Peran Kepala Sekolah dalam Pengembangan Literasi Baca dan Tulis
Peran Kepala Sekolah dalam Pengembangan Literasi Baca dan Tulis
Oleh Robingah, S.Pd.SD
Tantangan hari ke-270
#TantanganGurusiana 365 hari
#lombamenulisoktober 2020
Literasi baca dan tulis merupakan kecakapan yang harus dimiliki oleh setiap peserta didik. Kecakapan ini sangat dibutuhkan untuk menghadapi masa depan yang lebih menantang. Sekolah menjadi salah satu lembaga yang tepat sebagai ajang pengembangan literasi. Keberhasilan pengembangan literasi baca dan tulis sangat dipengaruhi adanya komitmen dari seluruh warga sekolah. Lalu, bagaimana peran kepala sekolah dalam pengembangan literasi baca dan tulis di sekolah yang dipimpinnya?
Wujudkan Gerakan Literasi Sekolah
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai bagian dari Gerakan Literasi Nasional (GLN) perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Berbagai kegiatan dapat dilakukan sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah. Ada sekolah yang telah memiliki sarana dan prasarana lengkap seperti gedung perpustakaan beserta buku-buku bacaan yang memadai. Namun, ada juga sekolah yang belum memiliki semua sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk pengembangan literasi baca dan tulis.
Adanya keterbatasan yang dimiliki, bukan berarti sekolah tidak dapat mengembangkan literasi baca dan tulis. Pembentukan dan pemberdayaan tim Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dapat menjadi salah satu alternatif untuk memecahkan masalah tersebut. Tim dibentuk dengan melibatkan kepala sekolah, dewan guru dan komite sekolah. Tugasnya adalah memandu kegiatan literasi sekolah.
Selain membudayakan kegiatan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai, di sekolah tempat penulis bertugas telah diadakan kegiatan membaca bersama. Tempatnya di halaman sekolah atau di luar ruang kelas. Kegiatan ini dilakukan setiap seminggu sekali pada hari Kamis pagi. Hari khusus tersebut dinamai sebagai hari literasi.
Big book menjadi bahan bacaan pilihan bagi peserta didik kelas bawah (kelas 1, 2, dan 3) pada saat kegiatan membaca bersama. Sedangkan untuk kelas atas (kelas 4, 5, dan 6) menggunakan buku-buku bacaan sesuai dengan karakteristiknya. Setelah membaca buku bersama, para peserta didik membentuk kelompok untuk saling menceritakan kembali isi bacaan secara bergantian. Lalu, menuliskannya pada buku jurnal membaca. Pengisian jurnal membaca bertujuan untuk melatih keterampilan peserta didik dalam menuliskan intisari sebuah bacaan. Sedangkan kegiatan menceritakan kembali dimaksudkan untuk menambah pemahaman tentang isi buku yang telah dibacanya.
Pada setiap awal masuk di tiap-tiap semester, ada agenda yang cukup menyemarakkan. Para orang tua peserta didik kelas bawah ikut berpartisipasi dalam kegiatan membaca bersama di sekolah. Sebagai bentuk dukungan dan kerja sama lainnya, maka diadakan pula program saku sanak (satu buku satu anak). Setelah libur semester, peserta didik datang ke sekolah membawa satu buku bacaan dari rumah. Hal ini dilakukan karena sekolah belum memiliki gedung perpustakaan dan masih terbatasnya jumlah buku bacaan yang tersedia.
Peran Kepala Sekolah
Pengembangan literasi baca dan tulis di sekolah tidak lepas dari peran penting seorang kepala sekolah. Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani dapat dijadikan prinsip dalam kepemimpinan pengembangan tersebut. Artinya, di depan seorang kepala sekolah memberikan contoh terlebih dahulu tentang pembiasaan kegiatan baca dan tulis. Kemudian, di tengah-tengah mau dan mampu membangun minat seluruh warga sekolah untuk melakukan kegiatan yang sama. Sedangkan dari belakang memberikan dorongan/motivasi agar seluruh pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik mempunyai semangat untuk berliterasi.
Penerbitan SK (Surat Keputusan) tentang pembentukan tim GLS, budaya baca dan tulis, serta hari literasi dapat menjadi dasar pelaksanaan kegiatan pengembangan literasi baca dan tulis. Adanya pengalokasian sebagian dana sekolah untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana literasi dicantumkan dalam RKAS (Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah). Selanjutnya, para peserta didik dan guru diberi kesempatan untuk mengikuti berbagai pelatihan dan lomba yang berkaitan dengan literasi baca dan tulis maupun sastra.
Pembuatan dan penataan pojok baca yang kreatif dan inovatif dapat memotivasi minat baca peserta didik. Sedangkan majalah dinding dapat menjadi tempat untuk memajang hasil karya dalam bentuk tulisan. Sebagai bentuk penghargaan dan apresiasi, karya mereka dapat didokumentasikan menjadi sebuah buku antologi. Walau sederhana tetapi nyata.
Kendal, 10-10-2020
Penulis artikel ini bernama Robingah, S.Pd.SD lahir di Banjarnegara pada tanggal 21 Januari 1970. Sekarang bertugas sebagai Kepala Sekolah SDN Sukomangli, Kec. Patean, Kab. Kendal, Jawa Tengah. Alamat surel yang dimiliki adalah **(censored)**. Sedangkan nomor HP/WA yang dapat dihubungi yaitu **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
