Salim dan Kambing Hitam
Salim dan Kambing Hitam
Tantangan hari ke-356
#TantanganGurusiaa 365 hari
Usai mencari rumput dan ramban, Salim dan ayahnya segera pulang. Meski kakinya masih terasa sakit, Salim tetap menuruti kata ayahnya untuk terus berjalan. Kali ini, Salim berjalan di depan ayahnya.
Salim tak bisa berjalan secepat biasanya. Padahal, hujan sudah mulai turun. Makin lama makin deras rinainya. Salim dan ayahnya tak berani melanjutkan perjalanan. Ayah Salim tak ingin rumput dan rambannya basah kuyup terkena air hujan. Kebetulan, mereka melewati sebuah gardu kecil yang berada di tepi jalan. "Sebaiknya kita berhenti dulu dan berteduh di gardu itu, Lim," kata ayah Salim.
Salim mengikuti saja anjuran ayahnya. Keduanya masuk ke dalam gardu yang terbuat dari kayu beratap genting. Kemudian diselonjorkannya kaki Salim di atas lincak yang ada di gardu itu. Lincak itu nama lain dari tempat duduk yang dibuat memanjang dari bambu. Sambil menunggu hujan reda, ayah Salim berusaha untuk memijat kaki Salim yang keseleo tadi sambil duduk.
Dengan hati-hati, ayahnya memijat dan mengurut kaki Salim. Sesekali, Salim terdengar mengaduh kesakitan. Namun, ia tetap berusaha untuk menahannya. Salim berharap, sakit di kaki kanannya akan segera hilang.
Hujan semakin deras. Kambing-kambing hitam di rumah Salim terdengar mengembik semakin keras. Bu Ranti pun merasa semakin cemas. Perempuan beranak dua itu tak ingin anak dan suaminya kehujanan. Apalagi jika rumput dan rambannya terkena air hujan, maka kambing-kambing piaraan keluarganya itu tidak akan mau memakannya.
Pak Danu ayah Salim terus berusaha memijat agar kaki Salim tak sakit lagi. Setelah dipijat, Salim mencoba untuk menggerak-gerakkan kakinya. Salim bersyukur karena rasa sakit di kakinya menjadi berkurang. Ayah Salim memang sering dimintai tolong banyak orang untuk memijat kaki yang keseleo.
Hampir satu jam Salim dan ayahnya berteduh di gardu kecil. Salim merasa cukup kedinginan. Dipandanginya bulir-bulir air hujan yang jatuh di hadapannya. Sedikit pun tak ada keluh kesah di hatinya. Ia justru bersyukur karena dengan adanya air hujan, berarti rumput dan tanaman hijau dapat tumbuh dengan subur.
Senja semakin menggelap. Beruntung hujan telah reda. Sayup-sayup dari kejauhan terdengar alunan merdu azan Magrib berkumandang. Pak Danu dan Salim segera bersiap untuk melanjutkan pulang. Ramban di keranjang segera diangkatnya lalu diletakkan di atas kepala Pak Danu. Salim dan ayahnya berjalan beriringan.
Sampai di rumah, Salim segera meletakkan sabit dan capingnya. Melihat Salim sudah pulang, ternyata embikkan kambing-kambing hitamnya justru semakin keras. Bahkan, kambing-kambing itu terlihat berjejal seolah ingin berebut keluar dari kandangnya. Salim hanya tersenyum melihat tingkah hewan piaraannya itu.
"Mbek, mbek, mbek." Begitu pintu kandang dibuka, Salim benar-benar terkejut karena semua kambingnya keluar dan berkerumun menyambut kedatangan Salim kecuali ada satu ekor yang tetap mendekam di kandang. Rupanya mereka tidak ingin kehilangan Salim dan ayahnya yang suka memberinya makan. "Sabar, sabar," kata Salim sembari mengambilkan rumput yang ada di dalam keranjang.
Kambing-kambing itu dihalaunya agar kembali masuk ke dalam kandang. Salim meletakkan seonggok rumput di dalam kandang. Kemudian, tampaklah kambing-kambing tersebut makan dengan lahapnya. Termasuk kambing betina tadi yang tak mau keluar dari kandang. Maklum saja karena si betina itu perutnya sedang membesar. Tinggal menunggu beberapa hari lagi ia melahirkan.
Keesokan paginya, Salim membantu ayahnya untuk membersihkan kandang. Kebetulan hari itu adalah hari Minggu sehingga Salim tidak bersekolah. Seperti biasanya, kotoran-kotoran kambing disapu dengan sapu lidi. Lalu, dikumpulkan di sebuah tempat yang tak jauh dari kandang.
Setelah kandang itu bersih, ayah Salim mengajaknya untuk menggembalakan kambingnya di tempat yang banyak rumputnya. Betapa senangnya hati Salim karena kakinya sudah tidak sakit lagi. Satu per satu kambingnya dikeluarkan dari dalam kandang. Tak lupa Salim mengusap kepala kambing-kambingnya itu sebelum digiring ke tempat penggembalaan. Seperti itulah kebiasaan Salim terhadap kambing-kambing hitamnya. Sekian. Salam literasi.
Kendal, **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan