Salim dan Si Hitam
Salim dan Si Hitam
Tantangan hari ke-355
#TantanganGurusiana 365
Sore itu sehabis salat Asar, Salim dan ayahnya harus segera mencari ramban untuk lima ekor kambing yang ada di kandangnya. Ramban adalah istilah lain dari dedaunan atau rerumputan untuk makanan hewan piaraan seperti sapi, kerbau, atau kambing di lingkungan tempat tinggal Salim.
Sehari-hari, ayah Salim bekerja sebagai seorang petani tetapi ia juga memelihara lima ekor kambing sebagai pekerjaan sambilan. Kambing-kambing hitamnya itu tampak sehat dan kuat. Setiap sore, Salim mendapat tugas untuk membantu ayahnya mencari ramban. Sebenarnya, Salim ingin bermain seperti teman-temannya. Namun, ia tidak berani membantah perintah orang tuanya.
Salim memang menyadari kalau kedua orang tuanya ingin mendidik Salim agar menjadi anak yang patuh pada orang tua, suka bekerja keras, dan mencintai hewan piaraan. Itu sebabnya, ayah Salim memelihara kambing juga untuk melatih Salim agar mempunyai tanggung jawab sejak kecil.
Salim masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar tetapi ia sudah terbiasa dengan tugasnya mencari ramban. Sabit dan keranjang dari bambu telah siap untuk dibawa. Begitu juga dengan capingnya. "Lim, ayo kita segera berangkat mumpung hujan belum turun!" Suara ayahnya sedikit membuyarkan pikiran Salim yang sedang berdiri sambil menatap ke arah langit yang tampak sedikit mendung.
Salim sebenarnya ingin di rumah saja sambil bermain Hand Phone (HP) seperti teman-temannya tetapi ia tidak berani untuk melakukannya. Apalagi ia harus membantu orang tuanya mencari ramban untuk kambing-kambing piaraannya. Salim berpikir kalau kambing-kambingnya itu tidak boleh kelaparan sehingga ia pun tidak menolak ajakan ayahnya.
Sabit dan keranjang dari bambu segera diambilnya. Lalu, Salim berjalan mengikuti ayahnya ke kebun miliknya yang tak begitu jauh dari rumah. Salim melakukannya dengan senang hati karena ia sangat mencintai si hitam kambingnya itu. Di kebun milik ayahnya memang banyak tanaman hijau yang daun-daunnya dapat diambil untuk makanan kambing. Rumput-rumputnya juga banyak.
Salim dan ayahnya berangkat mencari ramban dengan langkah kaki yang cukup cepat. Sampai di kebun, Salim segera memotong rerumputan yang ada. Rumput-rumput itu dimasukkannya ke dalam keranjang. Sementara itu, ayahnya mencari dedaunan dengan memanjat pohon nangka. Salim merasa senang karena ayah tidak memaksanya untuk ikut memanjat pohon.
Beberapa menit kemudian, keranjang sudah penuh dengan ramban. Sementara, hujan belum juga turun. Salim dan ayahnya segera bergegas untuk pulang. Keranjang di letakkannya di atas kepala ayah dan Salim membawakan sabitnya. Dengan sedikit tergesa-gesa keduanya berjalan agar tidak kehujanan dan bisa segera sampai ke rumah.
"Ayah, tolong!" Tiba-tiba Salim berteriak. Ayahnya yang berjalan di depan Salim berusaha untuk menengok anaknya. Tadi Salim memang berjalan tergesa-gesa dan setengah berlari. Ia tidak ingin ketinggalan jauh dari ayahnya. Rupanya kaki Salim menapak di jalan yang berlubang.
Ayah Salim terkejut. Ia segera menurunkan keranjangnya dari atas kepala. Salim tampak menangis kesakitan. Ternyata, kaki Salim keseleo. Salim mengaduh sambil memegangi kakinya yang sebelah kanan. Ayah Salim berusaha untuk memijitnya. Namun, rasa sakit belum juga hilang.
Ayah Salim merasa bersalah pada anaknya yang sulung itu. Segera ia ditolongnya sambil dihibur agar Salim tidak menangis. Kata ayah Salim, jadi anak laki-laki itu tidak boleh cengeng. Salim pun mengerti maksud ayahnya. Ia berusaha untuk berhenti menangis dan menahan rasa sakitnya itu.
Sementara itu, kambing-kambing di rumahnya menunggu di kandang sambil berkali-kali mengembik. Seolah-olah mereka tahu dan dapat merasakan sesuatu yang sedang terjadi pada diri Salim. "Mbek, mbek," Begitulah suaranya terdengar terus menerus membuat seisi kandang jadi terasa berisik.
Bu Ranti, ibunya Salim yang sedang menggendong bayinya juga merasa khawatir karena anak dan suaminya tak kunjung pulang seperti biasanya. Ia beberapa kali melongok keluar rumah untuk memastikan keduanya pulang tetapi hingga turun hujan mereka belum sampai ke rumah. Bu Ranti hanya memendam tanya, di manakah mereka berteduh?
Bersambung.
Kendal, **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan