Solidaritas Semalam
SOLIDARITAS SEMALAM
Oleh: Ruby
Fokus dengan olah diksi untuk bahan kurasi pada event antologi bersama di bengkel kata, ternyata membuatku ketinggalan kereta warta. Malam, usai menorehkan goresan-goresan ala kadarnya ternyata aku baru tahu kalau blog gurusiana ngambek lagi alias sedang tidak baik-baik saja. Spontan aku pun klak-klik berulang kali. Alhasil, pintu gerbangnya tetap terkunci.
Menghadapi kondisi yang sering seperti itu, sebenarnya aku tidak ingin terlalu memikirkannya. Namun, mendapati nasib banyak teman yang mengalami hal serupa, akhirnya sejenak aku merasa iba. Aku pun mencoba dengan gerak cepat sesuai anjuran salah satu teman. Lega rasanya ketika muncul OK pertanda sukses dalam menayangkan tulisan. Lalu, bagaimana dengan teman-teman lainnya?
Namanya sebuah tantangan. Pasti perlu komitmen dan kesabaran di kala terjadi kendala. Entah itu terjadi karena tersebab oleh faktor dari dalam diri sendiri atau sistem yang sering membuat panik para gurusianer peserta menulis 365 hari tanpa jeda.
Jika hambatan terjadi karena kelalaian diri sendiri, itu bisa segera untuk berintrospeksi. Lantas, ketika para gerilyawan literasi sudah bersiap diri dengan unggahannya tetapi sistem tetap membungkam diri, tidak merespon ketuk-ketuk pintu dari sekian banyak kontributor yang begitu semangat untuk saling berbagi karya, adakah kebijakan dari sang raja?
Ya, kesalahan memang tidak mutlak dari tangan peserta. Bukankah batas akhir pengiriman tiap harinya satu menit sebelum jarum jam berpindah angka? Meski ungkapan kehebohanku bersama teman-teman lama berhasil tayang di sana, akan tetapi hati ini serasa tersembilu ketika tahu beberapa teman terpaksa harus gugur gegara tak lolos menembus pintu siana.
Atas dasar rasa solidaritas malam, hasrat hati ingin memberikan bantuan kepada teman senasib seperjuangan. Apalah daya, rupanya siana hanya menyahut dengan kata maaf saja saat disapa. Jikalau ia sedang letih, alangkah bijaknya ketika sang raja dan para punggawanya bersepakat untuk membisikkan angin segar tentang kemurahan hatinya sehingga tidak terdengar lagi teriakan terjun bebas di malam hari.
Sebuah tantangan memang perlu syarat dan ketentuan. Sehari semalam juga telah tersedia waktu 24 jam. Bukankah banyak pula kesibukan lain yang turut serta harus diselesaikan di samping rutinitas setor untaian dalam tantangan? Semoga hari-hari berikutnya tidak terjadi lagi hal serupa yang memengaruhi semangat berjibaku untuk melanggengkan jemari dalam menyuratkan berbagai gagasan.
Bilik Senyap, **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan