untuk mengembangkan gerakan literasi keluarga. Oleh karena itu, apresiasi dan penghargaan kepada anak juga perlu dilakukan. Demikianlah sekilas tentang implementasi gerakan pengembangan literasi dalam keluarga.
Kendal, 10-09-2020
Penulis artikel ini bernama Robingah, S.Pd.SD lahir di Banjarnegara pada tanggal 21 Januari 1970. Sekarang bertugas sebagai Kepala Sekolah di SDN Sukomangli, Kec. Patean, Kab. Kendal, Jawa Tengah. Alamat surel yang dimiliki adalah **(censored)**. Sedangkan nomor HP/WA yang dapat dihubungi yaitu **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
