Robingah, S.Pd.SD

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
PRETENSIUS
Sumber gambar: pixabay.com

PRETENSIUS

PRETENSIUS

Oleh: Ruby

Di sini, pagiku tak seperti biasanya. Bersama semilir angin nan lalu, fajar menghampiriku dengan gelagat yang sangat memesona. Pijar mentari dihantarkannya untuk tidak membiarkan diri ini terperangkap gigil yang berlarut-larut.

Aku tersenyum bahagia. Beberapa hari, raga yang sempat terjeda dalam menuntaskan kesemestiannya, di pangkal hari ternyata masih mampu untuk bangkit dan bergerak sesuai fitrahnya. Apalagi saat kusingkap tirai jendela, pendaran cahya sang surya hadir begitu cerlang menawarkan gelora. Sontak, binar di hatiku menyemburat tanpa harus menunggu isyarat.

Perlahan-lahan, kulangkahkan kaki menuju serambi belakang. Lalu, kusapu pandangan ke lengkung cakrawala yang menaungi hamparan perkampungan. Rupanya, awan kelabu yang senantiasa menyamarkan penglihatan tampak bersungguh-sungguh merelakan diri untuk menepi. 

Walau kutahu bahwa beningnya cuaca tak mesti selamanya menjelma, namun pada bilangan awal di pusaran purnama ini, aku benar-benar merasakan sebuah keistimewaan. Tetesan-tetesan air mata angkasa sudah tertangkap mulai mereda. Tanah-tanah yang berbencah pun berangsur-angsur melesapkan uap airnya. 

Mencermati jumantara yang terang benderang, pada akhirnya aku segera bergegas dan tak merasa malas untuk menunaikan segala tugas. Rutinitas keseharian yang telah menjadi tanggungan memang tidak selayaknya untuk diabaikan.

Dua puluh dua derajat dalam skala Celcius, selama ini memang sering melingkupi area di bilik kesibukanku. Itu sebabnya tubuhku tak mampu menjauh dari balutan blazer kesayangan. Namun, di awal purnama ketiga ini tersua nyata jikalau bumantara menyuguhkan kehangatan dan aura yang gemilang.

Hijaunya daun-daun di pekarangan yang kerap meliuk ke sana ke mari pun tak ketinggalan turut membingkiskan kesejukan. Hawa murni yang terbebas dari polutan, benar-benar menghadirkan gairah untuk terus berpacu dalam menebar biji-biji kemaslahatan.

Sungguh, tak terbantahkan sedikit pun tentang anugerah terindah di musim ini. Lalu, masih pantaskah jika keping hati berlari untuk mengingkari segala kasih sayang-Nya yang tak tertandingi?

Semoga dalam perenungan sepintas ini, jiwaku tetap tercerahkan oleh ayat-ayat semesta yang selalu mengemuka di depan mata. Birunya langit yang nirmala, sungguh memantulkan semarak untuk terus berpacu dalam mewujudkan segala impian. Salam literasi.

#petuahdiri

Bilik Senyap, **(censored)**

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post