NASIB YANG MALANG
"Haruskah, saya menangis? Mestikah saya menyesali nasib, Buk?" tanyanya penuh keraguan.
Tenggorokaku mendadak kering. Napas terasa sesak, melihat keadaan rumahnya, yang sudah tak layak lagi untuk dihuni. Kami hanya menggelengkan kepala.
"Sabar, Leni. Allah lagi memberikan ujian, agar Leni dinaikkan derajatnya melalui pintu kesabaran," ucapku nelangsa sambil mengusap-usap punggungnya. Air mata berlinang, seperti awan mengandung hujan yang hendak runtuh.
"Saat kejadian, banjir datang, Leni dan anak-anak mengungsi ke mana?" tanya salah seorang guru.
"Sore itu, Leni dengan ke-empat anak-anak ini pergi ke Panti, tempat kedua kakaknya diasuh. Sire itu hujan memang sudah turun juga. Kami memang sudah berencana juga hendak menginap di sana," lanjutnya sambil memandang jauh.
"Jadi Leni tak berada di rumah saat kejadian?" tanya kami lagi. Begitu cara Allah menyelamatkan hamba-Nya dari musibah.
"Benar, Buk. Kami tak tahu, sedahsyat itu banjir datang. Dinding-dinding rumah kami hanyut. Kompor dan peralatan memasak semuanya hanyut. Kasur, baju dan tikar, semuanya terendam banjir," ucapnya pasrah.
"Ya.. Allah. Sedihnya?'
Lubuk Alung, 30 Januari 2022
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
