Tertampar
Tertampar
Menulis hari ke-423
#terusmenulis
Alya benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Nu. Tanpa diduga, tiba-tiba ia menampar pipi kirinya. Meski tidak begitu keras, namun Alya sempat tersentak. Kemudian ia mengaduh karena kaget. Bahkan ia juga merasakan pipinya sedikit panas. Namun, Alya mencoba untuk menahannya.
Beberapa hari yang lalu, Nu yang tak pernah lupa dengan topi di kepalanya itu memang menitip pada Alya untuk dibelikan madu tawon asli pada Pak Man. Ya, Pak Man adalah penjaga sekolah di tempat Alya bertugas tetapi ia juga mempunyai kegiatan sampingan memasarkan madu. Selain harganya lebih murah, rasa madunya juga benar-benar asli.
Seperti biasanya, Nu pulang menghampiri Alya. Saat mau pulang, ia menanyakan pesanan madunya itu. "Nu, aku minta maaf ya karena dari kemarin aku sibuk mengoreksi hasil ulangan harian anak-anak, jadi aku lupa belum membelikan madu itu." Mendengar jawaban Alya yang tampak gugup, Nu tidak segera membalasnya. Ia justru langsung melayangkan tangannya pada pipi halus Alya. Alya menjerit. Bukannya iba, Nu justru tertawa terbahak-bahak. Ketika mengusap pipinya, ternyata darah segar seekor nyamuk belepotan di telapak tangan Alya.
Kendal, 16-03-2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
