Robingah, S.Pd.SD

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Guru Merdeka Berkarya, Wayang Tangkai Daun Singkong Berbicara

Guru Merdeka Berkarya, Wayang Tangkai Daun Singkong Berbicara

Guru Merdeka Berkarya, Wayang Tangkai Daun Singkong Berbicara

Oleh Robingah, S.Pd.SD

Tantangan hari ke-297

#TantanganGurusiana 365 hari

#lombaguru.mediaguru.id

Sering kita mendengar istilah guru mulia karena karya. Itu artinya, jika seorang guru ingin menduduki posisi yang mulia maka ia harus berani untuk berkarya. Karya-karya guru dapat dihasilkan dengan mudah apabila guru bebas atau merdeka dalam berkarya. Lalu, bagaimana kreativitas guru dalam mengimplementasikan merdeka berkarya?

Merdeka Berkarya

Istilah merdeka sangat erat hubungannya dengan suatu kebebasan. Bagi seorang guru, memiliki kebebasan untuk berkarya merupakan hal penting yang perlu didapatkan. Adanya merdeka berkarya sangat memungkinkan baginya untuk bekerja lebih kreatif dan inovatif. 

Merdeka berkarya dapat diwujudkan dengan melakukan berbagai aktivitas sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Guru memang harus mampu merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses maupun hasil belajar siswanya dengan baik. Sesuai dengan kompetensinya, guru juga harus mampu mengelola pembelajaran yang bervariasi sehingga tidak membosankan.

Berawal dari cara menyiapkan materi, metode, media, dan alat peraga yang dibutuhkan, kreativitas guru untuk berkarya dapat dimunculkan. Setiap guru memiliki kemampuan tersendiri dalam berkarya. Itu sebabnya guru perlu diberi kebebasan untuk menghasilkan karya sesuai dengan kreativitas masing-masing.    

Salah satu bentuk merdeka berkarya bagi guru adalah dengan memanfaatkan objek yang tersedia di lingkungan sekitar untuk pembuatan alat peraga. Misalkan saja tangkai daun singkong. Daun singkong banyak dijumpai di lingkungan sekolah pedesaan. Bentuknya yang menjari dengan tangkai ramping dapat dimanfaatkan untuk membuat wayang daun sebagai alat peraga penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Bahan yang sederhana dan mudah diperoleh ini, dapat digunakan untuk belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar.

Wayang Tangkai Daun Singkong

Proses pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM) dapat dilakukan dengan menghadirkan media atau alat peraga yang menarik. Tujuannya adalah untuk membantu memudahkan siswa dalam memahami materi pelajaran yang sedang dipelajari. Tidak dapat dimungkiri bahwa menghadirkan alat peraga dalam proses pembelajaran membutuhkan suatu kebebasan dalam memilih, membuat, dan menggunakannya.

Meskipun banyak alat peraga yang dapat dibeli di toko alat peraga dengan harga, model, dan bahan yang beragam, namun tak ada salahnya jika guru dapat berkreasi dan berinovasi membuat alat peraga sendiri dari bahan yang tersedia oleh alam. Wayang tangkai daun singkong merupakan salah satu di antara sekian banyak alat peraga yang dibuat dari tumbuh-tumbuhan.

Proses pembuatan wayang mainan ini cukup mudah dan sederhana. Caranya, siapkan bahan berupa beberapa tangkai daun singkong. Kemudian, tangkainya dianyam membentuk sebuah wayang. Daunnya dapat diuntai atau diikat untuk menggambarkan rambut wayang.  Selanjutnya, siapkan selembar kertas manila putih sebagai kelir untuk memainkan wayang tersebut. 

Siapkan juga deretan bilangan bulat positif dan negatif yang dituliskan pada kertas tersebut. Kertas manila dapat juga ditambah hiasan atau asesoris untuk memperindah tampilan. Bilangan bulat positif dituliskan pada deretan sebelah kanan bilangan nol sedangkan bilangan bulat negatif dituliskan pada deretan sebelah kiri bilangan nol. Wayang ini dapat dibuat sendiri oleh guru maupun siswa dengan berbagai bentuk.

Setelah wayang dan deretan bilangan bulat disiapkan, lalu wayang dimainkan dengan cara berbicara atau menyuarakan bilangan-bilangan yang telah ditentukan dalam operasi hitung penjumlahan atau pengurangan bilangan bulat. Guru dapat mendemonstrasikan kepada siswa-siswinya dengan langkah maju atau mundur dan berbalik arah. Langkah awal, wayang berdiri pada posisi bilangan nol. Langkah maju untuk menandakan penjumlahan dan langkah mundur untuk menandakan pengurangan.       

Arah menghadap wayang disesuaikan dengan bilangan bulat yang dikehendaki. Jika yang dimaksud adalah bilangan bulat positif, maka wajah wayang menghadap ke arah kanan. Sebaliknya untuk menunjukkan bilangan bulat negatif, wajah wayang menghadap ke arah kiri. Untuk menentukan hasilnya, tinggal melihat posisi terakhir wayang berhenti melangkah.

Bagi para guru sekolah dasar kelas atas, praktik pembelajaran seperti ini tentunya sudah bukan hal yang asing lagi. Namun, adanya alat peraga wayang tangkai daun singkong yang berbeda dengan alat peraga lainnya, menjadikan nuansa guru merdeka berkarya terlukis dengan jelas dalam proses pembelajaran.

Kendal, **(censored)**

Penulis bernama Robingah, S.Pd.SD lahir di Banjarnegara, 21 Januari 1970. Sejak 2019 ia bertugas sebagai Kepala Sekolah di SDN Sukomangli, Kec. Patean, Kab. Kendal, Jawa Tengah. Alamat e-mail yang dimilikinya adalah **(censored)** dan nomor HP/WA aktifnya **(censored)**

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post