Tak Ingin Terlena
Tak Ingin Terlena
Tantangan hari ke-254
#TantanganGurusiana 365 hari
Mengikuti tantangan menulis tanpa jeda di blog Gurusiana bagiku bukanlah hal yang dapat dianggap sepele. Berbagai rintangan dan halangan ada saja yang mewarnai lika-liku gerak jari-jemari untuk menorehkan ide-idenya. Selain ide yang kadang bersembunyi di balik angan, kendala sinyal, berbagai kesibukan, dan kondisi badan yang butuh istirahat juga tak segan-segan menguji kesabaran dan konsistensi untuk lolos dalam menghadapi tantangan.
Rasa tertagih akan sebuah tulisan walau tak ada yang mewajibkan telah menyelusup dalam tekad yang perlu diperjuangkan. Meski tak perlu ada pemaksaan dalam diri sendiri, namun demi sebuah niat yang cukup membutuhkan pengorbanan maka apa pun bentuknya tetap menjadi sasaran untuk menjadi sebuah tulisan. Untung saja dalam blog tersedia menu untuk berbagai jenis tulisan sehingga para gurusianer (julukan para penulis di blog Gurusiana) sepertiku tak harus terpaku pada satu jenis tulisan saja.
Penulis dapat mengirimkan jenis tulisan sesuai minatnya. Ada cerpen, puisi, pantun, kolom, reportase, parenting, pentigraf, cerita anak, dan lainnya. Yang jelas banyak varian menu untuk mengunggah tulisan di blog Gurusiana. Benar-benar menguntungkan varian tersebut karena dapat membantu para gurusianer dalam menyiasati ketika muncul keterbatasan ide atau waktu. Kadang hari ini menulis cerita anak, besoknya berganti puisi atau kolom. Atau bisa juga rutin berpentigraf, tiba-tiba pada hari berikutnya muncul ide menulis reportase.
Adanya sanksi berupa remidi memang tak bisa ditawar-tawar lagi. Efek positif dan negatifnya tentu saja ada. Bagi para gurusianer yang telah berniat untuk mengikuti tantangan menulis di blog yang telah mencapai ribuan peserta ini tentu saja harus konsisten mengirimkan tulisan setiap hari jika tidak ingin terkena remidi.
Satu hari saja gurusianer absen tidak mengirim tulisan itu sama halnya ia harus terjun bebas dari sebuah ketinggian alias remidi. Ketika akan terus mengikuti tantangan, maka ia harus memulainya kembali dari hari pertama. Itu sebabnya, aku tak ingin terlena hingga ikut-ikutan remidi atau terjun bebas begitu saja.
Berbagai upaya kulakukan agar setiap hari dapat mengirim sebuah tulisan. Tak peduli sibuk atau tidak, aku selalu menyempatkan waktu untuk menulis apa saja yang muncul dari dalam kepala. Teringat materi diklat saat itu bahwa ide ada di mana saja. Bahkan di rumah pun ternyata banyak hal yang dapat dijadikan ide untuk menulis. Masalahnya tinggal bagaimana menuangkannya dalam tulisan.
Tulis saja apa yang ada dalam angan. Kalimat tersebut sering kujadikan pedoman di kala ide sedang benar-benar tak mau muncul. Yang penting nulis dan nulis saja bermodal 5W + 1H yang sudah biasa dikenal oleh para penulis lainnya. Aku benar-benar tak ingin terlena.
Lupa menulis karena berbagai kesibukan itu bisa saja terjadi. Oleh karena itu, beberapa langkah kulakukan sebagai antisipasi agar tak sampai terlena. Sebelum batas waktu yang ditetapkan, sebuah tulisan biasanya telah kusiapkan. Lalu mengunggahnya pada waktu-waktu yang masih nyaman. Dalam arti tidak mepet tengah malam karena bagiku waktu-waktu cinderella itu cukup mengandung risiko. Kadang jaringan listrik mati, internet tidak nyambung, atau bisa saja gangguan yang lainnya.
Selain menyiapkan tulisan sebelum waktu limit, aku juga tak segan-segan membuka gawai dan membaca tulisan-tulisan teman sekaligus untuk mengingatkan agar diri ini tidak terlena belum menggunggah tulisan. Saling mengingatkan bersama teman juga sering kulakukan. Tujuannya agar aku tidak terlena karena asyik dengan kesibukan lainnya.
Meskipun awalnya terasa berat karena harus menulis terus setiap hari, namun lama kelamaan aktivitas merangkai kata ini justru menjadi candu yang membuatku ingin terus melakukannya. Walau sederhana, tetaplah menulis dengan niat untuk berbagi kebaikan. Kalimat itulah yang menjadi pemicunya. Lelah dan ngantuk akhirnya sering terkalahkan oleh kata-kata yang bermunculan ingin segera diuntai menjadi kalimat-kalimat bermakna.
Bagiku satu hari satu tulisan saja tidaklah mengapa. Yang penting ikhlas dan bermanfaat bagi sesama. Dengan menulis, setidaknya ada hal yang dapat dijadikan sebagai pengingat dan penyemangat sehingga kita tidak mudah terlena. Semoga para gurusianer lainnya juga tak sampai terlena sehingga tantangan menulis tanpa jeda dapat diikutinya dengan mulus dan lancar.
Kendal, 28-09-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
