Maafkan Aku Pushi
Maafkan Aku Pushi
Tantangan hari ke-255
#TantanganGurusiana 365 hari
“Gedubrak.........krompyang!”
Terdengar suara mengagetkan dari arah ruang makan. Dada Mona terasa berdebar. Mona segera bergegas dari kamar untuk memastikan apa yang terjadi. Mona baru saja pulang dari sekolah terus masuk ke dalam kamar dan belum sempat berganti pakaian.
“Jangan-jangan....” gumamnya begitu khawatir sambil berjalan mengamati sekeliling ruangan. Ayah dan ibu Mona memang belum pulang. Mereka sedang memanen randu untuk diambil kapuknya. Sebelum pergi ke ladang yang tak jauh dari rumah, pagi-pagi Bu Marni ibu si Mona berpesan agar Mona menutup meja makan.
“Mona, jangan lupa nanti lauk dan sayur di meja makan ditutup kembali ya setelah kau sarapan”
“Ya Bu,” jawab Mona ringan.
Kemudian ayah dan ibu Mona keluar rumah dengan membawa peralatan yang diperlukan. Selesai sarapan ternyata Mona lupa menutup mangkuk berisi sayur dan lauk. Mona tergesa-gesa ingin segera berangkat ke sekolah. Kebetulan hari itu Mona harus piket bersama teman. Tudung saji yang biasa digunakan untuk menutup meja makan tergeletak begitu saja bagai benda tak berguna.
“Astaghfirullah....benar dugaanku.” Ucap Mona terperanjat. Mangkuk kesayangan ibu jatuh dari meja dan pecah berkeping-keping tak tampak lagi bentuk uniknya.
“Bagaimana ini kalau Ibu tahu tadi pesannya tidak kuindahkan?” Mona tampak gugup dan cemas sekali.
Mona benar-benar khawatir kalau ibunya akan marah besar. Mona tahu kalau mangkuk yang pecah ini merupakan mangkuk kesayangan ibu. Bentuknya yang unik, memang antik dan menarik. Anehnya juga, mangkuk itu bagai barang ajaib. Kenapa tidak? Ya, karena setiap kali digunakan untuk tempat sayur, seolah semua mata yang memandang ingin segera makan. Aroma sedap yang muncul dari sayur di mangkuk benar-benar bisa mengundang selera makan.
Belum selesai Mona membereskan puing-puing mangkuk tersebut, ternyata suara salam dari Bu Marni menambah kencang debar dada si Mona. Rasa lapar Mona kini tak dihiraukannya. Mona tak berani manatap wajah ibu. Mona segera menjawab salam sembari menunduk dan melirik Pushi yang sedang mendekam di bawah kursi. Pushi mengeong terus tak henti-henti. Rupanya ia juga lapar dan khawatir. Pushi adalah kucing sahabat Mona.
“Lho...kenapa mangkuk itu, Mon?” tanya Bu Marni dengan wajah kecewa.
Mona sangat yakin kalau mangkuk itu tadi terjatuh karena tersambar Pushi saat mengejar tikus yang melintas di atas meja makan. Maklum saja, di rumah Mona memang sering kedapatan banyak tikus yang mengganggu.
“Maafkan Mona, Bu. Tadi si Pushi lapar.” Mona mencoba untuk menjawab dengan tenang.
“Kalau Pushi lapar memang kenapa? Bukankah ibu sudah bilang agar meja ditutup setelah kau sarapan.”
“I...iya Bu. Tadi terdengar tikus mencicit dikejar Pushi.”
“Terus?” Bu Marni semakin penasaran.
“Pushi tidak berhasil menangkap tikus, Bu. Ia malah menyambar mangkuk hingga jatuh,” jelas Mona meyakinkan.
“Mana Pushi? Keluarkan dari rumah ini dan jangan pernah kau ambil lagi! Ibu sangat kecewa Mon, karena mangkuk kesayangan ibu pecah begitu saja gara-gara si Pushi. Bukankah kau tahu, kalau mangkuk itu pemberian dari nenekmu yang diwariskan secara turun-temurun. Tapi kini.....” Belum selesai Bu Marni bicara, Pak Bahrun masuk dengan keringat bercucuran di badan.
“Ada apa Bu, kok tampaknya kesal sekali ya?”tanya Pak Bahrun ayah Mona yang baru sampai dengan membawa sekarung randu.
“Ini lho Pak, mangkuk antik warisan kelurga telah dipecahkan oleh si Pushi. Aku kan sudah bilang pada Mona untuk tidak bersahabat dengan si Pushi. Aku tadi juga sudah berpesan agar meja ditutup kembali setelah sarapan. Tapi Mona rupanya tidak mengindahkan kata-kataku. Bagaimana aku tidak kesal?”
“Ya, sudah-sudah, mintalah maaf Mon pada ibumu!” saran Pak Bahrun mencairkan suasana.
“Ya Pak.” Jawab Mona sambil memohon agar ibunya tetap mengijinkan dirinya untuk bersahabat dengan Pushi. Pushi memang bukan kucing milik Mona tapi ia selalu datang menemani Mona ketika Mona sedang kesepian. Walau dunia mereka berbeda, namun ikatan persahabatan di antara keduanya begitu tampak melalui mata.
Pushi yang dari tadi mendekam di bawah kursi, seolah tahu percakapan mereka. Pushi mencoba bergerak untuk keluar dari ruangan. Ia tak ingin melihat Mona menjadi sasaran kemarahan ibunya.
“Meong, meong.” Suara memelas keluar dari mulut Pushi.
“Mau kemana Push? Kau tak boleh pergi sebelum kaudapatkan makanan dariku,” tanya Mona pada Pushi.
“Biarkan ia pergi, Mon. Ibu kesal sekali dengan sikapmu yang selalu memanjakan Pushi sehingga ibu yang dirugikan. Ayo Push, pergi sana!”
Pushi dihardik oleh Bu Marni untuk keluar dari rumah. Pushi berlari dengan sedih. Dalam hati, ia berharap agar Mona tetap mau bersahabat dengannya. Pushi mengakui kalau hati Mona sangat baik. Mona sering memberinya ikan dan mainan. Pushi sangat senang bersahabat dengan Mona.
“Maafkan Mona ya, Bu. Mona tadi benar-benar khilaf. Mona janji tidak akan mengulangi lagi. Tapi tolong ya Bu, Mona masih ingin bersahabat dengan Pushi.”
“Ya sudah, Ibu maafkan. Sekarang ganti bajumu sana!”
Mona kembali masuk ke dalam kamar setelah puing-puing mangkuk selesai dibereskan. Untung di dapur masih ada bahan sayur untuk dimasak sehingga Bu Marni bisa membuat sayur lagi untuk makan siang bersama.
Melihat ibu sedang memasak di dapur, hati Mona merasa kasihan. Dibantulah ibunya dengan cekatan. Sayur segera matang dan siap disajikan. Kemudian Pak Bahrun, Bu Marni, dan Mona makan bersama-sama hingga kenyang. Sayur kacang ditambah lauk ikan pindang dengan sambal tomat menjadi hidangan siang.
Beberapa hari telah berselang, Pushi tak kunjung datang. Mona selalu teringat Pushi ketika sedang makan. Dalam hati ia ingin sekali mengajak Pushi untuk makan bersama kemudian mengajaknya pergi berjalan-jalan. Namun, apa yang terjadi?
“Pushi, kau sedang apa sekarang? Kenapa sejak kejadian itu kau tak lagi datang ke rumahku untuk bermain bersama? Apa kau marah pada ibuku?”
Belum selesai Mona menuliskan rasa rindunya pada Pushi, sayup-sayup dari belakang rumah terdengar suara kucing mengeong. Mona pun berhenti menulis. Ia segera mencari suara kucing tersebut. Semakin dekat Mona mencari sumber suara, semakin jelas suara itu terdengar. Tak asing lagi bagi Mona kalau suara itu adalah suara si Pushi.
Dibukanya pintu belakang. Mona seolah tak sabar ingin segera bertemu dengan si Pushi. Ya benar, ternyata Pushi datang.
“Hai Pushi....ayolah kemari, aku sudah rindu ingin bermain denganmu,” Sapa Mona pada Pushi yang masih mengeong sambil berusaha masuk ke teras belakang rumah yang berpagar besi. Mona tersenyum geli tatkala melihat si Pushi sedang berusaha menembus lubang pagar yang begitu sempit. Dengan susah payah Pushi berusaha sekuat tenaga untuk meraih tangan Mona.
“Horeeeee, Pushi berhasil. Terima kasih Push, kau telah datang untukku,” teriak Mona kegirangan sambil memeluk Pushi dengan erat sambil mengelus bulu-bulu halus yang menutup sekujur tubuhnya.
“Maafkan aku Pushi. Sekarang kita bisa bermain lagi. Aku yakin ibuku telah melupakan kejadian beberapa hari yang lalu. Kini kau tetap sahabatku.” bujuk Mona pada Pushi.
Pushi mengeong manja sebagai ungkapan rasa terima kasihnya pada Mona. Walau berbeda insan, ternyata kisah persahabatan dapat terwujud atas dasar kasih sayang sesama makhluk ciptaan Tuhan.
Bu Marni dan Pak Bahrun hanya tersenyum melihat Mona bercakap dengan Pushi secara sembunyi-sembunyi yang selalu disahut dengan suara meooong...meooong. Begitulah persahabatan Mona dan Pushi yang tak bisa terpisahkan lagi.
Kendal, 29-09-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
