Ikhlas Bersahabat
IKHLAS BERSAHABAT
Oleh: Ruby
Mentari pagi bersinar terang. Pendar cahyanya terasa hangat menelusup ke dalam pori-pori tubuhku. Membaca cuaca yang tampak terbebaskan dari gumpalan awan kelabu, ternyata mampu menggugah semangat hati untuk terus melaju menjemput hari.
Tanpa merasa berat sedikit pun segera kulangkahkan kaki dan kuluncurkan diri ke tempat tugas seperti biasanya. Dalam riuhnya perjalanan, tiba-tiba melintas sekelebat gagasan tentang persahabatan. Sebelum melesat hilang, segera saja kutangkap untuk kujadikan secabik goresan.
Sahabat bukan tentang siapa yang telah lama kamu kenal tapi tentang siapa yang menghampiri hidupmu dan tidak pernah meninggalkanmu dalam situasi dan kondisi seburuk apa pun. (id.berita **(censored)** (26/05/2021))
Mengutip kata-kata bijak yang kutemukan di laman tersebut, maka dapat kumaknai bahwa sosok sahabat adalah pribadi yang idealnya dapat membersamai kita dalam suka maupun duka. Bukan sebaliknya. Ketika membutuhkan mau mendekat sedangkan saat dibutuhkan justru menghindar dengan berbagai alasan yang dilontarkan tanpa mempertimbangkan perasaan.
Meski tidak ada aturan yang legal dalam menjalin sebuah persahabatan, namun kuyakini bahwa dengan saling memahami dan memaklumi karakter masing-masing akan menjadikan tali persahabatan membuhul semakin erat.
Tak dapat dimungkiri bahwa dalam sebuah jalinan yang telah rekat kadang muncul gesekan demi gesekan tanpa duga. Nah, jika sudah demikian maka kedewasaan dalam menyikapinya mulai teruji. Akankah kita berdebat untuk saling membela diri atau kita memilih untuk sama-sama saling berintrospeksi?
Mengambil cermin untuk mencari sisi-sisi kekurangan yang ada dalam diri sendiri, bagiku akan terasa lebih menenteramkan dan memudahkan untuk memoles ketidaksempurnaan dari pada mencari-cari celah yang hanya akan melukai hati. Bertahan pada prinsip yang dimiliki memang perlu. Namun, bukan berarti bersikukuh mengencangkan pembelaan merupakan pilihan yang membanggakan.
Jika telah berkomitmen untuk bersahabat, maka saling melengkapi dan memaklumi kekurangan yang ada, tentunya dapat meminimalisir tejadinya keretakan hubungan. Ada kalanya, kita memilih diam atau menepi sejenak manakala sumbu perselisihan mulai menghangat. Meski demikian, bukan lantas membenarkan untuk kemudian saling membenci atau mendendam.
Ikhlas dalam menerima segala kelebihan dan kekurangan memang tak semudah ketika lisan mengucapkan. Hanya berpegang pada tali yang telah diulurkan oleh Sang Maha Bijak, insya Allah hati pun dapat terlepas dari rasa yang tak nyaman.
Yakin akan belas kasih yang Allah SWT janjikan pada hamba-hamba-Nya, maka tiada lain hanyalah rida yang pantas untuk diharapkan. Biarlah, ada tilas sketsa sibiran cedera yang sempat tertoreh di ceruk terdalam. Namun, akan segera kuhapus dengan air mata kedamaian. Kan kuingat pula bahwa tabiat masing-masing individu tak dapat dipaksakan untuk mengikuti tabiat orang lain. Setiap pribadi telah membawa egonya sendiri-sendiri. Salam persahabatan.
#petuahdiri
Bilik Senyap, 15-03-2022
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
