Tidak Cukup Satu Kali
Tidak Cukup Satu Kali
Oleh: Ruby
Memiliki kegemaran menulis ternyata menyenangkan juga. Banyak hal dapat dituangkan sebagai ide untuk dikembangkan menjadi alur sebuah gubahan. Baik fiksi maupun nonfiksi saya coba untuk menuliskannya.
Ketika sebuah ide muncul maka tidak perlu menunda untuk segera mengurainya menjadi paragraf-paragraf yang padu. Biasanya, saya tulis dulu apa adanya dalam sebuah catatan. Ya, tentu saja sebagai antisipasi agar sebelum gagasan menghilang setidaknya buram goresan sudah tertuangkan.
Setelah selesai, kemudian dibaca ulang. Hal ini dilakukan sebagai penyuntingan. Tidak dimungkiri bahwa untuk menghasilkan sebuah tulisan yang mudah dicerna memang perlu kejelian dalam pemilihan kata, tanda baca, dan penyusunan alur yang dikemas dengan menarik.
Walau sudah diswasunting kadang-kadang gagasan yang diuraukan masih saja ada ketidaksesuaian dengan kelayakan. Itu artinya masih perlu dilakukan perbaikan kembali. Maka, dapat dimungkinkan tidak hanya cukup sekali atau dua kali. Boleh jadi lebih dari itu.
Sebagai penulis yang ingin menghadirkan karya yang mampu menyampaikan pesan dengan efektif maka saya tidak perlu merasa bosan mana kala harus berulang-ulang melakukan revisi. Salam literasi.
Lumajang, **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan