Nasib Brintik dan Brontok
Nasib Brintik dan Brontok
Tantangan hari ke-353
#TantanganGurusiana 365 hari
Brintik dan Brontok adalah dua ekor ayam milik Jalu. Keduanya telah lama ditinggal mati oleh induk dan saudara-saudaranya yang lain. Kini, keduanya hanya tinggal berdua di dalam kandang yang berada di belakang rumah Jalu.
Meski keduanya telah dibuatkan kandang, namun setiap pagi hingga sore Jalu membiarkan Brintik dan Brontok lepas ke alam bebas. Pintu kandang sengaja tidak dibuatkan tutup agar pagi hari Brintik dan Brontok bisa langsung keluar untuk menghirup udara bebas. Lingkungan tempat tinggal Jalu memang tergolong aman.
Jalu sangat menyayangi Brintik dan Brontok. Ia selalu merasa kasihan apabila teringat waktu Brintik dan Brontok masih kecil-kecil. Suatu pagi, udara terasa sangat dingin. Hujan pun turun dengan derasnya. Biasanya, Jalu memanggil ayam-ayamnya pada pagi hari untuk makan. Namun, pagi itu ia merasa tak mungkin untuk memanggilnya.
"Keeeer, keeeer," seperti itulah cara Jalu ketika memanggil ayam-ayamnya. Ada sepuluh ayam dan induknya yang ada di dalam kandang itu. Karena hujan, Jalu berfikir kalau ayam-ayamnya tidak mungkin berani keluar dari kandangnya yang terbuat dari kayu dan bambu.
Jalu merasa penasaran. Biasanya pagi-pagi sekali keciap ayam-ayam piaraannya terdengar sangat ramai. Namun, pagi itu hanya terdengar keciap anak ayam yang berbeda dari biasanya. Jalu segera memeriksa kandang sambil membawa makanan berupa katul yang telah dicampur dengan nasi. Ia memakai payung karena tak ingin badan dan makanan ayamnya basah terkena air hujan.
Betapa terkejutnya hati Jalu. Ternyata induk ayam dan anak-anaknya telah terkapar tidak bernyawa lagi kecuali dua anak ayam yang berbulu berintik dan berontok. Jalu benar-benar merasa iba. Lalu diberinya makan kedua anak ayam yang masih hidup itu. Katul dan nasi segera dimakan hingga kenyang.
Jalu memandangi kedua anak ayam tersebut. Bulu-bulunya yang berintik, membuat Jalu merasa tertarik. Ia mencoba untuk memegang salah satu dari kedua ayamnya. Bulu-bulunya memang sangat bagus. Mulai hari itu, Jalu memanggilnya dengan sebutan si Brintik dan si Brontok.
Brintik mempunyai bulu-bulu yang berbintik kecil sedangkan Brontok bintik-bintik bulunya lebih besar. Setelah memberikan makan dan minum, Jalu segera keluar dari kandang dan membiarkan Brintik dan Brontok tetap berlindung di dalamnya. Sedangkan ayam-ayam yang sudah mati segera disingkirkan lalu dikuburkannya di kebun setelah hujan reda.
Beberapa waktu kemudian, Brintik dan Brontok tumbuh menjadi ayam-ayam yang dewasa. Brintik semakin cantik dan Brontok pun semakin gagah perkasa. Rupanya Brontok merasa sudah waktunya untuk menunjukkan kelebihan dan kekuatannya. Ia sudah pandai berkokok.
Berbeda dengan si Brontok, si Brintik justru tampak sering mengalah ketika makanannya dimakan oleh si Brontok. Jalu memang suka mengamati tingkah kedua ayam kesayangannya itu. Selain rajin memberinya makan dan minum, Jalu juga suka membersihkan kandangnya.
Brintik dan Brontok tampak semakin dekat dengan Jalu. Begitu Jalu memanggilnya, mereka selalu mendekat dengan cepat. Apalagi Jalu selalu memberikan makanan yang cukup. Seolah Brintik dan Brontok tak pernah kekurangan makanan. Selain katul, kadang diberinya jagung atau beras.
Siang itu Jalu benar-benar merasa bersedih. Ketika ia mau memberi makan pada si Brintik dan Brontok, ternyata si Brontok tidak tampak mendekat. Berkali-kali dipanggilnya dengan suara agak keras tetapi si Brontok tidak segera muncul. Jalu pun segera mencarinya di sekeliling kebun dekat rumah. "Keeeer, keeeer." Jalu memanggil ayamnya sambil berjalan ke sana ke mari. Namun, tak ada tanda-tanda kalau si Brontok akan segera mendekat.
Sambil terus mencarinya, tiba-tiba Jalu terkejut. "Brontok, kenapa kau?" tanya Jalu setengah berteriak. Ternyata si Brontok sedang tergeletak dengan kaki yang berdarah. Ia pun segera mengangkat dan membawanya pulang untuk diobati. Jalu hanya bisa bertanya dalam hati, "Siapakah yang telah tega melukai si Brontok, ya?"
Bersambung
Kendal, **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
