Sekelumit tentang Jujur
Sekelumit tentang Jujur
#renungandiri
Kata jujur memang cukup singkat untuk diucapkan. Namun, apakah mudah untuk diimplementasikan? Jujur sudah sepantasnya menjadi salah satu karakter khas yang perlu kita miliki.
Sebuah kejujuran yang disampaikan oleh seseorang tentunya dapat berdampak positif atau negatif. Berkata jujur memang sudah selayaknya menjadi kebiasaan dalam menjalin komunikasi dengan sesama. Dengan berkata jujur tentunya akan lebih membawa ketenangan dan kenyamanan di hati.
Walau berkata jujur itu kadang-kadang menimbulkan rasa yang tidak menyenangkan bagi lawan bicara, namun akankah kita membiarkan sekeping hati terkurung di zona nyaman berbingkai kepura-puraan atau kebohongan? Bukankah sekali kita mengucapkan suatu kebohongan itu sama halnya akan mengurai kebohongan-kebohongan berikutnya?
Saya yakin, di antara kita tentu pernah merasa gamang mana kala harus menghadapi situasi yang membuat kita harus memilih antara berkata jujur atau tidak jujur. Bukan hal yang mudah untuk memilih sesuatu yang dapat membuat diri sendiri dan orang lain merasa nyaman tatkala bersinggungan dengan hal yang terkait dengan kejujuran.
Ada kalanya berkata jujur itu rasanya tidak enak hati tetapi jika tidak jujur, sama halnya dengan mengingkari hati nurani. Oleh karena itu, ketika kita telah memutuskan untuk berkata jujur berarti kita telah siap menerima konsekuensinya. Nyaman atau tidak nyamankah kesudahannya?
Tidak mustahil jika suatu ketika sesuatu yang kita katakan apa adanya justru membuat seseorang merasa sedih, malu, atau takut. Atau sebaliknya. Mungkin kita sendiri juga pernah merasa tak enak hati ketika seseorang menuturkan kejujuran yang seharusnya tak perlu diungkapkan secara tersurat. Itu sebabnya, saya berpikir bahwa yang namanya jujur itu tidak selamanya harus mengatakan semuanya. Sudah selayaknya ada hal-hal tertentu yang perlu dipertimbangkan terlebih dahulu sebelum kejujuran itu dilontarkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, adat dan adab juga sering kita jumpai saling berbenturan. Misalkan saja ketika kita benar-benar sedang dalam posisi membutuhkan bantuan. Demi menjaga adat, kita akan rela menolak bantuan itu dengan bahasa yang dikemas sedemikian rapi dan santun. Padahal, jelas-jelas hal itu sangat bertolak belakang dengan gejolak hati yang sedang dirasakan. Takut merepotkan atau malu atas kelemahan dan kekurangan diri sendiri dapat juga menjadi salah satu alasannya.
Dalam lingkup dunia, kita juga dapat bergaul dengan beragam bangsa yang memiliki aneka budaya masing-masing. Tak selamanya adat bangsa lain harus kita hindari. Sisi-sisi positif tentang sebuah kejujuran yang mereka miliki, tak ada salahnya untuk kita adopsi. Tentu saja dengan menyesuaikan kontek yang sedang, kita hadapi.
Ketika lapar atau dahaga menerpa diri, apakah kita akan menolak tawaran dengan mengucapkan terima kasih saya sudah makan dan minum atau kita akan langsung menerimanya dengan senang hati tanpa basa-basi? Yah, tentunya perlu lihat-lihat dulu situasinya. Jujur saja, tiap pagi sebelum pergi ke sekolah, perut saya mesti akan bernyanyi riang ketika berhadapan dengan anak-anak jika belum diisi beberapa suap nasi dan segelas minuman hangat pemantik energi.
Sepakat atau tidak sepakat, coba saja yuk kita renungkan bersama tentang kejujuran yang telah kita miliki bersama seruput kopi pagi. Sudahkah kita berani untuk selalu berkata jujur walau hal itu akan membuat harapan kita menjadi hancur?
Bilik Senyap, 18-01-2022
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
